Rabu, 30 Januari 2013

Hari ke-27: Favoriefilm

Jakarta, 30 Januari 2013,

film n 1 selaput tipis yg dibuat dr seluloid untuk tempat gambar negatif (yg akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yg akan dimainkan dl bioskop): gulungan -- yg disita itu berisi cerita sadisme; 2 lakon (cerita) gambar hidup: malam itu ia hendak menonton sebuah -- komedi; (sumber: KBBI)

Jika ditanya, sejak kapankah saya senang menonton film, maka saya akan menjawab, sejak televisi menayangkan Postman Pat, kisah pak pos baik hati yang dikemas dalam bentuk stop motion dan beredarnya kartun "Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe", yang kini ditayangkan kembali di layar lebar.

Dahulu, ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, saya akan cemberut seharian kalau rekaman film-film tersebut tak tersedia sepulang sekolah. Tipikal anak bungsu banget yah, egois. Hehehe. But anyway, saya sadar sejak saat itu lah saya tergila-gila pada film.

Lantas, hobi - yang juga sejalan dengan membaca dan mendengar musik - ini terbawa hingga saya dewasa. Sampai akhirnya, saya sempat mengikuti sebuah ekstra kulikuler movie maker ketika beranjak SMA. Well, saat itu sih posisi terbaik saya sebagai scriptwriter.

Anyway, sejauh saya menikmati film sejak belia, terdapat beberapa list film yang termasuk ke dalam film-film favorit saya, di mana sampai detik ini, saya nggak pernah bosan menontonnya, walau telah diputar berulang kali. Berikut adalah uraian tentang film-film tersebut. Enjoy!

1. Saint Seiya


Saya memulai film favorit sepanjang masa dengan film kartun bertajuk "Saint Seiya". Jika kebanyakan anak perempuan menghabiskan masa kecilnya dengan menonton "Candy-Candy", maka saya lebih sering mengikuti perjalanan lima orang pelindung titisan Dewi Athena, yang terdiri atas Pegasus Seiya, Dragon Shiryu, Cygnus Hyoga, Andromeda Shun dan Phoenix Ikki. 

Film kartun berseri ini banyak mengadaptasi tokoh-tokoh serta lokasi di Mitologi Yunani dan nama konstelasi bintang di angkasa raya. Tak heran bila kemudian, Yunani menjadi salah satu destinasi vakansi yang saya impikan semenjak masih bocah ingusan. 

FYI,  Hyoga - sang jubah angsa berambut emas - adalah first love yang membuat mata saya tercengang, dan bercokol di memori hingga detik ini. Sedikit absurd sih, cinta pertama saya adalah tokoh kartun! By the way, Saint Seiya ini kartun yang oke sekali, utamanya bagi para pecinta mitologi. 

2. Eternal Sunshine of The Spotless Mind


Adakah yang pernah punya keinginan menghapuskan memori tentang seseorang, sebersih-bersihnya, dari isi kepala? Hingga akhirnya, sosok tersebut seolah-olah hilang dari pojok ingatan. Seakan tidak pernah ada. Jika ada yang merasa senasib, hanya ada dua pesan saya ketika menonton film garapan Michel Gondry ini: siapkan hati dan jauhkan barang-barang tajam dari jangkauan.

Film ini berkisah tentang seorang Joel Barrish (Jim Carey), yang merupakan pria super biasa nan pendiam, yang bertemu dengan Clementine Kruczynski (Kate Winslet). Bermula dari dua orang asing yang tak saling kenal, akhirnya Joel dan Clementine menjadi sepasang kekasih dengan kisah romantis sekaligus tidak biasa.

Namun, suatu ketika, pasangan ini pun bertengkar hebat, hingga Clementine merasa sakit hati. Dan entah kenapa, di keesokan harinya, Clementine bertindak seolah tidak ingat apa-apa tentang Joel. Otomatis, hal ini mendatangkan luka bagi Joel, yang sangat amat into her. Tak seberapa lama, Joel pun menemukan perusahaan bernama Lacuna.Inc, yang melayani jasa menghapus memori. Dari sana lah, kisah nyesek ini dimulai.

Pada permulaan film ini, jangan mengharapkan akting Jim Carrey yang mengundang tawa seperti biasanya. Dia berubah 180derajat menjadi pria kaku dan depresif. Dan, satu pesan lagi ketika menonton film Michel Gondry adalah: perhatikan setiap scene secara mendetil. Jangan cepat menyerah ketika tidak mengerti alurnya. Karena absurd dan pola pikir out of the box merupakan salah satu kelebihan film-film garapan pria Perancis ini.

Saya menyukai setiap pesan yang tersirat dari film ini. Implisit. Bukan tergambar secara langsung. Ya, memori - mau sebaik atau seburuk apapun itu - adalah buku terluar biasa yang dimiliki manusia. So, just don't loose it OK? Don't ever try to erase it.

3. How I Met Your Mother



Menggemari film serial semacam Friends, That's 70 Show dan beberapa sitkom lainnya? Yeoup, selepas tahun 2005, sedikit demi sedikit serial "How I Met Your Mother" ini mulai menggenggam hati para penontonnya, termasuk saya. Meskipun serial yang mengangkat kisah sehari-hari beserta ketololannya yang senantiasa merajai ini belum mencapai tahap rampung, tapi saya tidak bosan menontonnya, bahkan sering pula mengulangnya.

Film ini menceritakan lima orang sahabat yang tinggal di sudut kota New York, yaitu Ted Mosby (Josh Radnor), Marshal Erikssen (Jason Segel), Lily Aldrin (Alyson Hannigan), Robin Scherbatsky (Cobie Smulders) dan Barney Stinson (Neil Patrick Harris) dengan karakter kuat yang membangun isi cerita yang memorable pula. Kisah utamanya berpusat pada pencarian "The One" oleh Ted Mosby, seorang arsitek muda, cerdas dan charming. 

Pesan saya, jika ingin menonton film seri ini antara lain: jangan lupa bawa penganan ringan dan catatan kecil di genggaman. Why oh why? Karena konten film "How I Met Your Mother" ini selalu mengeluarkan quotes sakti yang bisa membuat lidah berkata: "ya ampun, ini sih gue banget!". Nggak cuma dari kehidupan romansa saja, "How I Met Your Mother" juga bisa mengundang sentimentil dari berbagai sisi. Recommended to be watched!

4. Tokyo



Mengaku pecinta film-film absurd penuh filosofi dan tidak cheesy? Coba tonton film yang berlokasi di Tokyo, ibukota di Jepang ini. Tiga sutradara - Michel Gondry, Leos Carax dan Boong Joon-Ho menghadirkan kisahnya masing-masing, dan mengemasnya dalam satu tajuk film yang sama: Tokyo. Di dalamnya, terdapat tiga cerita yang berbeda pula, yaitu Interior Design, Merde dan Shaking Tokyo.

Cuma dua kata yang bisa keluar dari mulut saya ketika menonton film ini: absurd dan super absurd. Yeps, jangan mengharapkan kisah-kisah romansa picisan saat menyaksikan Tokyo, karena yang akan hadir di sana adalah sosok perempuan berubah jadi kursi kayu; pria gila dari bawah tanah yang meneror seisi warga kota; serta lelaki yang tak pernah keluar rumah barang sedikit pun.

Satu cerita favorit saya adalah cerita terakhir, Shaking Tokyo, yang menjadi penutup klimaks dari film ini. Berbeda dengan dua cerita lainnya yang lebih mengusung kesenduan dan teror, Shaking Tokyo memiliki unsur manis yang tersirat dari setiap scene-nya. Tetapi, seperti yang saya bilang tadi, bukan roman standar pada umumnya, tapi mengandung beribu makna implisit di dalamnya.

5. Novel Tanpa Huruf "R"



Baru tertarik menonton film Indonesia sekarang-sekarang? Coba berputar lagi ke tahun-tahun lampau, salah satunya film yang hadir di tahun 2003-2004 lalu. Intip satu judul ini, untuk dijadikan koleksi: Novel Tanpa Huruf R. Ya, film garapan Aria Kusumadewa ini merupakan film yang telah berusia 10 tahun, tapi cukup memiliki tempat dalam pojok memori saya, karena isi ceritanya yang out of the box, kala itu.

Menceritakan tentang Drum (Agastya Kandou), seorang jurnalis kriminal yang selalu dikelilingi oleh kasus kekerasan, pembantaian dan pembunuhan yang mengerikan. Masa lalunya pun begitu keras, meskipun akhirnya dia menjadi seorang wartawan dengan tulisan cheesy yang hanya ingin menarik minat masyarakat saja. Yes, in fact, kekerasan seakan menjadi konsumsi publik sehari-hari. Bahasa brutal laris di pasaran.

Lalu, Drum disadarkan oleh kedatangan Air Sunyi (Lola Amaria), mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengadakan penelitian terhadap karya-karya Drum. Namun, sifat Air Sunyi yang kritis membuatnya disekap dalam rumah Drum yang berada di tepi pantai. Di sana lah, Drum terlibat sebuah konflik diri dan hati, yang dipacu oleh ucapan-ucapan Air Sunyi.

Saya jadi ingat, dahulu film seperti ini susah sekali masuk bioskop mall. Alhasil, saya menontonnya di Gedung AACC (Asia Africa Culture Center) yang kini telah berganti nama jadi New Majestic di Braga, Bandung. Yes, film independen semacam ini memang selalu menghadirkan nyawa baru dalam perfilman tanah air, utamanya kala itu, film semacam ini masih bersifat tabu, karena mengangkat realitas kota.

Pesan saya: lebih baik bawa air mineral atau minuman manis yang dingin untuk menemani waktu menonton kali ini, karena dijamin, bila membawa makanan ringan, kamu bisa mual-mual menonton film ini, mengingat banyak kekerasan terjadi di sana.

--------------------------------------------------

Lima film ini sudah menggenggam peran lebih dalam ingatan saya. Berjajar dalam papan posisi teratas, sebagai film-film favorit saya sepanjang masa.

Lantas, bagaimana dengan kalian? Any recommended movies, then?

-penceritahujan-

5 komentar:

  1. Eternal Sunshine of Spotless Mind, Science of Sleep, Be Kind Rewind, Human Nature (waiting list tontonan), The Green Hornet (waiting list juga).

    Hail to Gondry! :D Gw suka Science of Sleep banget banget banget, hoho! Ca'em banget deh emang film-filmnya.

    Btw, suka film-filmnya Spike Jonze juga ngga? Being John Malkovich, Adaptation, Where The Wild Things Are, I'm Here. Semuanya juga baguuus!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaah, Spike Jonze baru nonton yang Where The Wild Things Are doaaang, wajib nontooon juga yah film2nya diaa?

      Awesome Gondry!! :)

      Hapus
  2. Terima Kasih sebanyak-banyaknya buat Neng Candella Sardjito telah memperkenalkan saya dan teman-teman pada sosok Ted Mosby, Lily, Robin Scherbatsky & Barney Stinson... terimakasih 4 season series yang bikin cekakakan, yang bikin kita2 download seri itu sampe sekarang :D

    BalasHapus