Rabu, 30 Januari 2013

Hari ke-26: Post Modern Relationship

Jakarta, 30 Januari 2013,

Bukan malaikat. Bukan penyelamat. Bukan tokoh suci. Bukan orang yang mengada-ada akan setia menemani. Bukan pula wajah yang mengumbar senyum imitasi.

Bukan hiperbola romansa. Bukan drama yang direka-reka. Bukan makan malam manis ditemani temaram cahaya. Bukan kisah pangeran berkuda. Bukan cerita puteri berupa sempurna. Bukan dongeng yang berharap jadi nyata.

Bukan pengejar kuantitas. Bukan pengikat berbekal otoritas. Bukan proteksi berakibat depresi. Bukan pula pengekang berlandaskan status relasi.

Bahkan, bukan pengucap rindu. Bukan ekspositas diksi cinta.

Cuma menghapus air mata. Cuma meretas duka. Cuma mengompres luka. Cuma memberi ceria. Cuma pembuat lupa.

Lantas, entah sejak kapan, tetiba bertransformasi.

Menjadi udara panas yang menyembul. Menjadi sel darah merah yang berkumpul. Menjadi obrolan yang mengundang tawa. Menjadi candaan biasa yang membuat bahagia. Menjadi percakapan acak yang menghuni memori.

Dan, dengan ketidaksengajaan pertemuan jari, berujung rasa tanpa definisi. Yang tak bisa diberi label. Tak bisa dilafalkan. Tak bisa diberi deskripsi.

Ya, itu kita.
Itu saya.
Itu kamu.

Sederhana.

Once upon a time, when the sky was covered with blue,
once upon a time, when the sun was smiling too.
We're just common people with an ordinary look.
We're just common people with an ordinary love.
And once upon a time, when I fell in love with you...

#nowplaying Mocca - Once Upon a Time

:)

-penceritahujan-

2 komentar: