Kamis, 17 Januari 2013

Hari ke-16: Tentang Petir

Jakarta, 17 Januari 2013,

Seorang anak perempuan berlari, menutup sepasang telinganya dengan kedua tangan kecilnya. Suara menggelegar itu bahkan bisa menembus kulit dan tulang belulang sang anak tadi, tetap membandel menembus hingga ke gendang telinga, meskipun terdengar agak samar. "Mama, aku takut!" ujarnya merengek.

Nama si pencipta suara bandel nan berisik ini adalah: Petir.

Karakternya sederhana saja. Petir cuma anak lincah yang senang bernyanyi, meskipun suaranya sumbang bukan main. Bahkan, terkesan parau. Serak-serak basah.

Petir merupakan salah satu anak Keluarga Kumulonimbus, keluarga akumulasi awan dan hujan yang konon lahir dari ketidakstabilan atmosfer. Tak heran, bila terkadang, Petir sering emosional. Bukannya pemarah, sih, tapi Petir hanya sulit mengendalikan diri, ketika bermain ke bumi, ketika tengah bergembira dan saat sedang bernyanyi.

Suaranya kencang nan nyaring, memekakkan telinga manusia.Sering pula, ia adu lari dengan sesamanya. Saking cepatnya, Petir sulit mengerem pergerakannya sendiri, mengeluarkan cahaya, dan bisa membentur bumi dengan hebatnya.

Padahal Petir datang, cuma ingin bersenandung hujan.

Sayangnya, kata "merdu" yang ada di pikirannya, jauh berbeda dengan "merdu" dalam telinga manusia.

Petir pun jadi sosok yang ditakuti, dijauhi, dihindari, disegani. Bahkan, dalam beberapa mitologi, petir seringkali menjadi senjata para dewa tertinggi, seperti Dewa Zeus dalam Mitologi Yunani, Thor dalam kisah Nordik dan Seth pada legenda Mesir.

By the way, seperti apa bentuk tubuh petir yang sebenarnya? Karena selama ini, petir hanya berlindung di balik jubah cahayanya, yang tercipta dari kecepatan adu lari dia ke muka bumi.

Petir itu, ibarat anak mau merantau ke dunia lain, lahir dari pelepasan muatan "pesan" berupa listrik dari Keluarga Kumulonimbus. Seluruh ruas tubuhnya mengandung daya elektrik yang besar. Tak heran bila kastanya pun dianggap tinggi, melebihi hujan ataupun pelangi.

Dan tak heran, bila petir - seperti yang sudah saya bilang - disegani, ditakuti, dihindari.

"Tapi kan saya cuma ingin bermain," ujar Petir sembari lemas.

Lalu, hujan pun mulai menyurut, dan Petir berjalan gontai, tanpa bersenandung satu lirik pun. Petir tengah bersedih. Semua orang menutup telinga saat dia sedang mengadakan konser tunggal di seluruh dunia. Suaranya memang semenakutkan itu. Seberisik itukah? Pikirnya.

Otomatis, Petir kecewa level lima.

Lalu, Petir beranjak pulang ke peraduannya, dijemput oleh Gerimis dan samar-samar matahari hangat yang menyapanya.

Petir masih sangat kecewa. Ya. Level lima.

Jangan sedih, Petir! Kamu masih punya konser Metal yang mau menampung suara serakmu itu. Tetap bernyanyi ya! Itu tandanya, dunia masih ada. Bumi masih bernyawa. Semesta masih menunjukkan eksistensinya. 

:) 

#nowplaying Suara Petir di Lantai Lima

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar