Sabtu, 12 Januari 2013

Hari ke-10: Fjölskylda | Familie | Kulawarga

Bandung, 13 Januari 2013,


ke·lu·ar·ga n 1 ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah: seluruh -- 2 orang seisi rumah yg menjadi tanggungan; batih: 3 (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat:  4 satuan kekerabatan yg sangat mendasar dl masyarakat; (sumber: KBBI)

Bagi manusia, keluarga mungkin berarti sebagai sekelompok orang yang memiliki kandungan darah sama, atau terikat karena hubungan-hubungan tertentu yang diresmikan oleh KUA. Ayah, ibu, anak, sepupu, oom, tante, bibi, paman, eyang, nenek, kakek, cucu, cicit, dan sebagainya.

Namun, seberapa "keluarga" kah sebuah ikatan keluarga, sebenarnya?

Apakah ikatan ini hanya berlaku ketika acara kelahiran, pernikahan, kematian dan pembagian warisan? Apakah label ini penting, saat kenyamanan relasi hanya sebuah wacana? Saat kasak-kusuk gunjingan antar satu sama lain masih kental terasa? Saat eksistensi senyum hanya datang karena terpaksa? Saat 'eh si ini kan gitu', atau 'si itu kan gini', masih mendominasi perbincangan di belakang ranah diksi "keluarga"?

Memang, definisi dibuat hanya berdasarkan teori. Dan teori, akan sekadar menjadi kalimat yang dihapal, dilafalkan, tapi tidak dilakukan. Menguap sia-sia di telinga.

Lantas apa gunanya keluarga kalau malah jadinya memecah belah, seperti kehidupan di sinetron dan opera sabun? Dangkal. Receh. Picisan. Murah. Name would just gonna be a name, that's all.

Semoga kelak, definisi "keluarga" segera diganti dalam kamus pikiran manusia, menjadi:

Keluarga adalah satuan kekerabatan masyarakat yang tak hanya memiliki ikatan darah dan terkait oleh status pernikahan, tetapi juga memiliki hubungan hati

Kenapa?

Karena rasanya, nggak mungkin seorang manusia ingin menyakiti hatinya sendiri bukan?

Harta yang paling berharga, adalah keluarga, demikian penuturan dalam lirik lagu pembuka "Keluarga Cemara" - film seri Indonesia tahun 1990an yang mengusung tema keluarga. Dan, saya yakin, ranah "keluarga" yang dimaksud di sini adalah ikatan yang menggunakan hati, bukan hanya terjadi karena hubungan darah semata. 

Sederhana.

Anyway, I miss my family.
 
 -penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar