Jumat, 25 Januari 2013

Hari ke-24: Konspirasi Memori

Jakarta, masih 25 Januari 2013,

Diksi "konspirasi" memang tengah merebak di dimensi nyata maupun bagi kalangan peselancar dunia maya. Biasanya, kosa kata "konspirasi" dikaitkan dengan kasus kejahatan politik, korupsi, bahkan hingga kekuasaan dunia yang konon sedang digenggam oleh sebuah aliran kepercayaan.

Kesannya berat banget ya?

Tapi, over all, semua itu berasal dari luar diri kita, bukan? Setidaknya, kita belum merasakan efeknya secara langsung, pikiran kita belum tercuci sepenuhnya oleh simbol-simbol segitiga dan mata satu, meskipun konon salah satu musisi kesukaan saya juga merupakan anggota dari organisasi "penguasa" tersebut.

Anyway, saya nggak akan bercerita tentang konspirasi yang berat-berat deh di sini. Saya cuma ingin membahas sebuah padanan kata: konspirasi memori. 

Jangan salah menganggap bahwa konspirasi memori ini selalu bersifat manis, berbunga-bunga, dengan latar warna pastel di belakangnya. Jangan selalu mengira bahwa konspirasi memori senantiasa menghadirkan semiotika terpendam di baliknya.

Konspirasi memori itu jahat, lebih jahat dari ibu kota, yang sebenarnya tak mungkin sejahat itu. Konspirasi memori itu licik, lebih licik dari ibu tiri, pun sebenarnya tak pernah selicik itu.

Lantas, kenapa konspirasi memori itu jahat? Mengapa ia licik?

Ya. Memori dalam otak seperti menebar bisik pada alam sekitar, mengingat ia paling tahu seluruh rahasia yang saya simpan selama ini. Seluruh "buku" yang sengaja saya simpan di tumpukan terbawah pojok ingatan. Ia mengobrak-abriknya lagi, ingin bangkit di etalase teratas, dan memanjat buku-buku itu satu per satu.

Mungkin dia mendendam, kenapa telah diletakkan di tumpukan terbawah. Seakan barang rongsokan. Seakan sampah terbuang.

Bukannya nggak mau, cuma nggak bisa sakit lagi. Nggak bisa terluka lagi, batin saya menggumam.

Tapi, dia tetap tak mendengarnya. Memori berusaha menembus perisai yang berada di gerbang gudang rasa bernama "hati". Ia tetap tak bisa. Saya nggak mau sakit lagi, demikian pesan saya, sebelum menutup pintu gerbang itu perlahan.

Memori tak lantas menyerah. Ia menyeruak keluar lewat telinga, lubang hidung dan mata. Memaksa irama-irama penyentuh kenangan berputar di sekeliling gendang telinga, aroma penghadir cerita berjalan-jalan di sekitar lubang hidung, nama-nama alfabetikal berjalan nakal di depan mata.

Memori memengaruhi panca indra untuk mendukungnya menerobos gerbang gudang rasa tersebut. Otomatis, mereka terbius dengan suksesnya. Terperdaya mentah-mentah.

Ini konspirasi! Jelas-jelas konspirasi!

Saya nggak mau sakit lagi, Memori. Cukup sampai di sini! Cukup sampai di...sini...

Berbekal ribuan pasukan syaraf yang terhubung dari panca indra, Memori berdiri di depan gerbang "hati", berwajah penuh keyakinan bahwa ia akan menang, lantas memukul ringan pintu tersebut hingga akhirnya retak dan pecah berkeping-keping.

Memori... saya cuma nggak mau sakit lagi. 

Dan, memori bertemu hati, adalah bentuk konspirasi terjahat yang pernah ada di muka bumi.


When shadows fall I pass a small cafe where we would dance at night
And I can't help recalling how it felt to kiss and hold you tight.

How can I forget you go
When there is always something there to remind me? 
Always something there to remind me 


#np Sandie Shaw - (There's) Always Something There to Remind Me 


-penceritahujan-

1 komentar:

  1. zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus