Sabtu, 19 Januari 2013

Hari ke-19: Tiba-tiba Kerontjong

Bandung, 20 Januari 2013,

Jarum jam sudah menunjuk ke arah angka dua. Sudah siang menjelang sore, waktu yang tepat untuk bersantai dan merasakan hembusan angin sepoi-sepoi. Terlebih lagi menikmati suasana rumah yang nggak ada duanya, merupakan salah satu momen favorit saya setiap hari Minggu tiba.  

Otomatis, musik pendamai hati pun dibutuhkan sebagai soundtrack siang ini.

Heran-herannya, tetiba saya memilih sebuah nada yang didominasi instrumen ukulele untuk mengisi waktu istirahat saya. Irama-irama tersebut biasa disebut dengan musik keroncong.

Menjauhi modernitas dan efek globalisasi, memang, mengingat saya kurang menyukai lagu-lagu Top 40 radio, yang banyak didominasi oleh Katy Perry, Lady Gaga ataupun Adelle. Bukan berarti mereka adalah musisi yang buruk. Wanita-wanita tersebut memiliki vokal menakjubkan serta gaya panggung yang sangat khas, tapi, yah, just not my style aja sih. Sederhana.

Virus "Tiba-tiba Kerontjong" ini bermula karena Sang Ayah memperlihatkan video youtube sebuah grup musik bertajuk: Krontjong Toegoe.

Sebenarnya, pada sejarahnya, keroncong Tugu merupakan bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon, yang menghuni Kampung Tugu, Jakarta Utara, lalu berkembang ke arah selatan Kemayoran serta Gambir, lantas berpadu dengan Tanjidor pada tahun 1880-1920. Setelah itu, hingga tahun 1960, set orkes keroncong Tugu berpindah ke Solo, beradaptasi dengan irama lambat khas Jawa.

Nggak salah lagi, musik keroncong memang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, pun asalnya berakar dari musik Fado dari Portugis yang masuk ke Nusantara sejak abad ke-16, lantas berakulturasi dengan irama-irama lokal khas Indonesia.

Pantas saja, saat mendengar komposisi super-adem dari alat musik ukulele, cello, gitar akustik, flute, dan kontrabass ini, saya seperti dibawa pada nuansa lokalitas, penuh dengan tayangan sephia bertajuk masa lalu, serta rindu kampung halaman Ayah, yang berada di pertengahan Pulau Jawa, tepatnya berlokasi dekat dengan Yogyakarta.

Membuat saya menggali lagi ingatan saya akan rumah-rumah khas Jawa, dengan furnitur jengki di sana-sini, serta tegel bermotif yang kerap menghiasi pelosok ruang. Membawa saya ke masa-masa berjalan kaki di antara tenda bakmi Jowo, serta jalanan di Kawasan Indische Yogyakarta yang dipenuhi loji-loji perkasa.

Kesukaan mendadak ini membuktikan bahwa dalam diri saya, mengalir darah Jawa, meskipun logat, bahasa dan gaya bicara lebih mengarah ke tempat saya tinggal selama 20 tahun terakhir ini, yaitu tanah Sunda.

Mendengar irama keroncong, membuat saya selalu ingin pulang ke "rumah". Kampung halaman. Tanah asal.

Masih nggak percaya? Silahkan mendengarnya sendiri.

:)



Ah, gawat! Saya jadi ingin bervakansi ke Solo atau Yogyakarta sekarang juga!

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar