Jumat, 18 Januari 2013

Hari ke-17: Dilema Gerobak

Jakarta, 18 Januari 2013,

Rodanya memang cuma empat. Kalau rodanya satu, jadinya sepeda sirkus. Kalau rodanya sepuluh, jadinya truk tronton. Namanya adalah: Gerobak makanya rodanya empat. Memang ada yang beroda tiga, atau bahkan cuma dua. Tapi Gerobak ini memiliki empat roda.

Baginya, roda tak hanya berfungsi sebagai penggerak. Sebagai kaki. Sebagai alat melangkah dan berpindah. Sebagai penopang badan yang telah berat oleh perangkat barang dagangan. Roda gerobak adalah telinga. Roda Gerobak adalah mata. Apalagi, bagi gerobak-gerobak yang kelak berdiam di satu tempat, bekerja sama dengan tenda jingga ataupun biru muda, yang menjadi payungnya.

Empat mata, empat telinga, sudah lebih dari cukup.

Roda gerobak adalah saksi dengar gunjingan orang-orang. Saksi mata bagi setiap konflik yang terjadi antara satu tetangga dengan tetangga lainnya. Bahkan, jadi saksi dengar dan saksi mata, atas peristiwa yang berganti-ganti, berulang-ulang, dan berkala.

Sampai akhirnya, gerobak bosan, melihat senyum palsu pengunjungnya. Gerobak muak, mendengar kasak-kusuk omongan di belakang, yang tetiba berubah 180 derajat saat bertemu dengan omongan lainnya.

"Manusia nggak bisa dipercaya," ujar Gerobak dalam hati.

Tapi, Gerobak memang serba salah. Dia ingin buta dan ingin tuli, tapi pasti kelak dia tak bisa berjalan. Dia tak bisa melangkah. Tak bisa membantu majikannya untuk mencari sesuap nasi. Lalu, dalam benaknya, sang majikan tercinta akan kelaparan, tak bisa membiayai sekolah putra-putrinya, bahkan akan membiarkan mereka menderita.

Karena, mata dan telinganya, adalah kakinya.

Lalu bagaimana?

Gerobak hanya bisa menjadi gerobak pada umumnya. Berjalan banyak. Mendengar banyak. Melihat banyak. Tanpa berkata, mengeluh atau membantah, barang satu kata pun.

Lantas, Gerobak pura-pura tidak tahu, kalau si A adalah penggunjing, atau si B merupakan hidung belang, atau si C sering bersedih di hadapannya.

Gerobak pun otomatis menjadi apatis

"Manusia nggak bisa dipercaya," batinnya kembali mengeluh. Mengeluh hal yang sama.

Ya, memang. Manusia tak bisa dipercaya, Gerobak!

nb: tulisan ini diciptakan setelah mengunjungi seonggok Gerobak Sate Padang, depan kantor, sembari membicarakan satu dan dua hal bersama seorang kerabat. Maaf ya, Gerobak, menambah-nambah beban hatimu. 

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar