Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

#10 - Janji Purnama


Tepi Rel, 15 September 2011,

Aku menunggunya, di tengah lajur-lajur besi yang sudah usang termakan hujan. Ya. Itu adalah tempat pertemuan kami yang pertama-tepat setahun lalu. Bermandikan aroma tanah selepas gerimis. Berhiaskan sebuah bohlam raksasa di angkasa sana. Berirama lantunan jangkrik sebagai teman sepi. Hanya ada suaraku, dan suaranya.

Tahun ini, aku kembali menantinya. Tidak ada yang salah. Dia pernah berujar suatu kata. Dan, oleh karena itu, brankas hatiku masih menyimpan sebuah rasa bernama rahasia, yang membuatku adiktif untuk selalu mengenangnya. Membenamkan diriku pada sejumlah pecahan bernama memori.

Dia hanya membayar hutang. Melunasi janji yang telah bernyawa selama 365 hari. Dia pernah bercerita tentang sebuah dimensi, yang Tuhan sebut dengan dosa. Dan dia, berjanji mengajakku kesana. Mencampuradukkan adonan rasa dengan blender canggih yang hanya beredar di dunia khayalku.

Hari ini, dia datang kembali, tepat kala sinar bulan purnama menghampiri sekujur tubuhku. Dia datang, seusai gerimis – lagi. Wajahnya sedikit basah. Tapi tetap tampan. Justru bulir-bulir air itu membiaskan cahaya sang bohlam angkasa.

“Suatu saat saya akan datang padamu lagi, Jingga,”

“Suatu saat...?”

“Saat dimensi kita tak lagi mengenal kata dosa,”

“Dan saya selalu menunggu kamu, Purnama, sampai saatnya tiba,”

“Saya tahu, saya selalu tahu,”

Purnama mampir ke Bumi dalam waktu semalam saja, lantas pergi entah kemana. Dan aku tahu, dia tinggal dalam dimensi maya. Dia, seperti malaikat yang menyukai itik buruk rupa. Perpaduan dua dongeng yang tak berkesinambungan. Tapi, itulah nyatanya.

Dia – seorang yang tercipta sempurna – memilih untuk mengubar janji palsu kepadaku yang tak berarti suatu apa. Aku hanya seorang gadis miskin sebatang kara yang tinggal di pinggir rel kereta. Aku memang tak memiliki ibu peri. Cinderella saja memiliki seorang ibu peri. Lantas, apa yang aku miliki? Hanya sebuah khayalan yang melambung tinggi. Harapan kosong yang berbuah senyuman tipis. Aku cuma punya janji Purnama.

Akhirnya, aku melihat Purnama pergi, setelah rerumputan bukit di samping lajur besi memberi waktu untuk kami berpindah dunia menjadi dimensi dosa, lagi dan lagi. Dan dia, berjanji akan datang setahun lagi. 365 hari. Tepat saat Bulan Purnama menapaki batasnya.

Walau aku tahu, janjinya itu imitasi. 

***
Tepi Rel, 16 Desember 2011,

“Jingga, siapa bapaknya?”

“Jingga, lo ngehargain diri lo berapa duit sih?”

“Noh, Si Jingga kan istri simpenannya pejabat noh?”

Cacian sudah berjalan seiring waktu. Sudah tiga bulan aku menyimpan titipan Tuhan dalam perutku ini, oleh-oleh dari dimensi Dosa yang telah kulewati. Tapi, nama Purnama tetap menjadi rahasia. Aku hanya tersenyum menampik semua makian itu. Aku tak akan menjawabnya lewat diksi. Karena ini adalah sebuah kontrak hati yang tidak bisa mati.

Aku hanya seorang gadis miskin sebatang kara yang tinggal di pinggir rel kereta. Aku memang tak memiliki ibu peri. Tapi aku memiliki Tuhan, doa, janji Purnama dan titipanNya.

Halo Purnama Kecil, kamulah yang kutunggu untuk menjadi nyata.

***

Tepi Rel, 18 Juli 2012,

Perutku tak karuan. Seperti sedang digerus oleh gergaji mesin. Aku tak kuat, tapi aku harus kuat. Demi Purnama Kecil, demi Purnama – yang sekarang entah ada dimana.

Kakiku semakin lemas dan bergetar. Tanganku sudah bersimbah darah, tanpa ada satupun yang menemaniku. Hanya makhluk angkasa, batang-batang besi usang dan tikar jerami yang menjadi saksi getirku hari ini. Aku tak tahu, sampai mana batas kekuatanku.

Aku hanya seorang gadis miskin sebatang kara yang tinggal di pinggir rel kereta. Aku memang tak memiliki ibu peri. Tapi Tuhan memberiku harapan dalam bentuk Purnama Kecil, dan aku tidak ingin menyudahi mimpi ini.  Tuhan menggantikan janji Purnama, dengan janjiNya yang pasti.

Tuhan, tolong, jangan sampai mimpiku kali ini terbabat habis, Tuhan. Jangan sampai harapan yang sudah kupendam selama 9 bulan ini menguap kembali. Menjadi sebuah barang imitasi, lagi dan lagi.

Ini bulan Purnama, Tuhan. Harta pertama yang aku miliki, sebelum Purnama, dan titipanMu. Jangan ambil lagi, jangan ambil lagi.

***

Tepi Rel, 15 September 2012,

“Maaf mengganggu, apa Mbak tahu Jingga ada dimana?”

“Jingga? Yang disebut-sebut orang cewek simpanan, maksudnya, Mas?”

“Errr, saya kurang tahu hal itu, tapi pastinya Jingga yang selalu menatap langit di pinggir rel kereta ini, tepat saat bulan purnama tiba. Mbak tahu nggak dia dimana?”

“Udah dua bulan dia enggak ada, Mas,”

“Maksudnya?”

“Dia melahirkan tanpa bidan, terus meninggal soalnya kurang darah, bayinya juga gitu, Mas, meninggal setelah lahir,”

“Bayi?”

“Iya, makanya banyak yang bilang dia istri simpanan pejabat, kayaknya sih bener, Mas,”

“....”

“Mas siapa ya?”

“....”

“Mas?”

“Sa-saya cuma kerabatnya, sesama penikmat angkasa. Nama saya Purnama,”

***


Dibawah sinar bulan purnama
Air laut berkilauan
Berayun-ayun ombak mengalir
Ke pantai senda gurauan

Dibawah sinar bulan purnama
Hati susah jadi senang
Gitar berbunyi riang gembira
Jauh malam dari petang

Beribu bintang bertaburan
Menghiasi langit hijau
Menambah cantik alam dunia
Serta murni pemandangan

Dibawah sinar bulan purnama
Hati sedih tak dirasa
Si Miskinpun yang hidup sengsara
Semalam hidup bersuka

#memutar Chrisye - Di Bawah Sinar Bulan Purnama

-penceritahujan- 

Selasa, 04 September 2012

#2 - Aku Mau Titiran

Jakarta, 4 September 2012,

Bis hari ini begitu sepi. Tak seperti biasa, jejalan manusia seperti bersembunyi. Mungkin makhluk-makhluk ibukota tengah melakukan aktivitas menyepi, takut keluar rumah akibat berjubelnya kriminalitas yang terjadi. Mungkin saja.

Meskipun bis ini kosong, seperti paus raksasa tanpa organ dalam, tetapi, aku berada di sini, di deretan tengah bis berwarna jingga ini. Dan, lucunya, bukan hanya aku, supir, penjaga pintu bis dan tangan kanan Tuhan yang ada di dalam kendaraan besar tersebut. Lelaki itu masih ada di tempat duduk kesayangannya. Jelas berseberangan dengan bangku yang biasa kududuki.

Aku dan lelaki itu masih pada pendirian kami, melakukan kebiasaan sehari-hari. Dia menduduki bangku terpojok di dekat pintu belakang, sedangkan aku masih memiliki deretan tengah sebagai area jajahan rutin.

Aku hafal betul, aktivitasnya masih sama. Menggenggam sebuah buku dengan judul berbeda-beda setiap harinya. Entah berapa jam ia habiskan untuk melumat habis satu gerombolan cerita hingga tuntas.

Kabel earphone putih kumal menjuntai dari arah daun telinganya yang kemerahan. Bahkan dia pun sering bersenandung asyik dalam dimensinya sendiri. Sepertinya dia tak pernah sadar kalau aku mengintipnya diam-diam dari area sayap tengah ini.

Aku biasa memanggilnya Titiran, walau dia tidak pernah tahu aku menyapanya dengan nama itu. Kenapa Titiran? Aku menyukai nama itu. Titiran adalah sejenis spesies burung, seperti Tikukur dan Gagak. Tapi, dia memiliki makna lain, yaitu baling-baling. Terbang, bebas dan lepas.

Lantas, bagaimana arti Titiran dalam ruang lingkup khayalku? Keduanya sama saja. Titiran bagiku, adalah seorang Titiran yang membuat daya imajinasiku melayang bebas, seperti burung dan baling-baling. Dia adalah seseorang dengan nama fiksi yang ambigu, menyisipkan rasa yang tak kalah janggal pula.

Aku memikirkannya ketika aku menginjakkan kaki di depan pintu rumah. Aku melamunkannya dalam dimensi kedua otak yang bernama mimpi. Lalu, apa yang kulakukan ketika tak sengaja bertemu mata dengannya? Lidahku kelu. Aku masih belum ingin menyapanya. Bukan karena malu atau tak berani.Tapi karena sebuah alasan abstrak, yang aku pun belum tahu apakah itu.

Aku pernah bertanya pada sahabatku tentang si kupu-kupu yang kerap menggelitik perutku. Entah kupu-kupu atau burung elang yang ada di dalam sana. Perutku mual setiap melihatnya.

"Fau, pernah nggak kamu diem-diem suka sama orang yang belum kamu kenal sama sekali?"

"Pernah sih, kenapa emangnya?" Fau menjawab asal sembari membaca majalah musik kembali. Dia menganggap tanyaku sebagai angin lalu. Dasar lelaki!

"Hmm, nggak sih, mau tahu aja. Terus abis itu kamu ngapain?"

"Ya, standar, cari tahu namanya, ajak kenalan, minta nomor atau pin BB, kontak-kontak deh. Emang maunya apalagi?"

"Nggak bisa ya kalau nggak harus kenalan?"

"Terus, cuma bisa jadi secret admirer doang? Nggak rame banget lah, cemen, nggak laki."

"Hmm, emang kalau suka sama orang harus kenal, diliatin dan usaha ngedeketin yah?

"Kenapa harus enggak?"

Betul juga sih. Perasaan itu harus pamrih, harus ada balasannya. Setidaknya, harus ada usaha, agar sang penasaran sirna dari permukaan bumi. Tak datang-datang lagi sama sekali.

Kalimat "kenapa harus enggak" itu menggeliat penuh dalam otak. Bangun dari mimpinya yang panjang, memaksaku untuk setidaknya melakukan sesuatu. Aku harus mau berusaha. Paling tidak, untuk tahu namanya saja. Sudah cukup, bukan?

Titiran, sebentar lagi aku akan tahu nama asli kamu. Haruskah, Titiran? Haruskah aku melakukan itu? Haruskah aku mengusirmu sebagai seorang sosok imajiner, menggantinya menjadi sesuatu yang nyata? Haruskah aku berhenti mengagumi diam-diam?

Aku memutuskan untuk berjalan ke arah Titiran - sang pria maya yang akan menuju nyata. Aku rela melawan gerakan bis yang melaju kencang. Saat itu, Tuhan seperti memberiku sebuah pelajaran: waktu adalah barang maya yang relatif.

Namun, waktu tak cukup lama untuk hasrat 'kenapa harus enggak'ku yang hanya berjalan sepersekian detik. Terdengar suara parau setengah berteriak, "Persiapan! Halte Kebayoran Lama, Gandaria City!"

Titiran berdiri, melangkahkan kakinya menuju pintu bis. Titiran tidak turun di halte biasanya. Waktuku ternyata tak cukup banyak. Dan aku tak mau mengulang keganjalan hasrat ini di lain hari. Hanya saat ini, atau tidak sama sekali.

"Maaf mengganggu! Saya Aira, selalu berpapasan denganmu di bis dengan plat yang sama, warna yang sama dan waktu yang nyaris sama dan saya selalu memperhatikanmu sejak lama juga," suaraku  menyeruak ramai tanpa titik koma. Seperti kaset berpita rusak dan lagu distorsi tinggi.


Titiran - maksudku pria itu - kaget untuk beberapa detik. Ia bingung harus melakukan apa, yang berujung dengan senyuman bulan sabit dan sapaan balik. "Hai juga, saya Yoga, terimakasih ya, Aira. Have a nice day!"

Yoga? Jauh dari ekspektasiku. Tak ada nama Titiran tertera dalam diksi 'Yoga'. Yoga memang sebuah aktivitas menenangkan batin, tetapi tak melepaskan diri, tak terbang seperti baling-baling ataupun burung. Dia tidak seperti Titiran.

Aku melihatnya berjalan keluar bis, meninggalkan sedikit luka sesak ketika aku bernapas. Titiran sudah tiada. Dia berganti menjadi Yoga, yang memeluk seorang gadis berperawakan sempurna di luar sana. Dia berubah wujud menjadi Yoga, yang tak lagi menyukai buku-buku sebagai temannya.

Dia tak pernah lagi mencintai sore yang terpatri di luar jendela bis. Ataupun menikmati kemacetan sembari mendengar satu album penuh lagu hujan. Dia itu Yoga, bukan Titiran.

Dan aku? Bagaimana nasibku setelah itu? Air mataku berebutan keluar dari rumahnya. Aku ingin bertemu Titiran, bukan Yoga. Aku ingin bersama Titiran, bukan Yoga. Dan, akibat aku mengedepankan hasrat 'kenapa harus enggak', aku kehilangan bayangan imajiner itu. Aku kehilangan Titiran.

Biarkan yang tak terjangkau, tetap menjadi yang tak terjangkau. Biarkan sosok imajiner, tetap menjadi sebuah bayangan maya. Karena, ketika dia nyata, dia akan menjadi berbeda.

You're my picture on the wall.
You're my vision in the hall,
You're the one I'm talking to,
When I get in from my work,
You are my girl, and you don't even know it,
I am living out the life of a poet,
I am the jester in the ancient courts,
And you're the funny little frog in my throat.

#nowplaying God Help The Girl - Funny Little Frog




-penceritahujan-

Minggu, 02 September 2012

Titiran #1

Menahan perasaan itu sungguh enggak asyik. Seperti menahan hasrat buang angin, demi menjaga kesopanan, menjaga agar orang sekeliling tak menghirup bau busuk hasil sekresi tubuh. Setahan apapun, tetap aja menjadi sebuah penyakit. Enggak ada keren-kerennya sama sekali.

Tapi, bukan seorang aku, kalau melakukan aksi defensif saja tidak bisa. Kalimat-kalimat pembenaran meluncur lancar dari bibirku.

"Titiran? Dia baik-baik aja kok, kita lagi jarang main bareng aja, lagi sibuk," ujarku enteng, ketika salah seorang teman bertanya tentang Titiran.

Ya, Titiran adalah sebuah nama yang menetap dalam hatiku selama hampir 6 bulan ke belakang. Nama yang masih membuatku menyesak dalam. Titiran menjadi sebuah diksi bagi rasa tersembunyi. Luka yang disusupi.

Aku melarikan diri dari perasaan itu, dari gelitik kupu-kupu yang bertuliskan nama Titiran di sayapnya. Aku melangkahkan diri sejauh mungkin. Menyimpannya baik-baik dalam sebuah kotak besi bergembok. Dan ingin membiarkannya mati menjamur di dalam sana, bersatu menjadi abu.

Walau sebenarnya, nama Titiran masih mendominasi slideshow mimpiku tadi malam. Wajah Titiran masih menghiasi bola-bola kapas maya di atas kepala. Suara Titiran masih sering mendengung di telinga.

Tidak ada yang tahu akan eksistensi rasa ini, kecuali aku, Titiran, dan Tuhan. Karena norma. Karena menjaga perasaan. Karena aku, terlibat dalam sebuah kasus bernama status hubungan yang telah lama dibina.

Utamanya, karena Titiran, masih belum bisa melihat aku sebagai seorang aku, barang sedetikpun. Dan Titiran takut sakit. Oleh karena itu, tak masalah aku sakit. Tak masalah aku menjadi seorang penipu. Asal bukan Titiran yang sakit. Asal bukan Titiran yang sedih. Sebuah kalimat klise yang harus merundungiku kali ini: ASAL TITIRAN BAHAGIA.

Ketika aku keluar rumah, aku tampak ceria. Aku menggunakan topengku lagi, topeng dengan senyuman maksimal, serupa dengan bulan sabit terang benderang di langit malam. Aku, meninggalkan semua ketidakseimbangan magnet hati di dalam ruangan penuh privasi, yang hanya bisa dimasuki oleh aku dan Tuhan.

Dan bila kelak Titiran ingin meminta kuncinya, membaca hatiku perlahan - sekali lagi - aku akan memberinya tanpa biaya. Cuma-cuma.

Hatiku pun lirih. Lantas, aku menatap wajah Titiran dalam bayangan maya dan berkata, "Titiran? Masihkah kamu mau mampir kemari?"

                                                                  ***

-penceritahujan-