Minggu, 27 Maret 2011

Dear Blogger Award from Amelia Saga! Yippie!

How long have you been blogging?
August 2010. Haven't reached a year to blogging something actually.

When did the first time you blog?
13th of August 2010, when my life slowly got really bored with a jobless condition, and yet Blog had saved my life. :)


What is your purpose in making blog? 
I love writing and I love story-making since I was in kindergarten, and those stuff around me keep whispering me, to tell their stories to the world. And hope, the readers will love it, and love them just like I do now.

Who inspired you so that your blog becoming like now?
I've got inspired by many bloggers and many people, and one of them is Salamatahari, my favorite writer and blogger. With nice illustrations and also awesome stories about the simple things in life which are being explored deeply, with Indonesian simple and fun words, she's just like a magician that changed those ordinary words become awesome. :) I adore you much Salamatahari!

And now, I'd like to give this Blogger Award to my new friends, who also have an awesome blog, with an amazing ideas inside of them. The question is : WHO? And the answer are ...
- Damar Rakhma , with her blog http://damarakhma.blogspot.com/
- Anne Fitrianggita, with her blog http://iburumahtanggagakadakerjaan.blogspot.com/
- Embun Muda, with her blog http://embunmuda.blogspot.com/
- and always, my adorable creative friend, Dina Rismala, with her blog http://ih-nyala.blogspot.com/


And.. thankyou Amelia Saga, have given this award to me, it's precious, really!
So, see you on next post, clickers! Have a nice day! Don't forget to make The Mother Earth smile! Yippie!!

.penceritahujan.280311.rumahmini.
 

Selasa, 22 Maret 2011

Selalu bahagia pernah kenal sama kalian... *senyuuum*

Tidak Berjudul, Boleh?

Warna biru itu tenang, padahal biru warna api, apakah bisa dipikir dengan nalar?
Manusia tercipta ke bumi, dan mana dulu ayam apa telur? Bisakah kamu menjelaskannya dengan logika?
Ataukah,
Kenapa ada yang namanya pasangan? Jatuh cinta? Benci? Susah payah membela seseorang dengan sepenuh jiwa raga? Ya... gabisa dihitung dengan otak, kawan.

Agama? Surga? Neraka? Alam kubur?
Apa jadinya kalau kita terlampau mengabaikannya?
Apa artinya dunia, kalau akhirnya kita juga bakal kembali ke tanah?
Apa artinya otak, kalau kita ga pake hati?

Hujan pun memakai hati, teman. Hujan pun ga tega membiarkan satu daerah dibanjiri air mata, jika ia tidak kecewa terhadap sang bumi.

.penceritahujan.210311.mmm.

Minggu, 20 Maret 2011

Kenapa Manusia Sombong? Tanya Hujan.


Halo! Saya Hujan, dan rasanya saya ingin mereview seorang - maaf - beberapa sosok manusia dalam kertas tak berbentuk berikut ini. Anggep aja namanya kertas gaib. Dan saya juga yakin, manusia-manusia picik nan busuk tiada tara ini ga akan baca seonggok kertas kusut yang harganya ga lebih dari limaribu rupiah ini. (kaya ada deh harganya)

Percayakah pembaca? Hujan itu membumi, hujan itu seneng main sama tanah dan juga seneng jalan-jalan di langit. Asal kamu seneng sama Hujan, Hujan bakal nemenin kamu kesana kemari, ga kaya seonggok manusia yang harusnya berpijak di tanah, tapi sok-sokan sombong saat tahu ia baru bisa bermain ke udara. Ya, itu manusia. Salah satu sifat manusia yang Hujan benci, sombong. Dan Hujan gapernah mau jadi sosok yang sombong, ga pernah mau. Jangan sampai, jangan sampai.

Apa yang akan terjadi bila suatu ketika Tuhan mentakdirkan Hujan untuk berubah wujud menjadi manusia? Hujan cuma ingin tetap bisa main bareng tanah, cacing, tikus got dan makhluk-makhluk dalam bumi lainnya, tetapi juga tetap bisa berjalan dengan Pelangi, Awan, Petir dan anggota keluarga langit lainnya. Doa Hujan, bila suatu ketika Tuhan bilang Hujan harus berubah jadi manusia.

Oh iya Manusia.... cuma pengen ngasitau, dan memberi sinyal waspada sama kamu (walaupun saya tau, saya cuma berbentuk Hujan, yang kadang ada, kadang tiada, kadang dianggap, kadang dilihat sebagai bencana), Tuhan itu Maha Adil hey Manusia. Kamu sombong karena kamu sedang di atas? Ataukah kamu ga membumi, bersama makhluk-makhluk yang kamu anggap nggak sederajat? Atau kamu sama sekali ga peduli, seperti apa rasanya bersusah-susah di tanah, yang kamu tau cuma menginjak-injak makhluk yang ada di bawahmu, ehm... ralat ralat bung! Bahkan kamu pun ga sadar kalau kamu udah menghantam keras hati mereka. Sabar ya cacing, sabar ya tikus, sabar juga ya kecoak, dan sabar juga tanah. Tuhan Maha Penguasa, dalam sekejap pun bisa aja kalian berubah menjadi makhluk berbudi jauh di atas Sang Manusia yang tak pernah bersyukur ini.

Apa peranan Hujan? Hujan hanya ada, untuk mendamaikan kamu semua, wahai cacing, wahai tikus, wahai kecoak, wahai tanah. Dan Hujan juga membawa pesan langit untuk kamu, yang berkata : baik-baik kalian disana, kawan! Karena apapun yang terjadi, istana langit akan selalu memperhatikanmu dari jauh.

#curahanhatiHujan

.penceritahujan.200311.tinyoffice.

I feel a little bit far from you today, and I hate it.

Kamis, 17 Maret 2011

#CurhatHujan Dua Jam Menyenangkan : Braga City Walk - Jalan Riau

Jalan kaki sendirian menyebalkan? Awalnya sih memang begitu, yang dirasakan sama sesosok manusia yang menamai dirinya #Hujan saat si manusia yang ia sebut #Pelangi itu ga nawarin untuk menjemputnya pulang sama sekali walau cuma sekedar basa-basi aja (mata menyipit dan rasanya pengen ngelempar kulkas ke arah si #Pelangi yang hari itu di mata #Hujan super ABU-ABU!), dan FYI, #Pelangi kan memang malah mengantar sang teman pulang, tapi ga khawatir si pacarnya belum pulang atau gimana lah - ga mengabari sedikit pun sampai esok harinya. *jadi curcol ah euy ieu mah! (mendadak lupa, dilarang curhat di blog ini, tanpa konotasi yang berimbang -> jadi kalo mau curhat harus pake perumpaan, Bung!)

Ya sudah, curhatnya selesai boy, tapi kemudian Si #Hujan yang seorang diri saat itu menemukan esensi dari kesendiriannya melanglang buana dari Jalan Braga hingga berujung di Heritage, Jalan Riau ini.

Esensi apa?

Satu, hari itu Bulan lagi cantiiiik banget, ternyata ga harus berpenampilan utuh dan sempurna terlihat agar ia tampak cantik ya? Cukup dengan menyembunyikan setengah badannya, ia tampak super misterius dengan cahayanya yang gemerlap, bersembunyi di antara awan-awan kelabu di langit malam. Ah, makasih ya Bulaaan, Si #Hujan ga kesepian karena ditemenin Bulan sepanjang perjalanan.

Dua, #Hujan melihat betapa menyenangkannya Kota Bandung di kala matahari terbenam. Ga panas, ga ngos-ngosan, sepi, ga banyak abang-abang yang nongkrong dan godain ga jelas, dan juga saat yang tepat untuk #Hujan curhat sama air matanya yang cukup membasahi muka. Ga ada yang merhatiin, ga ada yang memandang aneh, karena gelap. Kalo kata ERK mah, gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.

Dan tiga, #Hujan mendapatkan berbagai pengalaman tersendiri selama perjalanan penuh kesendiriannya ini. Emang miris sih, saat melihat tubuh-tubuh lain menggenggam erat tangan pasangannya, sementara #Hujan sendirian, dan #Pelangi saat itu tampak ga peduli dengannya (super ga peduli), tapi yang #Hujan tau : #Hujan harus mandiri! #Hujan harus bisa melewatinya apapun yang terjadi, dan #Hujan bisa berdiri sendiri, #Hujan ga harus nunggu #Pelangi untuk pulang ke langit. Dan ternyata berjalan kaki di sekitar kota selama 2 jam di malam hari sangat menenangkan hati.

Braga, Landmark, Gedung Indonesia Menggugat, Balai Kota, Mesjid Al Ukhuwah, Wastukencana, Jalan Riau. Dan #Hujan pun menghentikan langkahnya tepat di salah satu FO bernuansa putih di perempatan Jalan Riau. Ah, betapa menyenangkan, kesendirian yang membuat gejolak hati #Hujan yang lagi super sedih saat itu menjadi tenang, dan lebih positif melihat semua hal.

Ah, sudah selesai #curhathujan nya... Terimakasih Bulan, Converse, Earphone, Playlist, Mr BIG, KOC, Mew, Awan, Lampu Jalan, Air Mata, Softlens. Terimakasih semua, terimakasih.

.penceritahujan.170311.kantormini.

Rabu, 16 Maret 2011

Sumpah, saya sedih, puas kan kamu saya sedih? Seneng kamu?

Hujan Hari Ini Sedih.

Kamu ga maafin saya ya?
Engga ya?

Engga??

Ya udah... :(

Hujan sendirian lagi aja.

Jalan sendirian gabisa pulang, ga usah pulang deh.

Mau pergi aja menyatu bareng air tanah, dan kamu juga ga peduli.

Kamu marah kan? Pelanginya lagi jadi abu-abu, dan ga berwarna-warni.

Dan hari ini pun kelabu. Terimakasih. Aku sendirian aja ya hari ini?

#HariIniHujanSedihJudulnya

#np Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian.

.penceritahujan.160311.kantormini.

Selasa, 15 Maret 2011

Selamat untuk Mas Truk Sayur #RestuIbu


Untuk salah satu teman baik saya, salah seorang objek tujuan surat saya pada #30HariMenulisSuratCinta, tepatnya untuk si Mas Truk Restu Ibu, yang namanya tertera di atas, harap segera melunasi ongkos pulsa di tengah malam serta sms tak bertuan dengan mengunjungi seonggok rumah si penceritahujan di dunia maya ini.
Be good, Boy! Be your best!! I know you can do it! *senyumHujan!! Yeyeyeyee!

CERITA HUJAN
mengucapkan
SELAMAT MENEMPUH USIA BARU
bagi Anda, yang merasa mempunyai kenangan
terhadap yang namanya Truk Sayur "RESTU IBU"

.penceritahujan.160311.rumahmini.

Hei Gerimis Apa Kabar Kamu Di Sana?

Sudah raib ditelan awan, sudah hilang bersama hamparan langit, dan sudah melupakan sisa-sisa tetesan hujan yang tertelan di dalam permukaan sang bumi.

Sudah melanglang buana ya kamu?
Mungkin sudah menemukan rekanan payung kuning di luar sana sebagai pasangan perjalananmu kali ini, Gerimis?

Hujan berharap kamu baik-baik aja di luar sana, Gerimis.
Karena Hujan pun bahagia dengan dunianya, walaupun Hujan sangat merindukan kehadiran Gerimis sebagai rekanan petualangan di Musim-musim Bulan Desember lalu itu.

Hujan dan Gerimis bersahabat kan?
Iya, berteman sangat baik.
Terlalu baik dan tak terdefinisi.

Terlalu tak terdefinisi.

Dan sekali lagi Hujan membaca sepucuk surat darimu dulu, Gerimis, yang bertuliskan sepenggal lirik lagu dari Slowclub, berjudul When I Go :
"Cause you've got your family, and I've got mine, the love that we share is for another time."

Selamat tidur Gerimis... Senyum, peluk dan sayang selalu untuk sahabat Hujan, Gerimis.

.penceritahujan.150311.rumahmini.

Senin, 14 Maret 2011

What a Quote #2

Me, is the one who loves those ambiguous meanings, with just a sentence of simple words, but it's beautiful enough to read, because they are named the art of words.

Sebab hidup itu pendek, karena seni itu panjang. 
      - Indie Art Wedding

Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka, sampai hujan memulihkan luka.

      - Efek Rumah Kaca

But only love can break your heart, try to be sure right from the start.
      - Neil Young, covered by The S.I.G.I.T

I'm sticking with you, cause I'm made out of blue, anything that you might do, I'm gonna do too.
     - The Velvet Underground

Anything to make you smile, you are the ever-living ghost of what once was. I never want to hear you say, that you'd be better off, or you liked it that way.
     - Band of Brothers

Segala suka dan duka, kan jadi sebuah cerita, bagi anak cucu kita semua.
     - Sore Band

Dan aku tak bisa melangkah di antara musafirnya, dan aku rindu melangkah di duniamu.
     - Sore Band 

So, how about yours?

Hujan Menghibur Bumi #1


Halo bumi! (sembari mencolek-colek manis si Bumi pake golok)
Inget saya ga? Udah lama saya ga maen bareng sama kamu Bumi. 
Dulu kan kita suka nongkrings bareng di tempat si Petir biasanya bernyanyi lagu-lagu cadas bernada.
Atau kita sekedar menari-nari diiringi awan hitam sebagai payungnya yang manis.

Kamu kenapa cemberut aja Bumi? Apakah kamu sedih? Kesal? Memendam amarah?
Ah Bumi, kalau kamu marah kan masih ada saya, masih ada Matahari (meskipun ia sedang berlubang), dan masih ada pelangi yang senantiasa menenangkan segenap kegetiran yang kamu rasakan, Bumi,

Ayo dong Bumi, senyum lagiii..!
Saya tau, ga mudah memang bagimu, disalahkan sebagai penyebab beribu-ribu nyawa hilang di atas mukamu yang elok itu. Dan ga adil sama sekali bila kamu selalu dijadikan kambing hitam, atas semua kerusakan yang ada di salah satu bagian dari tubuhmu itu. Saya juga tau Bumi, sudah kehendak Yang Maha Kuasa, agar kamu mengerahkan sedikit nafasmu, dan dari nafas yang telah kamu tahan bertahun-tahun itu, timbul lah gempa besar disertai tsunami yang sangat fenomenal di sejarah kehidupanmu ini Bumi.

Sudahlah Bumi, ini bukan salah kamu. Saya tau ko, saya tau kamu banget Bumi. Kamu ga mungkin melakukan suatu hal yang akan menyakiti hatimu, tanpa tujuan yang jelas. Ini sudah menjadi jalan yang ditakdirkan untukmu Bumi, dan saya tau, saya tau, semua bukan salah kamu. 

Makanya Bumi, ayo tersenyum lagiii. Ada yang datang, dan ada yang pergi. Seribu jiwa hilang tersapu sang ombak sepuluh meter yang lembut namun menghanyutkan yang saya lihat dari balik awan sana, dan seribu jiwa pun akan tumbuh demi memberikan senyum termanis yang pernah ada di dunia, Bumi. Saya yakin itu.

Jadi Bumi, saya tau, kelak, entah berapa detik, menit, jam, hari, hingga tahun kah kamu akan menerbitkan kembali senyum bahagiamu itu ke seisi dunia. Dan yang saya tau, saya ada disini, selalu untukmu Bumi.

Let's show your smiley face, Dear Mother Earth!

.penceritahujan.140311.monologdenganbumi.

Sabtu, 12 Maret 2011

Matahari Berlubang, dan Hujan Pun Bersedih.

Pagi ini, Hujan mendadak ga semangat bekerja, menyortir para tetesan hujan yang akan turun ke bumi sore nanti. Hujan juga ga mood untuk menari-nari di bumi untuk sekedar menyentuh lembut para daun pemalu yang akan mengatupkan setiap jemarinya setiap saat menatap muka Hujan.

Kenapa Hujan? Ada apa?

Kuintip wajah sendunya, sepertinya sih Hujan menangis. Hujan sedang sedih. Apa yang bikin Hujan yang selalu ceria jadi muram ya?

"Hujan, kamu kenapa?"
Sekali lagi, Hujan hanya meleburkan dirinya kembali bersama tanah, menyamar menjadi air tanah di muka bumi, ia nggak mau menatap langit yang sedikit mendung meskipun ada Sang Matahari - sosok yang selalu ia sayangi diam-diam dari balik jendela langit. 

"Langit mendung, teman.. dan aku tau dari desas-desus yang beredar, bisik-bisik para lebah yang senang berkeliaran, pohon rindang yang melambai bahkan seonggok nasi kuning di selembar kertas coklat, Mendung datang karena Sang Matahari lagi sakit, ia sedang berlubang." ujar Hujan sembari menutupi air matanya yang tampak serupa dengan aura tubuhnya.

"Kenapa ga ditengok aja Hujan kalo gitu?"

"Entahlah, kayanya sih dia menolak untuk ditengok sama aku, teman. Dia selalu sombong, selalu nyebelin, selalu menganggap kalo dia bisa, dia ga sakit dan dia ga berlubang. Dan dia kayanya juga ga pernah menganggap aku ada. Buat dia, kayanya sesosok Hujan cuma seonggok tubuh yang ga seberapa dibandingkan keperkasaan Matahari di atas sana."

Hujan yang tak berbentuk itu pun kemudian bersedih kembali. Sepertinya dia benar-benar khawatir sama Matahari. Hujan milih untuk bisa menguap dan kembali ke langit untuk nengok Matahari saat ini juga, kalau bisa, Hujan ingin segera mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, bahwa saat ini, ia benar-benar memikirkan Matahari, walau Matahari cuek, walau Matahari tampak "dingin" dan walaupun Matahari ga pernah melihat Hujan seperti Hujan melihatnya. Hujan hanya ingin Matahari tau, walau mereka berbeda, Hujan selalu memandang ke arah Matahari. 

Dan sekali lagi, Hujan pun terbang ke awan, hati-hati di jalan ya Hujan, semoga Matahari-mu cepet sembuh dan juga merasakan apa yang kamu rasakan. Cepat sembuh Matahari.

.penceritahujan.130311.rumahsikecil.

Selasa, 08 Maret 2011

Interview dengan Hujan #1 : Perkenalan

Percakapan hangat tepat pukul lima sore, saat awan menunjukkan hitamnya, dan langit menunjukkan kelamnya. 

T : Maaf, Mbak, namanya lengkapnya siapa ya?
J : Hujan di Langit Sore, Mbak wartawan.

T :Wah, namanya panjang sekali, gabisa disingkat ya?
J :Seringnya sih orang manggil saya Hujan, Mbak Wartawan. Mbak namanya siapa?

T : Panggil aja saya wartawan, ceritanya nama dirahasiakan.
J : Oiya ya kan nama dirahasiakan, mungkin kalo di acara TV, suara saya udah dicepetin kaya di film-film Alvin and The Chipmunk gitu.

T : Loh ini kan wawancara Mbak, gimana sih? Oiya, ceritanya gimana Mbak? Ko bisa tiba-tiba namanya Hujan di langit Sore? Emang hobi banget Mbak sama Hujan?
J : Hobi banget Mbak War, lah saya kan Hujan, liat aja muka saya udah sayu-sayu tapi malu gini. Jadi mau gimana lagi, karena saya emang Hujan makanya nama saya Hujan. (maaf pemirsa, bahasa Hujan emang agak absurd, maklum bahasa antah berantah, baru banget belajar bahasa Indonesia ini juga).

T : Trus Mbak Hujan kenapa nih suka galau-galau mulu?
J : Emang udah nasibnya Hujan sukanya sama yang galau-galau sih Mbak War, mulai dari muka, pikiran, sampe lagu-lagu kesukaan galau semua Mbak War. Nah Mbak War juga gitu kan? Namanya aja Penceritahujan. Iya kan?

T : Tuh tau nama lengkap gue, zzzz, Mbak Hujan, kenapa masih turun ke bumi? Ini kan udah musim panas Mbak?
J : Saya pengen ketemu sama Es Krim Conello Mbak War, walau tau sekarang Bang Conello sebiji itu harus melakukan apa yang sudah jadi kewajiban dia membuat tersenyum sang perempuan manis di balik pagar putih bergambarkan matahari di atasnya, saya cuma ingin tau kalo Bang Conello baik-baik aja, sehat-sehat aja, dengan taburan kacang yang tak pernah kurang serta rasa vanilla manis dicampur coklat yang sedikit pahit. Saya cuma ingin dia tau, kalo saya baik-baik aja menjalani dunia saya.

T : ...... (speechless)
J : Loh Mbak War ko diem?

T :Gapapa ko Mbak, terharu aja, jadi pengen nangis, oh iya Mbak Hujan gabisa nangis ya? Soalnya udah berupa tetesan-tetesan air yang bergabung menjadi satu?
J : Iya gapapa Mbak War, saya biasa nangis dalam hati ko.. Yang saya bisa kan hanya senyum. 

Sosok Penceritahujan pun langsung memeluk erat Sang Hujan. Tanpa kata, Hujan pun langsung menguap dan pulang ke atas awan  nun jauh di sana. Yang tersisa apakah? Oh, tetesan air, sebutir, walaupun hanya sebutir, Hujan meninggalkan airmatanya untuk Sang Penceritahujan, yang mungkin akan langsung dimasukkan ke dalam sebuah botol mini cantik yang akan langsung diberikan bagi Sang Conello. "Ini Conello, sebutir sisa air mata Hujan yang tertinggal di pelukanku..."

.penceritahujan.080311.kantormini.masih.




Jumat, 04 Maret 2011

Pancaroba.

Pancaroba itu mungkin masih sebentuk jiwa yang labil.
Kadang dia ingin Hujan yang datang, lalu kemudian Matahari lah yang berkunjung selanjutnya.

Pancaroba itu malu-malu,
Melihat Matahari yang cuma berselang sekitar satu meter dari pandangannya saja dia nggak berani.
Meskipun sekedar menatap sang Matahari yang sedang tersenyum melakukan kesibukannya, sekali lagi Sang Pancaroba malu-malu gak karuan.

Dan Pancaroba itu terkadang juga masih memikirkan Sang Hujan,
Hujan yang kadang dateng, kadang juga pergi, ga jelas kapankah waktu kunjung yang pasti. Sehingga kadang-kadang Pancaroba merasa Hujan terlalu merasa seru bermain kucing-kucingan nggak penting bersamanya, dan Pancaroba pun merasa kesepian.

Sekali lagi, Pancaroba si malu-malu, labilwati dan rendah diri.
Melihat Matahari memancarkan sinarnya saja, Pancaroba langsung meleleh - makanya sering kan denger istilah “jaga kesehatan, lagi musim Pancaroba!”

Nah, itu dia, Pancaroba sering melelehkan tetesan air matanya butir demi butir, karena yang ia lakukan cuma menatap, dan sekali lagi cuma sanggup menatap Sang Matahari, sembari menanti sang Hujan tiba. Sehingga sang sakit hatinya itu ia tularkan ke bawah permukaan bumi, jadi maafin Pancaroba. Dia nggak sama sekali bermaksud membuat banyak korban sakit berjatuhan.

Bukan salah dia, bukan salah dia.

Semoga Pancaroba mengerti, dan semoga kalian mengerti.

ps : Untuk Matahari yang berjarak satu meter dari Pancaroba, untuk Hujan yang belum datang-datang demi Sang Pancaroba, dan untuk Pancaroba yang masih setia pada kelabilannya yang nggak pernah berakhir.

.penceritahujan.040311.kantormini.