Selasa, 01 Januari 2013

Hari ke-2: When Strangers Meet Strangers

Jakarta, 2 Januari 2013,

Sejak tahun lalu, saya berubah menjadi seorang manusia rantau, yang bekerja di tengah hiruk pikuk ibukota Indonesia, Jakarta. Meskipun hanya berjarak 125km dengan Bandung, kota kelahiran saya, namun kota dengan penduduk terpadat di tanah air ini mengandung unsur “asing” yang sangat eksplisit dalam segala hal.

Sebenarnya, saya adalah orang yang agak takut dengan suasana “asing”. Keluar dari zona nyaman adalah sesuatu yang menegangkan. Bahkan, saking tegangnya, saya hanya berani menunduk, memasang earphone dan membuat bola-bola khayal dalam pikiran saya, berpikir tentang hal-hal buruk yang dapat terjadi dalam suasana “asing” tersebut.

Sampai akhirnya, saya bertemu Jakarta. Kota yang mempertemukan semua orang asing di dalam satu wadah berlandaskan hukum dan otoritas. Kota yang dipenuhi oleh seribu kebaikan, seribu kriminalitas, seribu orang sok tahu nan idealis, dan juga seribu orang pengikut arus yang tak punya pendirian. That’s Jakarta.

Kota “asing” ini mengumbar gaya hidup penuh glamoritas. Kota “asing” ini juga menyajikan cerita tentang kerasnya kehidupan. Tapi, satu hal yang menarik perhatian saya sampai detik ini, kota “asing” ini mengajarkan saya tentang sosok orang “asing” yang sesungguhnya.

Akhir-akhir ini, saya bertemu dengan orang-orang asing yang ternyata jauh dari perkiraan saya semula. Yang kerap kali menganggap buruk dan negatif tentang mereka.

Di sebuah bis Kopaja, seorang kenek dengan penampakan layaknya brongs setempat, membantu saya dengan mengarahkan jalan, setelah saya turun dari bis tersebut, bahkan mengantar saya ke tempat tujuan.

Di sebuah persimpangan Harmoni, seorang bapak membantu saya dan seorang teman, mencarikan bahan bakar untuk vespa teman saya, tanpa meminta balas atau bayaran.

Di sebuah taman, dua orang asing yang ada di bawah pengaruh alkohol, membantu saya dan teman saya, untuk membetulkan vespanya yang sedang “manja”. Bahkan sampai motor mereka sendiri tetiba mogok dan tak bisa berjalan seperti sedia kala.

Pada sebuah malam pergantian Tahun Baru, saya bersama teman baru, yang bahkan pada awalnya hanya saya jumpai di linimasa jejaring sosial, menelusuri sebuah event bertajuk Car Free Night. Dan, jujur saja, meskipun sangat melelahkan, malam itu saya sangat senang. Beban hilang seketika, melebur dengan tawa, olokan serta obrolan ngaco yang selalu mendominasi percakapan saya dan teman “asing” saya ini.

Hal-hal “asing” tersebut berhasil membuat saya senang dan bahagia, tersenyum dan tertawa.

Dan, akhirnya, sejenak saya menyadari, bahwa sesuatu yang “asing” tak akan selamanya asing, bukan?

Saya tak akan selamanya menjadi “asing” dengan Jakarta. Begitu pula Jakarta, bagi saya. Lambat laun, kota ini pun akan berujung menjadi sebuah kota penghasil rindu.

And, all we need is time, to know and love those strangers more and more. 

-penceritahujan-

Hari Ke-1: Pedestrian Ceria di Tengah Kota

Jakarta, 1 Januari 2013,

Foto ini diambil oleh Bulky-yang-entah-nama-aslinya-siapa

Sebelum-sebelumnya, saya selalu menghabiskan waktu pergantian tahun di seputaran Bandung, kota kelahiran yang sangat saya cintai. Tak perlu bersusah payah untuk melihat kembang api, cukup dengan berkumpul dengan orang-orang terdekat, barbeque sembari menonton DVD. Semuanya terasa sangat lengkap.

Tapi, tak begitu adanya dengan tahun ini.

2012 merupakan tahun perdana saya sebagai seorang anak rantau ibukota, dengan jumlah relasi yang tak seberapa banyak, dengan jarak yang cenderung cukup berjauhan dan dengan aktivitas yang berbeda-beda pula.

Kesepian? Lumayan. Saya nggak tahu harus menghabiskan detik-detik akhir 2012 dengan siapa, dan dimana. Waktu dan keuangan yang "kejepit" pun tidak memungkinkan saya untuk pulang ke Bandung hari itu. Ya sudahlah, ceritanya saya pasrah saja.

Alhasil, Car Free Night, sebuah pesta rakyat pertama yang diadakan oleh Sang Gubernur baru, Joko Widodo, alias Jokowi, menjadi sasaran penasaran saya untuk mencoba merasakan waktu-waktu penuh euforia ini di kota Jakarta.

Dan, siapakah partner in crime yang telah berjasa besar menyelamatkan saya dari "spasi" berjudul sepi ini?

Inisial nama aslinya adalah: MNR, dan FYI, saya juga belum pernah tahu kepanjangan dari MNR itu apa. Saya biasa memanggilnya Bulky.

Siapakah Bulky? Sesosok kawan dunia maya, yang sering sekali menjadi partner perbincangan bodoh di kala malam tiba, tapi tentunya lewat jejaring sosial saja. Kebetulan, makhluk dunia pergaulan Ciledug, Jakarta ini juga tak memiliki rencana jelas untuk menghabiskan detik-detik akhir di tahun 2012 kemarin. Alhasil, saya, yang juga janji bertemu dengan beberapa kerabat kantor, berangkat ke bilangan Sudirman, bersama sesama makhluk Barat ini.

So, bagaimana perjalanan saya dan sang partner - Bulky - malam itu?

Petualangan kami dimulai dengan menembus gerimis yang merundungi ibukota, selepas pukul 9 malam, bersama Kunkun, sang vespa kuning berhiaskan aksesori penutup ban motif leopard. Mengingat konsep car free night ini adalah membiasakan masyarakat untuk berjalan kaki, tak heran bila sepanjang kurang lebih 7km Jalan Sudirman ditutup dari kendaraan bermotor. Hanya pedestrian serta pesepeda lah yang bisa memasuki area ini.

Kami parkir di Gelora Bung Karno, dan akhirnya berjalan melewati jalan protokol yang ternyata sangat-sangat-sangat panjang bila ditempuh dengan berjalan kaki ini.

Acara pesta rakyat ini memang seperti pesta rakyat pada umumnya. Layaknya acara Tahun Baru seperti biasanya. Didominasi oleh panggung-panggung, yang berisikan beragam penampilan, mulai dari tarian tradisional, lagu-lagu khas Betawi, hingga wayang kulit saja ada disana. Tak lupa dengan bunyi kembang api, yang menggelegar, meskipun tak nampak dari kejauhan, tertutupi oleh awan mendung di atas langit ibukota.

But anyway, saya punya keyakinan, sebuah acara akan terasa seru, tergantung dari perspektif masing-masing pengunjung.

Gerimis turun perlahan, sampah dimana-mana, belum lagi berada di tengah lautan manusia dengan aroma yang beragam pula. Jika saya ingin mengumpat, maka saya bisa saja mengeluh dengan wajah cemberut. Kenapa jalannya jauh sekali, kenapa malam itu hujan, kenapa penuh sumpek sesak dan kenapa jalanan menjadi begitu kotor.

Tapi, menjadi kritikus merupakan keahlian mendasar seorang manusia. Mengeluh merupakan sebuah hobi esensial.

Akhirnya, saya menemukan sisi menyenangkan tersendiri dari Malam Tahun Baru 2013 ini.

1. Saya adalah asap, dan Bulky merupakan sumbu apinya. Lelaki artsy ini sering memancing saya melontarkan komentar-komentar bodoh terhadap penampilan para pengunjung Car Free Night lalu. Sepanjang jalan, kami seperti orang tersempurna di dunia. Yang paling juara, adalah ketika kami melihat sosok berhelm, tapi berpayung pula. "Persiapannya maksimal itu," tukas Bulky sembari menahan tawa.

2. Obrolan ngaco, selalu menghiasi perbincangan kami, baik dalam dunia maya atau nyata. Salah satunya mengenai anti-mainstream, yang telah menjadi konsep berpikir para hipster belakangan ini. Demi menjadi hipster, yang melawan arus generalisasi, teman bodoh saya itu mengajak saya berfoto di depan mobil toilet. By the way, sepertinya kami berjodoh dengan mobil jingga tersebut, sampai perjalanan pulang pun kami bertemu dengan mobil itu. Is this a sign?

3. Kami berjalan kaki dari GBK menuju Bunderan HI, lalu kembali ke GBK lagi, untuk berjejal di antara lautan manusia, demi melihat kembang api, walaupun sebenarnya kami lebih banyak melihat payung. Tapi, nggak apa-apa. Saya selalu senang melihat kembang api.

4. Bulky suudzon terus! Sang teman baru ini selalu menyangka saya menggunakan trik-trik khusus agar meminimalisir penggunaan biaya dengan uang saya sendiri. Mulai dari belum mengambil uang dari mesin ATM, sampai pemakaian uang besar untuk membeli air mineral, sampai akhirnya saya harus meminjam uangnya. (ini padahal beneran lho!)

5. Perbincangan panjang yang saya lakukan bersama Bulky, mulai dari yang serius sampai ngaco. Dimana dia mengejek kesukaan saya dengan aroma cat semprot (piloks) atau dia salah mengira tentang orientasi kesukaan saya. Puhlease Bulky!

6. Dan, seperti biasa, cerita ini selalu diakhiri dengan sedikit masalah bersama Kunkun. Tetiba, ban vespa kuning itu bocor, entah kenapa. Sepertinya sih modus kriminal, tebar paku, tapi ya sudahlah.

Seperti apapun acaranya, dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya, pembawa bahagia bisa datang dari mana saja, kan? 

Awal tahun seperti ini membuat saya berpikir, bahwa saya harus lebih berpikir hal-hal pembuat bahagia di 2013 ini.

Selamat Tahun Baru, semoga semua orang bahagia. Semoga saya bahagia. Dan semoga kamu bahagia.

#np Ballads of The Cliche - Under The Beautiful Money Sky

:)



-penceritahujan-

Senin, 31 Desember 2012

Tentang 30 Hari Bercerita

Jakarta, 31 Desember 2012,

365 hari berlalu lagi. Usia bagi tahun 2012 hanya tinggal beberapa jam saja. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena harus meninggalkan tahun yang sangat mengubah diri saya, dan senang - pastinya - karena tahu, saya akan menghadapi hal-hal terbaru yang seru dan menyenangkan.

Salah satu yang saya nantikan di tahun 2012 ini adalah program 30 Hari Bercerita, yang juga diadakan oleh salah satu teman saya yang mengagumkan, @terlalurisky. Menurut Kiram - demikian panggilan akrab dari @terlalurisky - seseru apapun sebuah pekerjaan menulis, tak ada salahnya bila menyempatkan menulis untuk diri sendiri. Yap-yap, saya setuju sekali, Saudara Kiram!

Bercerita, adalah sebuah hal yang pasti bisa dilakukan oleh semua orang, tanpa kecuali. Dengan media apapun - jentikan mata, menyanyi sembari sedikit curhat colongan, cuap-cuap ramai, kartu pos, diari, hingga posting foto via Instagram - manusia bisa melakukan kegiatan ini. 

Karena pada dasarnya, bercerita bukanlah keahlian, tapi kebutuhan.

That's why, saya, sebagai salah seorang yang sering menamai diri "penceritahujan" mengikuti program 30 Hari Bercerita. Karena apa? Karena saya senang bercerita. 

Dan, karena menurut saya, cerita terbaik di seluruh dunia ini adalah memori manusia. 

Selamat menikmati tahun 2013, yang disebut-sebut dengan tahun 2012A.
Selamat menghampiri Januari. Selamat melumat cerita-cerita saya selama 30 hari ini.

-penceritahujan-

Jumat, 28 Desember 2012

Tentang Lupa

Sepertinya saya butuh penghisap debu,
untuk menghapuskan debu-debu pesimis di hati saya, dalam pikiran saya.

Lebih baik lagi jika saya punya penghapus memori. Lantas, ingatan saya raib entah kemana, dibuang dalam recycle bin dalam sebuah hard disk PC. Lalu, saya menekan: "Remove it all". Ya. Saya akan memindahkannya, membuangnya selamanya. 

Karena saya ingin melupakan bibit kupu-kupu yang telah kamu tanam, hingga ia tumbuh merebak. Berkembang besar dan menggelitik hebat.

Lalu, kupu-kupu itu berubah jadi makhluk karnivora.
Memakan habis hati saya. Menghisap sampai nyaris tak bernyawa.

Dan, saya cuma ingin mengusirnya.

Cukup kan?

-penceritahujan-

Sabtu, 22 Desember 2012

Spasi #2

Bandung, 23 Desember 2012,

Spasi itu bumbu kalimat. Kalau spasi nggak ada, mungkin sebuah kalimat akan terasa hambar, seperti  teh tanpa gula, atau nasi tanpa lauk.

Itu adalah spasi dalam rangkaian kalimat, elemen terkecil pembentuk cerita.

Lalu, bagaimana dengan spasi dalam kehidupan nyata?

Spasi berarti jarak. Huruf-huruf alfabetik perlu spasi agar bisa diartikan menjadi sebuah kata, atau bahkan kalimat. Sedangkan manusia memerlukan jarak, agar bisa mengartikan sesuatu rasa yang biasa disebut dengan "rindu".

Walaupun, sebenarnya, langkah untuk membuat spasi itu menyebalkan, bukan?

Di antara kedinamisan kalimat, yang dilahirkan oleh sebuah spasi, diksi tersebut harus menghadapi kekosongan dulu.

Karena spasi itu berarti jarak, spasi berarti ruang hampa, dan spasi berarti kosong.

:)

untuk orang-orang yang akan atau telah membuat spasi, dan membentuk sebuah kalimat bernama memori. 

#nowplaying Sigur Ros - Vaka



-penceritahujan-

Selasa, 18 Desember 2012

words

When I'm too much on writing about you, but you never write about me.

-penceritahujan-

Selasa, 11 Desember 2012

Today Playlist: Shuffle-Song!

Jakarta, 11 Desember 2012,

Bulan Desember merupakan salah satu bulan kesukaan saya, ketika hujan rajin bermain-main di muka bumi. Sasaran empuk bagi inspirasi untuk menghampiri ranah imaji. Pastinya, waktu yang tepat pula untuk memutar playlist saya yang super-random, dari beragam generasi, tahun rilis dan nuansa yang dihasilkan setelahnya.

Hari ini, sebagai ajang rehat selepas deadline, saya akan memaparkan sedikit kata di balik lagu-lagu yang terputar secara acak dalam PC kantor tercinta. Dan, satu hal yang sangat mengagumkan, irama random ini berhasil mengerubungi gendang telinga saya, yang kemudian mengajak syaraf menari-nari menguak buku memori. Manis, ya?

Berikut adalah beberapa lagu yang terpilih secara acak, sore ini. Enjoy! 

1. OST Juno: The Moldy Peaches - Anyone Else But You



Saya adalah fans berat Michael Cera, dengan karakter-karakternya yang selalu mengangkat kisah lelaki kutu buku, geek, aneh, tapi artsy. Kikuk dan gugup seakan menjadi andalannya. Nggak heran, saya sangat suka dengan film-film absurd yang ia bintangi, salah satunya adalah Juno.

Voila, lagu bertajuk "Anyone Else but You" ini berhasil merenggut perhatian perangkat dengar saya, kali pertama mendengarnya di film tersebut. Nadanya sederhana, dengan lirik catchy, lucu, menggelitik namun manis. Coba intip sedikit liriknya, yuk!

You're a part time lover and a full time friend,
the monkey on your back is the latest trend, 
I don't see what anyone can see, 
in anyone else but you~

Manis, manis, manis!

2. Joey Cape & Tony Sly - International You Day



Saya mendapatkan lagu ini dari salah seorang teman jauh di Pulau Dewata, bertahun-tahun lalu. Tiba-tiba, sosok berhiaskan tattoo serta piercing itu mengirimkan lagu ini lewat aplikasi Yahoo Messenger. Dan dia hanya berkata, "Coba denger ini, Neng, bagus lho!". Semula, saya berpikir lagu ini akan menyerupai alunan-alunan lagu Misfits, sama seperti yang ia biasa senangi.

Ternyata, lagu ini mengingatkan akan irama akustik melodic yang biasa menghantarkan tidur saya di kala masih mengenyam pendidikan SMA. Saya pernah baca di suatu situs, bahwa kolaborasi ini seakan menerjemahkan musik punk rock dengan nuansa folk yang kental. Alhasil, dengan lirik yang juga super menusuk, lagu ini sudah cukup lama mendekam di playlist saya, tanpa sanggup saya ganti.

But without you, my life is incomplete,
my days are absolutely gray,
and so I'll try, let your heart know for sure,
that I have so much more to tell you, 
every single day...

So much gloomy inside, isn't it?

3. Sondre Lerche - I Guess It's Gonna Rain Today


Easy listening music, seakan identik dengan irama-irama yang disenandungkan oleh musisi asal Norwegia ini. Nuansa Skandinavia kental terasa dalam setiap lagunya. Tenang, tentram dan sejuk. Nggak heran, kedatangan Sondre Lerche beberapa tahun lalu disambut dengan cukup meriah, utamanya bagi penikmat musik indie pop.

Dan, satu lagu yang tetiba menghampiri saya sore ini adalah: I Guess It's Gonna Rain Today! Sepertinya sesuai dengan situasi cuaca ibukota kali ini, dimana mendung sedang akrab bergumul dengan langit, bergosip tentang kelakuan Matahari, siang ini, atau bercerita tentang kemacetan kota yang telah mereka datangi.

You better know by know she said
I made no effort to defend myself against her claim
There wasn't anything to add, and so I blurted out
I guess it's gonna rain today
What a silly thing to put you through, I know better
Lost for words because I'm losing you
Didn't I promise you I knew better?

Hurry home before the sky breaks out
You can't predict things that happen all the time
Hurry, but don't take my word for it, babe
I don't know, but I guess it's gonna rain today
I don't know, but I guess it's gonna rain today


Sedikit menggerus hati ya ternyata kata-katanya, "Lost for words because I'm losing you, didn't I promise you I knew better?".

4. Blueboy - The Joy of Living



Sesaat setelah tembang milik Sondre Lerche usai, gesekan biola nan merdu langsung menyusup ke ruang-ruang kosong indra pendengaran saya, dan sontak membuat saya berkata, "Ah lagunya!". Dan akhirnya, mampu menerbitkan senyum kecil pada wajah lesu saya sore ini.

Ya, judulnya adalah: The Joy of Living. Pelantunnya, merupakan salah satu grup musisi favorit saya, Blueboy. Lucunya, usia dari band pengusung indiepop ini nyaris sama dengan saya, beda 2 tahun saja. Mungkin, kala itu saya masih mendengarkan lagu masa kanak-kanak, soundtrack film Kartun, dan sebagainya. Bahkan, saya baru mengenal grup band ini ketika saya menginjak bangku perkuliahan. It's kinda late, right? 

Dan lagu ini, adalah salah satu lagu yang berhasil membuat saya berdebar-debar. *senyum*

All i wanted to say was i'm so happy 
of course it's not love 
but i'm not choosey 
I just want to kiss you in new places 
to savor the joy of living liking you,

Bagaimana mungkin kupu-kupu di perut saya ini tidak aktif menggelitik? 

5. Ballads of The Cliche - Make It Simple


Lagu terakhir yang mendadak menyita perhatian saya, utamanya kala saya memutarnya secara acak. Sebelumnya, saya jarang memerhatikan lirik dari lagu ini secara mendalam, karena saya lebih sering memutar "Season of Joy" ataupun "French Riviera" dari musisi tanah air bergenre indie pop ini. 

Dan, ternyata, saya - yang sangat mudah tersentuh oleh diksi menusuk - tertegun tetiba. Tertohok. Seperti ada yang menghunuskan sebuah sembilu merah muda, dengan wajah ceria. Lantunan irama ini begitu riang dan ringan, tetapi menyisipkan kata "perpisahan" yang sangat-sangat-sangat membuat hilang kata. Speechless. Penasaran dengan liriknya?

We both know we’ve been through lot of our tears together
tears and cry just like our first meal everyday
We know it’s hard but it has to be over
cause thing doesn’t always be like we wanted to be

Every single road has the end
and every kind of trouble always have their way to be done
And now the storm has over and the sun has shine since we through that day
it's been so long and now you got your smile back upon your lips

I still love you and I know you feel the same way too
But somehow this relationship still feel this way

Let’s just go slower and make it simple
cause when the bad has go we will meant to be together


Sooo~ huft-able, right?

***

Lima lagu acak yang mampu mengundang padanan diksi, seperti menjadi kombinasi yang tepat untuk merayakan tanggal 11 Desember di tahun 2012 ini. 

Semoga bahagia!

-penceritahujan-