Pencerita Hujan, aku mau cerita, boleh?
Hari ini, aku mengetuk lagi cangkang milik Tuan Telur. Aku ingin menghangatkannya dengan tenaga tersisa, walau mungkin dia tidak tahu. Atau bahkan tidak peduli.
Aku nggak mau terjebak dalam sebuah perasaan menyesak, tapi aku tahu aku sudah berada dalam labirin itu. Ketika aku sulit untuk mencari pintu keluar, ketika aku akhirnya hanya memilih sebuah pintu yang mengarahkanku pada jurang - lagi. Oke. Jurang setelah kesekian kali.
Aku tahu, aku sudah jenuh untuk berada dalam posisi itu. Sesosok Nona Sumbu Api yang hanya menyala dan dicari - sebagai pengganti lampu-lampu elektrikal berteknologi tinggi.
Aku tahu. Aku lelah. Dan aku pun tahu. Tuan Telur ga akan pernah tahu.
Aku cuma ingin membuat Tuan Telur kembali membuka senyuman di balik cangkangnya. Atau sekadar membuatnya kembali mendengar kicauan burung cantik, dan menikmati setiap embun pagi yang terasa di pelupuk mata.
Aku cuma ingin menghangatkan sedikit bagian dari balik kulit keras itu. Memberinya semacam pelukan maya. Yang mungkin tak pernah nyata.
Dia selalu bercerita padaku. Kisah sedih - baik yang ia lafalkan atau tidak. Hanya aku tahu, aku mencari tahu. Aku bertanya pada jerami-jerami tempatnya bersandar di malam hari. Aku juga berbincang mengintrogasi beberapa anak ayam di sekitarnya. Oh, masa lalu mengubahnya begitu drastis.
Sebuah rasa sakit merenggut hatinya. Dan sulit untuk kembali. Susah untuk membuatnya keluar melihat dunia. Cangkangnya tetap kosong, tetapi keras. Terlampau keras.
"Hey Tuan, kapan kamu keluar dari sana? Dan mengintipku barang sekejap saja? Sebentar lagi sumbuku mau habis, kamu masih belum mau memecahkan cangkangmu?"
Dan kembali. Nona Sumbu Api berjalan gontai. Lemah. Sebentar lagi jarak sumbunya habis. Hanya, dia tidak mengerti harus bertahan hingga kapan, hingga cangkangnya pecah, dan melirik ke arahnya barang sedikit saja.
Dia mengirimkan secarik surat bersamaan dengan pesawat-pesawat kertas yang terbang di kala hujan. Titik-titik hujan memberikannya padaku, yang masih bisa melihatnya melangkah lemah di ujung persimpangan sana.
Hey Nona Sumbu Api. Bertahan ya, bertahan.
-penceritahujan-040612-
Senin, 04 Juni 2012
Kamis, 03 Mei 2012
#justsaying #aboutMama
Dia ga datang bukan berarti dia ga sayang. Dia cuma gamau bikin saya sedih aja, kalau harus inget-inget dia lagi, dengan kunjungan kilatnya ke alam mimpi. :)
Tentang Tuan Telur #2
“Jangan salahkan saya, saya itu skeptis dan apatis,” gumam Tuan Telur sembari menggulingkan badannya ke kasur jerami. Dia kabur dari rumahnya, kandang yang dipenuhi oleh bulu-bulu hangat sang induk.
Tuan Telur memang tak pernah peduli dunia luar. Dia membiarkan bisik-bisik miring melayang di kiri dan kanan telinga mayanya.
“Telur yang aneh, apakah dia selamanya akan menjadi cangkang kosong tak berhati?” Kata-kata itu terdesah pelan dari makhluk-makhluk di sekelilingnya. Bahkan, batang jerami nan tipis pun ikut dalam arisan kandang.
Seakan terdapat headphone raksasa yang menghiasi tubuh bulatnya, Tuan Telur melangkah tegap, lurus, dan tak mendengar untaian kata busuk itu. Wajah datar tampak dari guratan-guratan pena di permukaan cangkang kecoklatan. “Yeah, whatever, I don’t care,” ungkapnya dalam hati.
Tembang Manic Street Preachers bertajuk Enola-Alone menjadi soundtrack kehidupannya. Kesendirian-kesunyian-kesepian menjadi sahabat sejatinya. Berjalan sendiri, melompati genangan air, bahkan membiarkan tubuh bundarnya menggelinding manis di jalan berbatu. Tuan Telur tak peduli, bahkan rasa sakit itu lah yang membuatnya tertawa.
Tuan Telur mati rasa. Cangkangnya terlalu keras untuk ditembus. Hatinya terlalu hancur untuk disusun kembali. Dan ingatan-sakit-perih, kembali begitu saja. Tak bisa dihapuskan, walau Tuan Telur sudah bereinkarnasi, meski setahun sudah beranjak pergi.
“Sekali lagi, biarkan saya. Saya itu skeptis dan apatis, jadi biarkan lah saya, terkurung terus dalam cangkang, dan entah kapan bisa melihat terang.”
-penceritahujan-
Rabu, 02 Mei 2012
Tentang Tuan Telur #1
Kulitnya memang mengeras. Namun, isinya masih kompong. Hati Tuan Telur masih kosong. Setahun tepat ia terlahir kembali menjadi seonggok Tuan Telur, tapi sakit hatinya masih belum sembuh.
Ada yang bilang reinkarnasi itu hanya khayalan belaka. Tapi, Tuan Telur mengalami proses itu. Nyawanya berputar lagi. Dia sudah mati setahun lalu. Sesosok monster memakan habis hatinya. Sejak itu, Tuan Telur terombang-ambing tanpa hati, barang satu senti pun.
Kini, Tuan Telur menanti waktu yang tepat. Menunggu masa bulu-bulu hangat sang induk mengeraminya dengan penuh kasih sayang. Menunggu butiran-butiran darah merah kembali menjalar dalam pembuluhnya, lalu membiarkannya mengalir menuju jantung. Menunggu saat yang tepat, ketika Tuhan kembali menghembuskan rasa ke dalam inderanya.
Tepatnya, menunggu hatinya terisi kembali. Tak melompong. Tak hampa.
Dan ia, masih mendekam dalam tidurnya yang cenderung lama. Menggulung diri dalam cangkang, menunggu sebuah sosok mengetuk hangat lapisan keras itu, dan berkata, "Hallo Tuan Telur, selamat pagi!"
-penceritahujan-
Jumat, 27 April 2012
#justsaying #1
Pertanyaan yang salah adalah
ketika Anda terlalu banyak membahasnya,
dan tiba-tiba saya memikirkannya seketika.
Kalau
memang
masih
ada
yang
mengganjal
padahal
tadinya
saya
tidak
sadar.
#justsaying
ketika Anda terlalu banyak membahasnya,
dan tiba-tiba saya memikirkannya seketika.
Kalau
memang
masih
ada
yang
mengganjal
padahal
tadinya
saya
tidak
sadar.
#justsaying
Rabu, 04 April 2012
#1 - Katakan Saja Ini Surat
Ada yang bilang merpati itu pandai mengepakkan sayapnya hingga ke ujung dunia. Dia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hanya untuk menjadi sesosok makhluk pengantar surat. Merpati pos. Demikian nama populernya, yang sering saya perhatikan dalam buku-buku cerita pengantar tidur.
Apakah merpati bisa membantu saya? Siapa tahu, merpati bisa menembus dimensi dengan frekuensi yang berbeda. Menolong saya, mengirimkan surat. Sepucuk kertas untuk seorang cinta pertama saya, yang saya kenali sejak Tuhan meniupkan nyawa bagi benih seorang manusia.
Isi suratnya juga tak muluk-muluk. Saya cuma menuliskan beberapa kata “kangen” dalam berbagai bahasa. Dulu, ia mengerti bahasa manusia. Kini, saya juga kurang tahu. Bahasa apa yang ia gunakan dalam dimensinya kini.
Kadang, saya berkhayal. Seperti apa dimensi tempat ia tinggal kini. Apakah berada di atas bukit dengan padang rumput dan bunga Edelweiss seperti yang pernah ia mimpikan? Ataukah berada di tepi pantai, dengan hamparan cangkang kerang yang pernah saya kumpulkan di masa lalu?
Bahkan, kadang saya berkhayal, sedang apa ia saat ini? Apakah dia tak sama sekali rindu pada saya? Ataukah dia juga sebenarnya ingin mengirim surat, tapi tak tahu media apa yang bisa digunakan untuk menembus ruang kosong antar dimensi ini? Atau kah, memang, dia benci sama saya?
Dia, meninggalkan saya tanpa sebuah pesan. Sepertinya hari itu, dia menari-nari di antara hujan. Sengaja tak sama sekali berkata pada saya, barang sepatah kata pun. Sepatah kata pun. Dia memilih untuk pergi duluan bersama hujan, sama seperti yang selalu saya inginkan. Beranjak ke dimensi sana, dan bercengkrama bersama para bidadari hujan. Curang. Dia curang.
Ataukah, sebenarnya itu pesan? Sebuah surat tak tertulis yang ia tinggalkan pada saya malam itu. Ada yang menyebutnya kontak batin, ada juga yang menyebutnya telepati. Saya? Saya menyebutnya undescribeable notes. Pesannya membuat saya bertanya-tanya, apa makna dari semua sandi dan tanda tersebut.
Rasanya, saya ingin melontarkan pertanyaan tentang tanda ini padanya, cinta pertama saya, “Apakah benar, Ma? Saya adalah anak Mama, yang juga manusia planet hujan?”.
Mungkin saja, mungkin, ia sedang tersenyum pada saya, dan bermaksud mengungkapkan kebenarannya. “Iya, kamu manusia planet hujan, yang turun ke bumi saat hujan, dan menyurut lagi bersama datangnya hujan,” kalimat itu tampak berdengung entahh darimana. Mungkin hanya intuisi, khayalan atau penafsiran bodoh ala makhluk pemikir macam saya.
Tak apa. Mungkin merpati susah menembus dimensi yang terpancang oleh pagar tak terlihat itu. Jadi, saya harus mengirim surat dengan perantara apa? Kartu pos? Telegram? Atau sandi morse? Ah, saya super tak yakin akan media buatan manusia itu.
Atau, jangan-jangan, apakah bisa hujan menghantarkan surat ini seperti sinar matahari mendatangkan panas ke bumi? Radiasi? Atau apalah itu namanya.
Ya sudahlah. Seperti apapun medianya, mungkin, saya cukup menyimpannya dalam hati. Karena saya yakin, kotak surat itu tersembunyi disana. Dalam sekejap, ia bisa membacanya, tanpa harus menunggu BBM pending, message not delivered, atau surat yang tak sampai. Ia hanya perlu tahu, kalau saya menjalani kehidupan saya dengan sangat baik.
Oh iya satu lagi. Saya pasti menuliskan satu kata dengan huruf kapital dan ukuran besar di dalam kertas itu. Apalagi. Ya, kata KANGEN, selalu tertulis dalam pesawat kertas itu.
-penceritahujan-
Kamis, 08 Maret 2012
Balada Timba Ibukota #1
Hari pertama,
Lift terbuka - kaki melangkah - berdiri diam - bertemu dia - menyapa - tersenyum - turun di lantai dasar.
Lalu,
Lift terbuka lagi - melihat dia terlebih dahulu - menyapa - tersenyum - memasuki lift - melewati dia yang melangkah keluar lift - naik hingga lantai lima.
Lalu,
Lift terbuka lagi - tak ada dia - berjalan santai sembari tertawa - melihat dia - lidah mendadak kelu - terdiam seribu bahasa - tak bisa menyapa hingga akhirnya ia berlalu.
Apa ini?
Bukan apa-apa, hanya sepatah balada timba di ibukota.
-penceritahujan-080312-
Lift terbuka - kaki melangkah - berdiri diam - bertemu dia - menyapa - tersenyum - turun di lantai dasar.
Lalu,
Lift terbuka lagi - melihat dia terlebih dahulu - menyapa - tersenyum - memasuki lift - melewati dia yang melangkah keluar lift - naik hingga lantai lima.
Lalu,
Lift terbuka lagi - tak ada dia - berjalan santai sembari tertawa - melihat dia - lidah mendadak kelu - terdiam seribu bahasa - tak bisa menyapa hingga akhirnya ia berlalu.
Apa ini?
Bukan apa-apa, hanya sepatah balada timba di ibukota.
-penceritahujan-080312-
Langganan:
Postingan (Atom)