Jumat, 30 Desember 2011

Tentang Makhluk Matahari #1

Tahukah?

Hari ini saya mengintip sedikit wajahmu kembali dari sela-sela dunia maya. Lima menit yang biasa saya habiskan untuk membuka tirai jendela, melihat apakah kamu masih bersinar terik di sana atau malah meredup.

Saya kurang tahu, apa saya sanggup untuk mulai berbicara sejajar denganmu, yang saya tahu, mungkin seorang saya yang berasal dari Planet Hujan akan berwajah merah dan mungkin meleleh ketika saya bertemu kamu. Berbincang? Jangan harap, mungkin saya sudah tinggal nama kala itu.

Karena kamu makhluk dari Istana Matahari.
Dan saya manusia Planet Hujan.

*untuk kamu yang bermain harmonika di Istana Matahari sana*

Sabtu, 03 Desember 2011

Tentang Rianda #3

Gambar icon sebuah program antivirus ini mengingatkan saya tentang dia. Payung.
Absurd. Kemarin Rianda berkata bahwa ia seorang langit yang rindu pada bumi. Kemarinnya lagi pria penuh keganjilan itu bercerita bahwa profesinya adalah seorang pelukis pelangi.
Jadi sebenarnya siapa dia?

"Saya bercita-cita menjadi payung," ujarnya.
"Kenapa? Saya nggak masalah kalau kamu tetap menjadi seorang langit."
"Entahlah, saya lebih ingin menari bersama hujan daripada berdiam menanti bumi menampikkan daya magnetnya pada saya."

Ya, dan saya, mengandaikan diri saya menjadi hujan yang memberi nyawa bagi sebuah payung. Tepatnya bagi seorang Rianda.

.penceritahujan.

Kamis, 01 Desember 2011

Tentang Rianda #2

Setiap hari dia membawa tujuh kaleng penuh berisikan cat. Kausnya sudah berantakan, sengaja ia kenakan.
Pagi ini hujan lagi, Rianda justru berdiri dan berkata dengan wajah datarnya, "Saya mau melukis dulu, keburu hujannya balik lagi ke langit".
Saya menyusulnya dari belakang, putus-putus suaranya, samar-samar pandangan saya. Saya nggak tahu dia kemana dan ada dimana. Yang saya tahu, hari ini, dia akan melukis langit sebagai ucapan terimakasihnya pada hujan.

.penceritahujan.

Tentang Rianda #1

Tiba-tiba dia bercerita tentang hujan dan kemudian menghilang. Mungkin dia ingin mengirimkan kembali rasa rindunya kepada bumi melalui Pak Pos Hujan yang selalu manis menanti.
Kenapa dia bercerita pada saya?
Mungkin karena dia tahu, saya seorang jelmaan makhluk Planet Hujan.

.penceritahujan.

Kamis, 03 November 2011

Hujan, Pria Harmonika dan Aku


Yogyakarta. Benteng Vredeburg. Maret 2009.
Hujan, salah satu waktu favoritku, selain kabut pagi, matahari sore dan awan mendung. Jarang-jarangnya aku menemui para rintik air langit manis di kota yang identik dengan panasnya yang cukup menyengat. Yogyakarta. Ya, sepertinya kota ini mulai menepuk bahuku, mengakrabkan diri dan berkata, “Salam kenal, Syila.”
                                                       
Tapi sayangnya sore ini, hujan datang tak mengirim pesan pendek padaku terlebih dahulu, atau sekedar mengirim surat super singkat via BBM. Dia sama sekali tak menunjukkan bakal kehadirannya di pagi hari. Biasanya ia mengutus awan hitam untuk sekedar menyapaku dan berbisik, “Syila, hujan turun sore ini, lho”. Tapi tadi pagi, hanya langit biru yang bertengger di pemandangan mataku. Yogya panas, bung!

Ting-tong. Telepon selularku berdering sekali. SMS. Pesan pendek. Nona cantik, Gresha, sang ketua divisi acara dalam acara Temu Karya ini sudah menantiku. Pasti.

“Syil, kamu dimana? Aku udah di atas ya, kita bentar lagi ikutan workshop ketemu Dik Doank ya?”

“Iya bentar Gresh, gue kebasahan kali brew!” ujarku mendumel dalam hati.

Apa boleh buat. Aku tak membawa payung. Baju panitia berwarna putih yang kukenakan basah kuyup sekuyup-kuyupnya. Ada kalanya aku tak ingin hujan menghampiriku, seperti saat-saat seperti ini. Aku harus bertemu dengan seorang Dik Doank, selebritis ternama yang terkenal dengan upaya dan gerakan kemanusiaannya mendirikan sebuah Kandank Jurank Dik Doank, sarana bagi anak jalanan untuk ikut berkarya.

Ya sudah. Hujan dan aku adalah sahabat dari kecil, bahkan aku sering mempercayai bahwa aku merupakan jelmaan dari makhluk planet hujan. Aku yakin rintik hujan hari ini tak akan membuatku sakit ataupun sedih. Yakin seratus persen. “Betul kan hujan? Hujan sayang saya kan? Nggak kaya orang-orang yang udah ninggalin saya mentah-mentah bukan?”

Mari tembus hujan! Hujan, payungi saya ya.. saya sepertinya yakin ada sesuatu yang berharga di ujung perjalanan saya hari ini, makanya kamu datang dan berbisik sama saya, meneguhkan hati saya untuk menghampiri Benteng Belanda ini walau hujan lebat. Betul kan?

***

Booth
kampusku tampak lengang, tak ada yang menjaga barang seorang pun. Booth seluas 3 x 3 meter itu terasa sangat sejuk, bergaya urban bernuansa warna putih biru. Pameran Temu Karya Desainer Muda Interior Indonesia ini terlihat sepi. Ya iya lah Syila, ini kan sudah menjelang pukul 7 malam.

Tiba-tiba, alunan harmonika seakan menyentuh lembut kupingku. Irama blues kental seperti merasuk seketika. Sial. Siapa yang meniup harmonika secantik ini. Selain Hari Pochang – sang musisi blues ternama di tanah air – aku belum lagi merasa tertarik untuk mendengar komposisi harmonika seperti ini. Baru kali ini. Sialan. Kulihat di sekitarku. Kipas angin, sekat-sekat booth kampus peserta Temu Karya, tempat duduk yang berada di tengah area. Meja panitia. Tak kulihat satupun orang menggenggam harmonika. Dimana dia? Sang pemain misterius?

“Wooow, canggih bener lo maennya, bro!”

Suara ricuh diiringi decak kagum mengalir pelan dari booth yang tak jauh dari stand kampusku. Tertera namanya. Sebuah nama universitas kesenian terkemuka di Jakarta menghiasi ruang terbuka bersekat itu. Tampak seorang pria, kurus, berambut pendek ikal, dengan sepatu DocMart’s merah marun terpasang apik di kakinya. Ia dikelilingi teman-temannya, sembari menggenggam harmonika.

“Ha-ha, lo pada mau lagu apa lagi nih, enaknya dibarengin sama puisi kali, bray.” Akhirnya sang musisi harmonika bersuara juga.

Untuk pertama kalinya, seumur hidupku, waktu terasa berhenti barang beberapa detik. Fokus terhadap dunia sekitar terasa blur. Hanya penampakan pria itu lah yang kuingat. Irama dan alunan harmonikanya pun terus menerus terngiang dalam telingaku. Bahkan, sempat suara-suara itu bergerombol, bersatu padu untuk melakukan aksi slow motion. Sial, aku tambah memikirkan sang pemilik suara itu.

“Syil! Lo ngapain diem aja mematung gitu sih di luar, sini Syil sini..” Ah, itu Mia, salah satu sahabatku yang juga berkuliah di tempat yang sama dengan sang pria harmonika itu.

Suara Mia memang terpasang otomatis loudspeaker tanpa diputar menuju volume terbesarnya. Sang pria harmonika itu melihatku seketika. Mataku dan matanya bertemu. Sial. Dia sudah mulai memberiku laser-laser yang membuatku tak berdaya. Diam, membeku, freeze, menjadi kembarannya Malin Kundang, untuk sesaat. Kenapa harus dia melihatku saat mataku tak sengaja mengarah padanya. Sial!

Sang Pria Harmonika kembali memainkan persegi panjang kecil berongga itu lagi. Kali ini, irama blues dihantarkan oleh sepenggal puisi buatan kawan sejawatnya yang bekepala plontos. Sebuah musikalisasi puisi yang membuatku sesaat jatuh cinta.

Lima menit. Aku mematung di sana. Sendirian. Mia sedang bertemu dengan kekasihnya di luar stand. Tak ada orang yang kukenal di sekitarku, tapi aku tak peduli. Pria Harmonika itu telah membiusku dengan kloroform yang ia tanamkan dalam musik harmonikanya selama lima menit saja.

Ting-tong. Sial, HP berbunyi lagi. Pasti Gresha. Aku masih asyik menyaksikan penampilan sang pria Harmonika, dan tanggung jawab menantiku di luar sana.

Oke. Aku kalah sebelum berperang. Kutinggalkan stand penuh nuansa blues ini sesegera mungkin. Aku sama sekali belum berkenalan dengan sang Pria Harmonika hari ini. Masih ada hari esok. Masih ada hari esok, Syila. Besok, kamu harus mendatangi dia, tersenyum, dan berkata : Halo, Pria Harmonika, salam kenal, saya Syila.

***

Tiga hari berlalu. Yogyakarta belum terkena hujan lagi. Sepertinya hujan hanya datang ketika aku pertama kali bertemu dengan sang Pria Harmonika. Terpana jelas. Aku bahkan masih ingat T-Shirt merah marun bergambarkan The Specials yang menghiasi badannya. Aku juga ingat badan kurusnya yang sepertinya lebih ringan dariku. Bahkan aku pun ingat, bagaimana dia menatapku tajam. Lima detik untuk selamanya. Menyebalkan ya?

Dan selama tiga hari itu, apa yang kulakukan? Apakah aku menghampirinya dan berkata : Halo, Saya Syila, kamu siapa?”

No, it’s a big NO! Seorang Syila terlalu ciut untuk berkata hal demikian. Yang ada, aku sudah pingsan dan mimisan di tengah jalan.

Tiga hari berlalu dan yang bisa kulakukan hanya melihatnya dari jauh. Bagaimana kelincahannya, tawa-tawa mengejek hingga kata-kata kasar yang ia lontarkan. Aku sudah menjadi stalker sejati selama tiga hari ini, tanpa aku tahu nama dan nomor handphone. Dan tiga hari berlalu, nyaliku tetap penakut. Dia pulang ke Jakarta, aku pulang ke Bandung dan aku sekali lagi menjadi korban menyesal. Syila, kamu bodoh!

***

Jakarta. Mei 2011. Halte Busway Sarinah. Pukul Tiga Sore.
Kosong melompong. Tumben. Kenapa halte ini tampak lengang tanpa antrian yang begitu berarti ya? Mungkin karena hujan, orang malas menggunakan payung untuk berlibur keluar rumah. Hujan di Jakarta tak sama dengan hujan di rumahku, Bandung. Di sini, airnya terasa lengket, tak sejuk. Tapi tak apa, seburuk apapun bentuknya, hujan adalah hujan.

Hujan adalah saksi pertemuanku dengan sang Pria Harmonika. Setidaknya itu julukan yang kuberikan padanya sejak dua tahun lalu. Ya, bayangannya masih sering berjalan santai di otak kecilku, padahal aku tak mengenalnya sama sekali. Was it a kind of love at the first sight? Ah, omong kosong! Dia juga tak memikirkanku sama sekali bukan? Mungkin dia sudah melingkarkan sebuah cincin di jari seorang wanita cantik, yang pastinya sepadan dengannya. Bukan denganku.

Kumasuki busway, kosong. Heran. Seperti takdir yang ajaib, melihat Jakarta sedikit sunyi seperti saat ini, ditemani rintik hujan yang cantik, menempel di kaca jendela busway, seperti kaleidoskop.

Pluk! Sebuah dompet terjatuh tepat di hadapanku, milik pria yang duduk bersebelahan denganku, headset menguasai lubang telinganya. Bahkan dia tak sadar dompet kesayangannya jatuh.

“Mas, ini dompetnya jatuh,” ujarku sembari menepuk bahunya perlahan.

Pria itu mulai menoleh ke arahku. Untuk beberapa detik dia dan aku terdiam sesaat. Ya, sepertinya aku mengenalnya. Rambut ikalnya, badan kurusnya, sepatu DocMart yang tak kunjung berganti, bahkan T-Shirt itu bergambar The Special, tepat sama persis dengan orang yang membuatku terpana dua tahun yang lalu.

Ia menatapku dengan pandangan penuh tak percaya. Begitu pula denganku. Mata terbelalak untuk beberapa saat, Seperti mimpi, betulkah dia Sang Pria Harmonika? Masa iya, yang bener aja!

Namun sepertinya, reaksi kimia kembali bersinergi dalam tatapanku dan tatapannya. Hanya satu kalimat yang ia ucapkan kala itu, “Halo wanita hujan basah kuyup, saya Ogi, dua tahun lalu, bermain harmonika di Jogja. Kamu inget saya?”

Speechless! Aku tak tahu akan menjawab apa. Irama harmonika secara slowmotion kembali bergema di telingaku. Bayangan flashback pun menjiwaiku lagi. Ya, jelas sekali, dia adalah Pria Harmonika-ku.  (***)

nb : this short story is being published in the 2nd day of Nulisbuku's #11Days11Project :)

Kamis, 29 September 2011

#5 Hola Absurdia!

Absurd dan pertanda. Entah kenapa dua kata itu begitu menarik perhatianku. Oknum yang disinyalir memiliki keganjilan dalam batas kewajaranku selalu berhasil memasuki ruang imajinerku, berkomplot dengan spektrum-spektrum cahaya untuk menembus alam bawah sadar seorang Mirabilly Shialava. Tak terkecuali Rianda, pria ajaib yang kutemui di gerbong satu kereta Subuh Bandung - Jakarta.

"Wah, Mbak Mirabilly udah dateng dong, pagi banget." Pria berkumis berperut agak tambun itu membuyarkan lamunanku. Aku biasa memanggilnya Mas Udin. Ia selalu menjadi teman berbincangku bila kawan-kawan sekelasku belum datang.

Mas Udin adalah seorang tata usaha di gedung ini alias karyawan sibuk. Gedung berinterior serba putih ini merupakan tempat tujuanku setiap hari Sabtu tiba. Sebuah sekolah di bawah naungan kantor berita pertama di Indonesia, tempat para jurnalis handal lahir. Mochtar Lubis salah satunya. Bahkan namanya pun diabadikan dalam sebuah nama penghargaan, Mochtar Lubis Award, seperti Pulitzer Prize – sebuah penghargaan internasional tertinggi dalam bidang jurnalistik, bahasa dan seni. I do want it so bad!

"Hari ini materinya apa Mas Udin? Gurunya Kang Dadan ya?"

"Iya Mbak Billy, hari ini materinya apresiasi seni dan budaya Mbak, liputan keluar sih kata Kang Dadan,"

"Wah, kemana emang liputannya?"

"Ke Galeri Nasional kayanya, lagi ada pameran seni-seni gitu tuh."

"Oh ya? GalNas? Lukisan? Karya seniman senior gitu kah?"

"Bukan, katanya sih campuran gitu, karya seorang seniman muda, judul pamerannya : Absurdia."

Nice. Sekali lagi kosa kata itu menghantui hariku. Menyedot setengah dari penglihatanku, menuju bayang-bayang spektrum yang bergumul, berkomplot untuk membentuk sosok-sosok absurd yang pernah bernaung di pikiranku. Salah satunya Rianda. Hebat, pria gerbong satu itu sudah mulai menetap dalam otak kecilku. Absurd, ya, pria itu sudah mulai sedikit-sedikit mengalahkan posisi Rega dalam benakku. Rianda. Kamu absurd dan luar biasa.

***
Aksara Sunda kuno setinggi bahu di depan gerbang masuk GalNas ini begitu mengusik perhatianku. Terbuat dari bahan suede (sejenis material penutup sofa atau untuk bahan membuat sepatu), artwork ini menciptakan sebuah kombinasi antara sifat kasar, halus dan terlihat gagah. Seni instalasi, sebuah bentuk artwork yang sangat aku kagumi. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, mataku berbinar-binar menatap sebentuk unik yang berdiri kokoh di depanku. 

“Kamu suka yang kaya gini Bill?” ujar Virsa, salah satu teman sekelasku dalam sekolah jurnalistik ternama di Indonesia ini.

“Gimana lagi, Vir, empat setengah tahun saya hidup dalam rasa cinta sama seni instalasi, gimana nggak bakalan kagum parah coba?” Mulutku menjawab, pandanganku masih menerawang, menelusuri instalasi-instalasi cantik yang tersebar di gerbang area galeri.

“Ini aksara Sunda lho, kemarin saya udah nanya ke senimannya, dia bilang artinya janggal,” ungkap Kang Dadan sembari membidikkan kamera SLR kesayangannya ke arah artwork unik itu.

“Pantes deh nama pamerannya Absurdia.”

“Jadi penasaran deh, siapa sih seniman di balik pameran ini?”

Ya, suara-suara itu seakan berkumpul dan bergerombol, menggema dalam dimensi dunia psychedelic milikku, yang mulai melayang-layang, menjadi backsound untuk ruang batas antara mimpi dan kenyataan. Karya-karya manusia tak dikenal ini telah membuatku memasuki blackhole kembali. Membangkitkan kenangan dan perasaan terpendamku pada seni instalasi yang seakan terlupakan. I love this kind of art!

Lamunanku sedikit terbuyarkan, saat Ganes – salah satu teman sekelasku – menepuk pelan bahuku, dan berkata, “Nama senimannya R. Pranata, Bill, tuh camkan, siapa tau cocok sama kamu, daripada bermuram durja mulu!”

“Ahaha, sial! Ga kali Nes, tega banget sih, kayanya orang ini udah banyak makan asam garam deh. Kamu nyuruh saya pacaran sama om-om ya?”

“Ya kali, Bill, kamu kan sukanya yang aneh-aneh.”

Sial, Ganes sialan! Memang sih, rasa penasaran sang seniman di balik pameran Absurdia ini cukup menghantui pikiranku, kembali membuat tubuh dalam dimensi bayanganku seringan kapas, terbang menyusuri lautan masa lalu yang sudah lama tersimpan, tertutupi program-program berjudul Microsoft Office dan kertas berhamburan. Sepertinya aku memang harus berterimakasih langsung pada Mas Pranata yang entah wujudnya seperti apa. Setidaknya, ia telah menghadirkan kembali kata-kata absurd dan seni yang telah kulupakan bertahun-tahun lalu. 

***

Galeri itu dipenuhi artwork cantik yang diletakkan dengan sangat apik. Mas Pranata sangat pintar menatanya, sehingga ambience berbeda didapat saat melangkahkan kaki di ruangan ini. Kutelusuri satu per satu. Pria absurd ini selalu menyuntikkan unsur luar angkasa ke dalam karya-karyanya.

Astronot, alien yang dibentuk seperti salah satu tokoh perwayangan bahkan istana cuaca pun ada di sana. Ah, istana cuaca, salah satunya adalah kerajaan hujan. Dan, terpampang rapi, sebuah kaleidoskop raksasa di sana. Damn, Mas atau Om atau Pak Pranata, seolah-olah isi dari pameran ini mencerminkan isi otakku. Hujan, kaleidoskop, absurd. I owe you so much, dear Mysterious artist!

“BIODATA”. Entah karena tulisan itu begitu besar, ataukah warnanya terlalu cerah, atau juga memang kosa kata itulah yang sedang aku cari di seantero ruangan galeri ini. Biodata, data pribadi. Pastinya, di sana akan terpampang, siapakah sebenarnya Mas Pranata yang absurd ini.

Nama : R. Pranata Priya

Nama yang cukup aneh. Jelas-jelas Mas Pranata berjenis kelamin pria. Untuk apa masih ada kata “Priya” di belakangnya. Huruf R yang bertengger di depannya pun masih misteri. Mungkinkah sebenarnya dia memiliki turunan Raden alias darah bangsawan?

Tempat / Tanggal Lahir : Bandung, 15 Oktober 1985

Wow, Bandung? Dia jelas-jelas lahir di Bandung, orang mengagumkan ini memiliki tanah kelahiran yang sama denganku, seorang Mirabilly.

Prestasi :
-    Pameran Seni Kontemporer di London
-    Pameran Seniman Kontemporer Asia Pasifik di Singapura

Masih berderet panjang kolom prestasi yang ia miliki, sungguh, Mas Pranata ini memang mengagumkan. Mataku seakan tercengang melihat deretan penghargaan dan pameran yang pernah ia ikuti. He’s awesome!

Baiklah, Absurdia! Pameran ini sukses sekali membuatku penasaran dengan Mas Pranata, seorang seniman yang gemar memasukkan nilai-nilai absurd ke dalam mahakaryanya. Tentunya, rasa penasaran ini kembali menjangkitiku, setelah rasa sesak yang terjadi saat aku kehilangan sang pria gerbong satu, Rianda.

Aneh. Kenapa aku bisa mendadak penasaran dengan dua sosok berbeda, dalam waktu yang cukup bersamaan. Apakah ini sebuah bentuk melarikan diri dari bayangan kutukan gerimis milik Rega? Tadi Rianda, sekarang Mas Pranata. What’s wrong with me?

***

“Maaf Mas, kalo Mas Pranatanya ada?” tanyaku pada salah seorang panitia yang berjaga di sana.

“Mas Pranata masih di jalan, Mbak. Maaf, kalau boleh tahu, Mbak darimana ya?”

“Oh, saya Mirabilly, ada tugas dari sekolah jurnalistik saya, untuk berbincang sedikit dengan Mas Pranata.”

“Oke, Mbak, nanti saya sampaikan ya, sebentar lagi sampai kok.”

Ah, baiklah, Mas Pranata. Kembali aku harus menunggu dan meredam rasa penasaranku ini. Aku tak tahu, seperti apakah bentuk dari Mas Pranata ini. Karya demi karya kuperhatikan hingga mendetail. Masih tentang luar angkasa, bumi, hujan, matahari. Tak ada satupun bentuk-bentuk kenarsisan dalam karya Mas Pranata ini. Bayangan tentang wajahnya pun sungguh abstrak.

Tiba-tiba, kulihat sorotan cahaya menuju arah sebuah lukisan. Aneh. Janggal. Ini seperti sebuah potret dirinya, dalam aliran lukisan kubisme, sebuah gerakan seni abad ke-20, menyerupai karya Pablo Picasso dan Georges Braque. Aku masih tak bisa menangkap sosoknya. Hanya tampak sedikit rupa kacamata, rambut panjang, dan yang pasti, ia lelaki.

Eh! Tunggu dulu! Guratan tanda tangan nyaris tak terlihat menghiasi kanvas setinggi badanku ini. Goresan milik Mas Pranata yang pasti. “Coretan ini begitu familiar, Mirabilly!” sepertinya pupil mataku berbisik demikian. Ya, tanda tangan ini terasa tak asing. Sangat tak asing.

Raden. Rindu. Ronda. Ah, déjà vu! Aku pernah mengalami hal ini beberapa jam yang lalu. Menatap lama sebuah guratan tangan bertuliskan nama. Ya, sekali lagi, mataku meyakinkan otakku, bahwa ini tanda tangan RIANDA.

I found love, didn’t even know I needed it
But I found love, never even crossed my mind
#nowplaying Free Design - I Found Love

-bersambung-

Senin, 19 September 2011

#4 Ini Ibukota, Dia Rianda

"Sebentar lagi Anda akan sampai di Stasiun Gambir Jakarta...."

Suara itu membangunkanku dari tidur lelap tanpa mimpi. Pemandangan kota Jakarta menghiasi jendela kaca yang semula menjadi kaleidoskop tercintaku. Mataku masih terlalu blur untuk menikmatinya. Samar. Keluarga mata sedang bersinkronisasi kembali, kembali dengan para syaraf2 manis setelah bangun dari tidurnya yang cukup, untuk kembali bekerja membantuku.

"Mbak, udah mau sampe Gambir," sayup-sayup suara itu hinggap di daun kupingku, menembus sang gendang telinga untuk kemudian dicerna oleh otakku.

Oh, sudah mau sampai Gambir ya. Eh! Kok ada orang di sebelah saya?? Sontak aku pun terkaget-kaget melihat sesosok pria menempati kursi sebelahku. Kursi F gerbong satu.

Si pria gerbong satu yang tersenyum hangat itu, dia duduk manis di sebelahku, sembari menggenggam tas selempang berwarna coklat ladu. Seemed old-fashioned but everlasting. Nice bag. But anyway, kenapa sampai pria ini ada di sebelahku?

"Eh, kamu kenapa disiniii???" ujarku sedikit bernada tinggi saking shocknya.

"Ini handphonenya Mbak ketinggalan di WC," sambil tersenyum kecil, si pria misterius itu menggenggam smartphone hitam kesayanganku.

Ah, bodoh sekali memang, bahkan telepon selularku saja terlupakan gara-gara lamunanku tentang Rega, si pria pemberi kutukan gerimis itu. Kenapa juga harus tertinggal di kamar kecil tempat kubuang kenangan manis bersama Rega, dan kenapa juga harus sang pria ajaib ini yang menemukannya.

"Makasih yes.. Saya nggak sadar malah kalo handphone saya ketinggalan mas.."

"Padahal coba saya berniat jahat ya, mungkin aja handphone Mbak udah saya jual lagi, lumayan tau Mbak, hari ginii.."

"Untungnya Mas orang baek tapi kan? Haha, kalo nggak baek ngapain balikin handphone saya,"

"Siapa bilang gratis?"

"Lah, jadi bayar?"

"Bayar dong, hari gini nggak ada yg gratis Mbak,"

"Yah masa bayar sih???" ujarku kecewa. Agak-agak takut juga, masa iya dia seperti Mas-mas pembajak kereta api yang waktu itu sempat menimpa kereta api menuju Cirebon. Kalau iya, berarti saya penasaran dengan orang yang salah, damn!

"Mbak, bayarannya saya mau minta Milo kaleng yang ada di meja Mbak, boleh?"

Langsung kuperhatikan meja kecil di hadapanku. Ya, kaleng berwarna hijau itu memang terpampang di sana, tapi aku yakin itu bukan punyaku. Aku tak membeli apapun dari semenjak aku melangkahkan kaki di gerbong ini.

"Bu-bukan punya saya kok, Mas,"

Dia tampak mengacuhkan kata-kataku, sembari asyik mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "Nah, ini kembaliannya, Mbak, kelebihan tuh bayarannya."

Pria aneh itu memberikan secarik kertas bergambar mirip dengan sketsa uang kertas Indonesia, hanya gambar pahlawannya diganti dengan sosok perempuan yang sedang terlelap, oh baiklah, itu aku. Mulut terbuka seperti ikan mau dipancing, bahkan ia membubuhkan kawat gigi dan juga tahi lalat di bawah kiri bibirku. Detail!

"Eh, kapan kamu ngegambarnya?"

"Ahaha, saya pernah mimpi ketemu sama orang persis kamu, ketinggalan tiket dan HP, ceroboh dan panikan, dan tukang ngelamun juga. Makanya saya apal banget raut muka kamu kaya apa."

"......."

Hening, aku tak tahu akan berkata apa. Ini cuma sekedar gombal. Mentang-mentang aku orang yang mudah luluh oleh pertanda alam, banyak orang yang memanfaatkan kebodohanku ini. Sejak Rega berlalu, aku tak percaya pertanda, semua itu seperti gombal bagiku.

But, anyway, darimana dia tahu bahwa aku tukang melamun?

"Nih, simpen ya Mbak, jangan ketinggalan tiket sama HP lagi, saya duluan ya, Gambir udah sampe tuh," dan pria misterius itu langsung berlalu bersama postman bag yang ia selempangkan.

Otakku mulai lambat bekerja. Sepertinya asupan oksigenku kembali tersumbat untuk berjalan ke otak. Hati yang bermain di sini. Aku hanya bisa berdiam diri, speechless dan moveless.

Satu, dua, tiga....

Barulah tiga detik kemudian aku menyadari, pria itu hilang entah kemana dan aku tak sama sekali bertanya namanya, alamatnya, apapun tentangnya, sampai nomor kontaknya. Come on Billy, ini kan bukan jaman urdu yang belum mengenal teknologi handphone, internet, atau telepon. Damn, I've lost my superhero, again.

Kuambil tas selempangku dengan segera. Langsung saja kuarahkan langkahku menuju pintu keluar gerbong satu ini. Sang pria penyelamat di dalamnya sudah raib entah kemana. Otakku pun terlampau terlambat mencernanya. Bodoh, bedon, tolol!

Sempat kuputari daerah sekitar gerbong-gerbong itu, pria berambut terikat berkostum T-Shirt tye dye gambar Beatles, blue jeans dan converse hitam putih. Damn, he's actually gone!! Tak ada penampakan seperti itu di antara orang-orang sebanyak ini.

Where the hell are you???
Sekalinya aku menemukan orang yang bisa menghilangkan sedikit kenanganku tentang Rega, dan aku menyia-nyiakannya begitu saja. Bahkan lebih tepatnya, aku tak tahu sama sekali, siapa dia, darimanakah dia dan akan kemanakah dia. Yang aku punya, hanya kenangan manis tentang kaleidoskop hujan, gerbong satu, dan secarik kertas uang mainan bergambar wajahku.

Kuambil secarik kertas dari kantong jeansku. Kuperhatikan sedikit ilustrasi bodoh uang-uangan hasil iseng ini. Hehe, sial, dia menggambarkan sosok tidurku ini jelek sekali. Bahkan ada cairan-cairan samar yang tampak keluar dari mulutku. Aku kan tak seperti itu. Dia hiperbola!

Ehm, sebentar, di bawah air-air liur menyebalkan yang ia gambarkan itu, terlihat segurat garis, lama-lama kuperhatikan dia membentuk nama. Tanda tangan kah??

Kubaca perlahan sembari duduk di tangga hijau Stasiun Gambir. Ini tanda tangan yang tak terlalu membingungkan, simpel dan sederhana. Pasti aku bisa membacanya. Pasti.

Ri, ri.... Rinda, rindu, rendi, ronda, rendra, ..... Oh, bukan. Rianda. Ya, nama pria misterius di gerbong satu itu adalah Rianda.

I think that possibly maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
- Landon Pigg - Falling In Love at The Coffee Shop

-bersambung-

http://30hariceritacinta.blogspot.com/