Sabtu, 17 September 2011

Halo, Kaleidoskop Hujan! : Kata-kata Saya

Kaleidoskop. Namanya cukup rumit. Mirip-mirip seperti mikroskop, stetoskop ataupun teleskop. Keluarga -skop tepatnya. Apakah itu marga? Ataukah itu nama keluarga? Atau jangan-jangan itu julukan kebangsaan kehormatan, seperti "Sir" atau "Kanjeng Ratu" dan sebagai macamnya.

"Ini apa Yah, teropong?" tanyaku saat Ayah memberikan bongkahan tabung merah sepanjang kira-kira 20 cm ke genggamanku.
"Bukan, ini Kaleidoskop," Ayah menjawab sembari melihat ke arahku yang kala itu masih berusia 8 tahun.
"Buat apa ini, sama kaya teropong apa bisa liat bulan kaya teleskop?"
"Bukan, Kanneu, spektrum cahaya bisa dibiaskan lewat cermin-cerminnya, dan diterjemahkan oleh kerikil warna-warni di dalamnya. Bagus!"
"Mana, mana..."

Spektrum cahaya matahari, seakan terpantul sana-sini, membuat sebuah bentuk dan warna berbeda-beda setiap kuputar barang satu gerakan kecil saja. Bongkahan tabung merah ini merupakan harta karun saya ketika itu. Bahkan sampai detik ini.

Kepribadian ganda itu menyebalkan. Namun beda dengan kaleidoskop. Karena kepribadiannya yang selalu berubah-ubah setiap saat itulah, kaleidoskop tak pernah terlihat monoton dan membosankan. Sedikit gerakan dalam tabungnya membuat kaleidoskop tiba-tiba berubah, dari manis menjadi gagah, dari hangat menjadi dingin, dari merah menuju biru.

Familiar? Kaleidoscope is similar with life, buddy.

Kaleidoskop itu hidup, dan sang pemegang kaleidoskop adalah Tuhan. Setiap hari, Dia menggerakkan kaleidoskop perlahan, dan hari pun berganti, tak pernah menjadi sama. Apakah itu menyenangkan atau menyesakkan. That's life, nggak ada yang monoton di dunia ini. Hari ini saya bangun jam 8, besok saya bangun jam 6 pagi, mungkin besoknya lagi saya tidak tidur sama sekali. Kemarin saya patah hati, mungkin saja hari ini saya bersenang hati.

Well, the point is, saya sangat menyukai kaleidoskop, sama seperti saat saya menyukai kehidupan yang tak pernah monoton. Kaleidoskop berkepribadian banyak, sedangkan kehidupan selalu berputar dan tak sama. Nice, sweet and awesome. That's life and that's kaleidoscope.

Hal kecil ini membuat saya terinspirasi untuk memasukkan kata "kaleidoskop" sebagai judul cerita bersambung saat saya mengikuti program #30HariCeritaCinta , dimana saya harus posting 10 cerita bersambung (minimal) dengan judul besar yang sama.

Well, why must I use the rain words?
Soalnya saya sangat tergila-gila sama hujan. Kebetulan, hujan juga baik sama saya. Menganggap saya sahabat baiknya juga :) Hujan suka nemenin saya kalo saya lagi galau. Atau ada kalanya juga hujan menyamarkan air mata saya. Anyway, mungkin saja sebenarnya saya makhluk dari planet hujan yang turun ke bumi, makanya titik-titik hujan akrab banget sama saya.

So, it does make sense if I named my stories as : Halo, Kaleidoskop Hujan!
Please read my stories, sorry if I can't write'em well. But anyway, that's all of my words.
Enjoy!!


.kandela.sangpenceritahujan.

Kamis, 01 September 2011

Another Absurdia

Anggap saja nama kamu Kalkun, dan saya Ikan Mas. Kamu hidup di kandang Pak Tani sana, sedangkan saya tinggal di kolam cantik ini. Kamu berkawan dengan rumput, kupu-kupu dan jerami, saya bersahabat dengan batu, pelet ikan, dan larva manis yang mengapung peluh di sini.

Enam tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain. Obrolan kita hanya seputar cacian dan makian. Kenapa kamu berlemak banyak, kenapa pipi saya pipih nggak jelas. Mengapa kamu suka buang kotoran sembarangan dan mengapa ludah saya banyak tertimbun dalam kolam. Dahimu tampak berkerut penuh, sirip saya pun mengembangkan sauh.

Kamu aneh, dan saya rancu. We're perfectly match for each other, right?

Batas dunia memang menghalangi saya untuk bertemu kamu. Saya, hanya bisa melihat kamu, mencela kamu lewat biasan air-air jernih di atas kepala saya. Lebih dari itu, alergi kulit kembali menyerang saya. Matahari nggak pernah bersahabat akrab dengan sisik-sisik di tubuh saya.  Dan kamu pun takut menyentuh air, "Dingin, ngapain sih ke sana!" ujarmu sambil berlalu.

Harga diri tinggi memakan habis nurani. Hanya butuh satu kalimat yang berkata, "Kita itu ambigu, absurd." Tak saling menyentuh peluh layaknya para kalkun pada umumnya, atau bergerumul layaknya ikan-ikan mas yang sedang jatuh hati. Saya hanya melihatmu dari jauh, dan kamu pun begitu. Seakan terpisah oleh kaca lunak yang menakutkan. Mungkin akan membuatmu tenggelam perlahan, atau membuat saya mengiris tipis.

Enam tahun. Kita itu apa?
"Kategori sendiri, ambigu." ungkapmu, sambil mengindahkan wajah saya, tepat di depan matamu.
"Ambigu?"
"Bukan teman, bukan kekasih, bahkan bukan musuh."
"Jadi?"

Ya, ambigu ini, tetap menjadi ambigu.
Saya tetap Ikan Mas di kolam batu, kamu pun tetap menjadi Kalkun menyebalkan, yang dahulu, saya harapkan, "Pergi kamu jauh!"

Dan sekalii lagi, kamu berkata, "Hubungan kita tuh ga jelas ya,"

Saya butuh kamu, dan kamu butuh saya, tapi terpisah kaca tak bernyawa.

Kali ini saya iri dengan para ikan mas yang bercanda mesra dengan para pasangannya. Mereka satu dunia, dan mereka bebas memanggilnya nama kesayangan, "Sayang," ujar mereka pada belahan hatinya. 

Saya? Apakah saya harus meluruhkan harga diri saya? Atau kah saya berubah menjadi putri duyung agar bisa naik ke daratan dan bertatap wajah denganmu? Sudah, cukup.

Saya tak pernah bisa jadi seekor Kalkun, dan kamu pun tak pernah bisa berubah menjadi Ikan Mas. :)

Walau begitu, sekelebat rasa panas dekat insang sedikit mengadakan pro-kontra dalam hati saya.

Dan sekali lagi, timbul pertanyaan, hubungan seperti apa yang kita inginkan?

Jelas.
Tak jelas.

Ambigu, ya, mungkin itu, saya, dan kamu.

#penceritahujan#010911#rumahmini#

Ini Harapan Terakhir Saya, Sampai Jumpa di Ingatan Selanjutnya!


Sepatah dua patah kata, bahkan beribu kata telah memenuhi seluruh otak seorang makhluk yang disebut manusia – yang konon katanya sudah mematung di depanku sekitar berjam-jam lebih. Dan sepertinya dari bagian kepalaku - kalian lebih sering memanggilnya dengan sebutan monitor – serta jantung hatiku yang berada di dalam CPU sudah mulai mengepul panas, pertanda sudah saatnya kami untuk beristirahat.

“Sebentar ya bray, saya pusing banget, anda istirahat juga gih!” ujar sang makhluk berhiaskan kacamata apik itu sembari mengelus-elus sang jantung hatiku tercinta. Melihat sosoknya yang tampak pucat kelelahan disertai mata pandanya itu membuatku merasa miris sebenarnya.

Aku hanya menyesalkan, kenapakah sang otak dalam bagian jantung hatiku ini sangat amat super lamban. Kenapakah program-program canggih di dalamnya tak dapat membantu pekerjaan sang sahabat tersayangku selama dua tahun terakhir ini?

Padahal, aku tahu dia sedang dikejar oleh waktu-waktu yang sungguh menyiksa. Tagihan artikel yang terdiri atas beribu kata yang seperti tak ada habisnya – yap, itulah yang menjadi sarapannya di pagi buta.  

Dan padahal aku tahu juga bahwa ide-ide briliannya telah mengalir begitu saja, melarut dan meleburkan diri bersamaan dengan berhembusnya nafas. Ah, padahal... dan padahal... Tetap saja aku tidak bisa membantunya.

Andaikan tiba-tiba sang superhero-ku datang menjemput, membawakanku seutas program abstrak tak terlihat, yang dapat membantu membawakan kembali para ide brilian yang gosipnya telah sedang berjalan-jalan ke langit atas sana, menjauhi diri dari kesibukan sahabatku tercinta. Karena untukku, buat apa aku hidup jika aku tak bisa membantunya. Menyesak, meredup, dan menyakitkan. Sungguh.

“Mas, ini mas yang mau diinstall ulang, semua datanya udah saya masukin di harddisk external ko mas.” Sayup-sayup kudengar sang sahabat berseru kepada temannya. Ah, install ulang, sepertinya rangkaian kata tersebut sangat familiar dalam otakku. Dan aku tahu, oke, aku tahu. Dia ingin menghilangkan ingatanku, memoriku, kisah manis yang telah terdata dalam kode-kode rumit dalam sistemku yang super canggih.

Jangan Tuhan, kumohon! Aku tidak ingin melupakan semua kenangan ini! Dia tak membiarkanku mengingat setiap jejak dan jerih payah yang telah kulalui bersamanya. Apa artinya, bila semua cerita manis ini terhapus begitu saja hanya dalam hitungan jam? Bahkan menit? Dan detik?

Cukup, cukup, cukup! Superhero, kuharap engkau datang lagi hari ini, dan memberikanku sebuah hadiah istimewa mala mini, program yang membuatku tetap mengingatnya, mengenang setiap langkah getirku bersamanya. Selamatkan aku dari mesin cuci otak tergawat di dunia ini, tolong lah aku Superhero!

.penceritahujan.berkhayal.

nb : jadi BOTN di Writing Session 8 Januari 2011 :)

>> http://writingsessionclub.blogspot.com/

Aku, Hanyut dan Akhirnya Lepas

Aliran air mengenai bebatuan hitam di atas sana, semakin ke bawah, sang air pun mengalir kian deras, menuruni setapak demi setapak undakan yang terjadi di jeram mini itu. Sepertinya pemandangan itulah yang harus kusaksikan kali ini, saat-saat ia akan melepaskanku bersama perahu yang muat dengan ukuranku, melalui air terjun yang semakin bertubi-tubi.

Aku tahu, begitu menyentuh air, nyawaku pun akan terhapus, luntur dan seakan hanyut ditelan derasnya air sungai. Ingatanku tentangmu – dan tentang manusia itu – akan segera memudar, seperti salah satu adegan dalam film Eternal Sunshine of The Spotless Mind, yang diperankan oleh aktor ternama yang selalu kamu sebut namanya, Jim Carey dan Kate Winslet. Berkali-kali kamu ucapkan, “Andai di dunia nyata, kita mengenal Lacuna.Inc, perusahaan yang bisa bikin aku ngelupain dia seutuhnya!” dan sekali lagi kamu ucapkan bahwa kamu ingin melupakan segenap kenangan bersamanya.

Merelakan dan melupakan adalah suatu hal yang sulit, teman. Setidaknya, kamu memiliki otak, dan ingatan, yang akan secara otomatis menyimpan data-data kenangan manis yang telah kamu rangkai bersamanya. Dan kamu ingin melupakan semua itu? Merelakannya pergi, untuk tak pernah kembali lagi?

Aku cemburu, aku sangat cemburu padamu, hey wajah manis yang berdiri di tepian sungai ini. Kamu bisa mengingat kisah-kisah indahmu itu dengan jelas, sedangkan aku? Aku hanyalah seonggok kertas yang dijilid dengan ring besi di tepiannya, bertorehkan coretan-coretan kata pelampiasan hati atas apa yang telah terjadi. Kamu dan aku, berkomunikasi di sini, dari hatimu, turun ke tangan, dan langsung menembus hatiku pelan-pelan. Ingatanku tentangmu, dan tentangnya, hanya terdapat dalam tinta warna-warni yang mulai menghilang ini.

Ingatanku saat pertama bertemu, saat kamu melihatku di sebuah toko kecil dengan interior nan rapi, bernuansa putih bersih di sana-sini. Aku ada di rak ketiga, di sebelah pojok kiri. Dan aku tahu, pertama kali kamu menatapku, kemudian menggenggam tubuhku erat, aku seakan berkata padamu, “Halo, aku memang tercipta untukmu, kawan!”

Tiga tahun, yaa.. tiga tahun indah bersamamu, suka, duka, tangisan histeris, sedikit ingus yang menggenang di permukaan kertasku, hingga mengalami rasanya dilempar olehmu, untuk kemudian dipeluk erat kembali. Tangan itu hangat, sangat hangat.

Dan kini, aku tahu, sudah terlalu pahit untuk tetap bersamaku, mengetahui setiap cerita yang kamu miliki, selalu berkisah di dalam tubuh-tubuh kertasku yang sudah mulai menguning. Untuk itulah, kamu harus melepaskanku, dari genggamanmu, bahkan dari ingatanmu.

Jika menurutmu ini berat, bagiku, melepaskanmu seakan menghempaskan nyawaku. Karena nyawaku, bergantung pada tinta dan kata-kata yang selalu kamu ungkapkan padaku. Karena seluruh hidupku, adalah untuk menjadi sahabat setiamu, menemani setiap perasaan kesepian ataupun bahagiamu.

Satu jeram..
Dua jeram..
Tiga jeram terlewati...

Dan akupun kian luntur, kertasku pun kian melunak, dan kemudian tersobek perlahan. Selamat tinggal, bersama air dan perahu kertas mini berwarna jingga, aku akan pergi, dan aku akan melepaskanmu - harus melepas seluruh nyawaku, yang merupakan kenangan dan kisahmu di permukaan tubuhku.
Terimakasih ya hey, terimakasih atas semuanya… 

-enamenamsebelas-tujuhpagi-lewatsebelasmenit-

nb : jadi BOTN-nya Writing Session pada Selasa, 07 Juni 2011 :) #ihiw

Minggu, 28 Agustus 2011

Every teardrop is a waterfall.

- Coldplay

Kamu, Desember dan Payung Kuning

Kamu datang lagi saat Desember tiba. Memaksa saya kembali menggunakan payung kuning di tengah rayuan pulau kelapa yang kamu ciptakan perlahan. Di antara beribu tanda yang kamu hujankan ke muka bumi, ya, titik-titik air ini utusan kamu ya, biar saya selalu ingat sama kamu?

"Oh, tidak ko," ujarmu perlahan, "saya cuma senang dengan payung kuningmu."

Ya, kamu hanya menghampiri seonggok bentuk kuning yang meruncing. Sudah. Setelah itu kamu hempaskan kembali seorang saya di antara beribu tanda yang terbentuk sejak tiga tahun lalu. Pertanda yang menggantung, yang selalu membuat saya bertanya-tanya, "Kamu menyukai saya, atau payung kuning saya?"

Payung kuning pun sudah kamu ambil sejak setahun yang lalu. Kamu berkata, "Tahun depan, nggak ada lagi saya, dan kamu. Mungkin saya sudah menemukan awan manis saya, dan kamu masih bersama pelangimu."

Tapi, nyatanya, kali ini, saya masih menggunakan payung kuning, yang kembali tergeletak di pintu rumah saya. Dan sekali lagi, kamu datang dan berkata pada saya, "Saya menemukan dia yang baru." Lagi? Kata saya. Ya, lagi, ujarnya.

Sudahlah, biar kali ini, saya tetap menggunakan payung kuning, bahkan jas hujan kuning, agar kamu mendatangi saya. Ya, kamu memang tetap bersenandung sebuah melodi berlirik pada saya, walaupun kali ini, kamu sudah tidak menyukai payung kuning lagi. Hanya datang, bernyanyi gerimis kecil, dan kemudian pergi lagi. Biar, saya tetap di sini, berdiri, sampai ketika kamu mengambil payung kuning itu kembali.

.penceritahujan.290811.rumahmini.