Rabu, 08 Agustus 2012

#4 - Telescope

Jakarta, 9 Agustus 2012,


Name: Candella Sardjito
Occupation: Full-time Stalker, Half-time Writer

Sekali lagi. Teknologi menggenggam peran penting dalam bio tersebut. Entah mempermudah, atau justru menjerumuskan saya lebih dalam ke dalam jabatan non-profit itu. Ya. Saya seorang stalker. Semacam penguntit. Mata-mata. Detektif tak berbayar. Atau mungkin lebih halusnya, seonggok investigator? Ya. Itu bahasa kerennya. 

Percaya nggak percaya. Pekerjaan ini terasa menyenangkan untuk dilakukan berulang-ulang. Semua jejaring sosial - mulai dari Twitter, Facebook, Friendster bahkan situs search engine macam Google pun menjadi rekanan tetap. Seperti telah melakukan sebuah kontrak hati. Menggunakan cap darah sebagai tanda tangan. Dan air mata sebagai materai - yang harusnya cuma berharga Rp6000,00 saja. 

Namun, nggak bisa dipungkiri. Kontrak hati, berbeda dengan kontrak mati. Bahkan lebih kejam. Menyayat perlahan. Saya, nggak bisa menghentikan kata hati saya, untuk mengecek para objek investigasi, hingga tuntas. Walaupun pada hakikatnya, kasus ini tidak pernah bisa selesai. Unfinished, kosa kata yang menyebalkan. 

Dan kemudian, menjadi seorang penguntit adalah sebuah kebutuhan. Seperti makan tiga kali sehari. Atau minum di kala badan butuh cairan. Atau bahkan seperti berdiam memancing ide pagi-pagi di sebuah toilet yang nyaman. Jika tak dilakukan, badan akan terasa lemas, lelah, lesu, dan mungkin tidak bergairah. 

Satu hal lagi. Menjadi seorang mata-mata tak resmi, seperti sebuah zat adiktif. Meminta terus menerus. Nagih. Dan, sebuah kalimat yang harus digarisbawahi. Layaknya zat adiktif pada umumnya, ketagihan ini merugikan, membuat hati berlubang. Menyesak dalam. Mengetahui sebuah, dua buah, atau bahkan ribuan fakta yang terungkap di luar sana. Membuat saya kembali terpuruk ke dalam konflik batin tak berujung. Hanya bisa dihentikan, saat profesi ini dihapuskan dari muka bumi. 

Berharap dapat gaji dari profesi ini? Yap. Saya mendapatkan imbalannya. Air mata atau hati hampa. Fakta atau malah butiran awan pikiran negatif. Satu parcel penuh berisi sembilu, cutter, air keras, racun tikus atau bahkan samurai. Untuk menghunus perasaan. Membunuhnya perlahan. 

Ingin resign? Bagaimana caranya. Sekali lagi. Kontrak hati tak bisa dibatalkan. Sudah perjanjian di atas cap darah, dan materai air mata, seperti yang sudah saya ucapkan sebelumnya. Penguntit seumur hidup yang tak tahu bagaimana cara untuk berhenti melakukannya.

Atau, hanya satu caranya. Teknologi komunikasi tinggi, kembali ditiadakan dari muka bumi. Berbincang lewat kertas surat, beraroma bunga. Bertanda cap bibir, bertuliskan "XOXO" di bagian bawah kertas surat. Mengirimkannya melalui bunga merpati. Atau bisa dimasukkan ke dalam sebuah botol, dihanyutkan hingga ke hilir. Mendarat di lautan, atau hinggap ke ujung pantai nun jauh di sana. 

Dan, saat itulah. Ketika komunikasi tak lagi berbasis teknologi. Saat semua perbincangan, aktualisasi diri, dan media sosial terpatri lewat kertas kembali. Kala itu, saya akan berhenti menjadi penguntit. Resign selamanya dari profesi stalker. Melupakan objek investigasi, melepaskannya begitu saja, menghempaskannya menuju langit luas. Kapankah? Saya-tidak-akan-pernah-tahu-apakah-saya-bisa-atau-tidak. 

you’ve been alright, without me all along
the fact that upsetting, yet a lil bit releaving
time is a mystery, space is a myth
cant be sure where you’re going
the darkness tells me nothing

we’re walking on a different tracks
heading to a different space and time
and i can see you’re doing okay
though i’ll be using telescope
capturing your moves,
deliver love you might not received, not received.


#nowplaying Hollywood Nobody - Telescope

nb: untuk saya, dan seluruh detektif kontrak hati, di seluruh pelosok bumi.

-penceritahujan-

3 komentar:

  1. gokiiiiiil........
    lagunya bagus ne..gw mau donk...

    BalasHapus
  2. emang mata-matain sapa neu???
    eh, gw mao ngopi lagu-lagu lo donk neu....lagu2 lo aneh tapi enak di denger.....

    BalasHapus