Sabtu, 04 Agustus 2012

#2 - I Remember

Bandung, 5 Agustus 2012,



I remember, the way you glanced at me, yes I remember,
I remember, when we caught a shooting star, yes I remember,

Dan, kembali. Tembang yang dilantunkan Mocca itu bergema di telinga, menyentuh sang gendang, untuk kemudian mengalir peluh ke rumah siput - nama bagian yang aneh untuk sebuah area telinga. Alhasil, kembali mendekam di otak. Dan, lagi, irama itu berhasil membuat hati bergejolak.

Saya, adalah seorang fans berat dari memori, ingatan, kenangan, memento, atau apalah itu. Saya, senang menutup mata, untuk hanya membayangkan slideshow-slideshow peristiwa yang telah berlalu. Baik-buruk, senang-sedih, berbunga-bunga atau sakit sekalipun. Saya-senang-menyimpan-semua-itu. 

Memori. Bagi saya, benda abstrak itu adalah salah satu buku maya terbaik yang dimiliki manusia. Best story ever. Layaknya intrik yang terdapat di sinetron, opera sabun, film silat bahkan novel, memori memiliki semua itu. Jika mungkin dikeruk, ratusan bahkan berjuta lembaran penuh aksara teronggok di sana. 

Dan, sekali lagi. Saya. Seorang pecinta kenangan. Yang justru, pernah ingin menghapus sebagian memori, karena lubang menyesak di hati. Ingin lupa kalau ini - dan itu - dan ngana - dan nganu - sudah pernah mengebor dalam-dalam perasaan saya. Seperti film Eternal Sunshine of The Spotless Mind, saya pernah ingin berkunjung ke Lacuna.inc, dan memberikan ingatan saya secara cuma-cuma. 

Tapi, lagi-lagi. Saya, seorang penggemar memento. Dan karena itu, saya sangat menyukai semua tempat yang pernah bercokol dalam ingatan. Salah satunya adalah Bandung, dan anehnya, Jakarta.

Bandung - pastinya - menggenggam peranan penting dalam sudut otak kecil saya. Kota tempat saya lahir, pertama menyukai hujan, perdana mencintai euforia, dan mengenal kata keluarga bahagia. 

Dan Jakarta. Kota yang selalu ditakuti semua orang. "Neu, hati-hati ya di Jakarta, jangan terlalu percaya sama orang kalau di sana," itu adalah rangkaian kalimat yang terlampau sering saya dengar. 

Jakarta, kota tempat saya mencari sesuap nasi. Kota yang ajaibnya, membuat saya jatuh cinta, dengan semua kenangan di dalamnya. Hutan beton bertulang, kemerduan suara bajaj, bersesakan penuh keragaman karakter di dalam bis, euforia musikal, es podeng yang menawan sampai berkhayal di tengah taman aspal kota. 

Dan, lagi. Lirik lagu ini berkumandang dalam ingatan saya. Nggak heran, kalau setiap mendengar lagu ini, air mata berhamburan keluar dari rumahnya. Menggelitik mata saya, hingga tenggorokan terasa tercekat. Membawa sebuah rasa yang selalu saya simpan baik-baik di sebuah kotak rahasia. 

Memory is still the God's awesome gift for human.

I remember, the way you glanced at me, yes I remember
I remember, when we caught a shooting star, yes I remember
I remember, all the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember?

When we were dancing in the rain in that december
And I remember, when my father thought you were a burglar
I remember, all the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

I remember, the way you read your books, yes I remember

The way you tied your shoes, yes I remember
The cake you loved the most, yes I remember
The way you drank you coffee, I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When we caught a shooting star, yes I remember
When we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me, yes I remember.

- penceritahujan -

4 komentar:

  1. kerenn..!! hahhaaaa.. doakan saya lg TA.. naon deuih... hahaaa,,

    BalasHapus
  2. Makasiih mas anoniim :D eh betewe ini siapa ya tapinya hahahaa :)) selamat TA saja kalau begitu ;)

    BalasHapus
  3. samasama..
    panggil saja saya bunga.. hahahaaa..
    AMIN..
    semoga februari diberi kelancaran menjadi insinyur.. hahahaaa..

    BalasHapus
  4. kamu kan mas anonim yang merupakan jelmaan siluman sendal lebaran :")

    BalasHapus