Minggu, 05 Agustus 2012

#3 - Tersenyumlah

Jakarta, 6 Agustus 2012,



Dua-ribu-dua-belas. Beragam prediksi mengelilingi pergantian tahun. Ramalan kiamat, badai matahari hingga bencana besar-besaran di sepanjang tahun. Naudzubillahimindhaligh. Bulu kuduk saya senantiasa bergidik, kala mengingat pergantian waktu akan terjadi. Saya meninggalkan tahun ke-11, di abad Milenium ini, berlalu melewati angka yang selalu saya sukai. Angka sebelas. Menuju angka dua belas.

Tapi, siapa yang bisa mengira-ngira akan apa yang terjadi? Apakah hari esok cerah atau berawan, apakah nanti akan turun hujan atau bahkan angin badai?

Apakah saya akan menangis atau tertawa bahagia?

Ya. Andai saya menjadi seorang cenayang, saya memilih untuk menguras habis air mata dari rumahnya. Mengosongkan hati saya, menggantinya menjadi sebuah mesin yang keras dan tak bisa berlubang. Mungkin, saya juga akan mencari-cari alat untuk menghapus ingatan dengan segera. Obat bius. Atau bahkan, saya menggunakan sebuah batu keras guna melindungi otak saya. Memori saya. 

Banyak yang pergi. Dan ada yang datang. Dan kemudian pergi lagi. Bahkan, salah satu dari sosok terpenting yang ada di hidup saya, memutuskan untuk berpindah ke dimensi lain. Ralat. Tuhan mengirimnya ke dimensi lain, tempat ia berasal. Nun jauh di sana. Terbatas oleh dinding penghalang, yang bernama kehidupan. Dan hanya pesawat surat yang dititipkan melalui doa, yang akan sampai ke dimensi sana. 

Otomatis. Awal hingga pertengahan tahun ini, gerombolan air mata memenuhi indera penglihatan saya. Nyaris lebih dari 120 hari. Hampir setiap minggu, kekosongan itu mampir. Menghampiri hati saya yang setengah sekarat. Yang mungkin, sebentar lagi, lebih baik diganti saja dengan hati imitasi, yang terbuat dari teknologi canggih buatan manusia. 

Tapi,

Saya tahu, Tuhan nggak akan memberi sebuah cobaan yang berada di luar kemampuan saya. Bahkan, ada yang bilang, ujian itu diberikan untuk menaikkan derajat seseorang. Benarkah? Who knows. 

Yang pasti, suasana hati saya terdongkrak seketika, ketika afeksi saya terpenuhi. Saat ada seseorang yang mengelus kepala saya lembut, dan berkata semua akan baik-baik saja. Saat seseorang memeluk saya erat, tanpa mengucap barang sepatah kata. Saat seseorang menghubungi saya, dan hanya mengungkapkan satu kalimat, "I won't ever leave you, matey, believe me, I won't!". 

Saat ada seseorang yang menginginkan saya tersenyum, lebih dari apapun yang pernah saya lakukan di dunia ini. 

Walau kau bersedih janganlah menangis oh sayangku.
Tersenyumlah meski kau terluka
Ku tahu kau sedih janganlah berlarut, oh sayangku.
Tersenyumlah dunia kan bersinar
Kalau duka menyerang jiwa biar hanya hati yang merasa
Tersenyum yang manis biar dunia lebih
Bersinar cerah
Kini kau tak sedih ku jadi bahagia memandangmu 
Tersenyumlah dunia kan bersinar

#nowplaying Naif - Tersenyumlah

Seperti nama saya, Candella, Tuhan menciptakan seonggok saya untuk bisa memberikan sinarnya bagi orang lain. Bagi dunia, secara luas. Jadi, berapa kalipun saya mati, saya pasti bangkit lagi, tersenyum kembali, dan bersinar seperti sedia kala. 

Thankyou people, thankyou besties. I love you, I do!

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar