Senin, 13 Agustus 2012

#5 - Kekal

Jakarta, 14 Agustus 2012,



Ada yang menyebutnya pertanda. Firasat. Signage. Tetapi, tak jarang penolakan terjadi. Denial. Dan berujar dalam satu bentuk kalimat. "Ah, itu kebetulan doang kali". Well, saya nggak pernah percaya sama sesuatu yang kebetulan. Kecelakaan. Accidentally happened ataupun hal lainnya.

Ada seorang anonim, sering berucap sebuah jalinan kata, everything happens for a reason. Klasik, namun memang benar adanya. Tuhan menciptakan semua itu sebagai tanda, bahwa terdapat makna di balik segalanya. 

Tak dinyana. Semua itu adalah cara lain Tuhan berkomunikasi pada makhlukNya. Tentunya, selain dalam ibadah, yang merupakan jalan kita - sebagai manusia - untuk berbincang hangat denganNya. Ya. Belakangan ini, saya melumat habis buku "Supernova" pertama karya Dewi Lestari. Dan, leher pun seakan tercekat membaca sepenggal kalimat milik penulis jenius itu. Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa. 

Ya. Dengan nama apapun setiap manusia memanggil Tuhan, Dia nggak pernah letih mendengarkan manusia. Bahkan, memberi jawaban, balasan, ucapan, lewat pertanda yang berbeda-beda bagi tiap kepala, tentunya. 

Saya, nggak pernah bisa membayangkan. Tuhan, memberi rambu bervariasi bagi setiap makhlukNya. Radar menangkap sinyal tak berbentuk, kemudian diinterpretasikan secara berbeda. Hal ini yang sering membuat manusia salah duga. Salah membaca tanda. Salah memilih jalan, meskipun akhirnya pasti sama. Qadhar, memang sudah tersurat jelas di atas sana. Dalam buku kehidupan setiap manusia.

Saat itu, saya merasa terdapat sebuah ilmu yang sangat diperlukan. Bukan cenayang. Bukan paranormal. Apalagi dukun. Bukan! Saya menyebutnya dengan semiotika alam. Interpretasi tanda yang tepat, agar saya lebih tahu, arus manakah yang harus saya ikuti. Jalan mana yang harus ditempuh. Keyakinan apakah yang harus saya pilih. 

Klise? Memang. 

Tapi, hal ini terjadi di hadapan saya dengan sangat lucu. Terbukti dengan menggelitik. Sekali lagi. Dia menunjukkan tandanya. Lagi. Ya, suatu ketika, kaca di hadapan saya terjatuh - tanpa intervensi pihak luar, baik itu tangan, angin, ataupun hal lainnya. Hanya, anehnya, cermin itu tidak pecah sedikitpun, meskipun jaraknya memungkinkan terjadinya sebuah tabrakan brutal. Bahkan, retak pun tidak. Ajaib? Nggak masuk akal? Atau nggak terkena logika? 

Semua ini menyadarkan saya, lagi, terhadap sebuah tanda. Sesuatu yang belum saatnya pecah, tidak akan pecah. Begitu pula rasa. Bila belum saatnya dia menghilang, menguap, bersatu dengan udara lepas yang mengawang ke angkasa, dia tak akan sama sekali raib. Dia masih menunjukkan jejaknya, bekas tapakannya, dan bahkan, memorinya. 

Namun, ketika sang waktu tiba, Tuhan pun akan memberi tanda, dalam hal apapun. Bisa saja tanda ini saya temukan dari papan baligo di pinggir jalan. Dapat dengan mudah saya saksikan di layar kaca, atau bahkan saya simak ketika saya memperhatikan linimasa jejaring sosial. Ya, quotes dan sinyal ini tersebar dimana-mana. Nggak perlu dicari. Interpretasi tanda pun terjadi. Rasa itu, harus pergi.

Rasa itu mungkin tidak menghilang sepenuhnya. Dia, masih ada. Kekal. Hanya saja, sang rasa berubah, bertransformasi. Membeku, mengkristal, mati suri. Menjadi batu berkilau yang kelak, cuma dilihat bak sebuah pajangan. Kenangan. Memoribilia.

Ya. Everything happens for a reason. Dan sepertinya, kali ini, Tuhan memberi tandaNya. Ingin agar sesegera mungkin saya-hanya-mengubah-rasa-ini. Dari ada, menjadi tiada. Dari besar, menjadi kecil. Dari luas menjadi sempit. Dari dominan, menjadi minor. Dari mencair, menjadi membeku. 

It so dark in here
No I can`t see a light
Take all the fires on me
 
It`s all my desire
But you just surrender
Take all the pain in your dreams

Langkahku terpejam

Titikku berada
Perlahan arahku memudar

Semu bayangku

Cermin tak berujar
Kemana arahku berjalan

Semua

Tertuju pada bayangku
Saat 
kau renggut nafas jiwaku
Biaskan angkuh diriku 

#nowplaying Homogenic - Kekal

Dan, bila kelak tiba saatnya Tuhan memberi tanda, bahwa saya harus berubah menjadi sesosok yang tak memiliki rupa. Menjadi dia yang sudah tidak ada. Satu hal yang saya inginkan. Kertas-kertas elektronik ini, bersama semua pertanda dan seluruh sinyal Tuhan, membuat saya tetap kekal. 

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar