Rabu, 18 Januari 2012

#5 - Selamat Tinggal Payung Kuning !

Halo Payung Kuning! Sosok kamu tuh kaya ilusi. Fatamorgana. Kadang dateng, kadang pergi. Hari ini, kamu masih ada di genggamanku. Erat, sangat.

Suatu ketika di istana hujan, dia menitipkanmu padaku. Menitipkan sesosok payung kuning kesukaannya, mempercayakanmu untuk kupinjam. Entah lah, apa dia akan mengambilnya kembali saat dia menemukan penggantiku?

Hari itu, dia kembali menghubungiku, Payung Kuning. Padahal segala upaya daya aku lakukan agar menghilang darinya. #sigh

Nyatanya, dia datang lagi, dan berkata, "Apa kabar kamu?"

Aku nggak mungkin nggak nangis, Payung Kuning, aku tau banget kamu mengintip dari balik lemari sana. Melihat aku terisak saat suratnya tampil dalam layar komputerku. 

"Hujan ya hari ini?" ujarnya. Kamu pasti lagi mengejek muka jelekku yang kala itu sedang sembab deh. Yakin. Kamu curi-curi baca pesannya kan, Kuning?

Aku nggak tahu harus ngapain, Kuning. Kata "hujan" dan "gerimis" merupakan kata sakral untukku dan dia. Kamu saksi bisu dari semua itu. Aku tau pasti!

Baiklah, kulihat kuningmu sudah enggak secerah dulu, kamu pun sudah melupakan senandung hujan yang biasa kamu nyanyikan bertahun-tahun lalu. 

Kenapa kamu? Kamu sakit? Panas? Kebanyakan hujan-hujanan? Keracunan kah? Atau kenapa?

"Saya ingin kalian main hujan-hujanan lagi, tapi kalian berdua. Hujan, dan gerimis," ujarmu letih. "Kamu tau kah? Saya sekarat." 

Setiap hari, kamu hanya berdiam dalam lemari itu, murung. Bahkan cenderung berubah menjadi warna abu. Monokrom. Jiwamu nyaris terhisap oleh entah apa itu. Mana Si Payung Kuning cantik yang selalu bahagia?

Hari ini, aku akan mengembalikanmu ke pemilikmu, Payung Kuning. You doesn't belong to me anymore. Kamu nggak akan bahagia melihatku terus menangis, menghapus satu persatu lembaran memori sampai tak bersisa.

Tuh, lihatlah, pemilikmu - pria pecinta gerimis - sudah bersanding bersama seorang nona pagi yang manis. Dia juga menyukai hujan, Payung Kuning, dia pasti menyukaimu. 

Baiklah, Payung Kuning, ini saatnya kamu pindah kembali ke rumahmu sebenarnya, lemari yang terkunci rapat dalam hatinya. Lemari yang sudah menjadi hak milik Pria Gerimis dan Nona Pagi. 

"Kasihan Payung Kuningnya, kasihan hati kamu," ujar pria itu sembari tersenyum, melihatku sulit melepaskan genggaman dari batang tubuhmu, Kuning. 

Iya, memang, kasihan kamu, kasihan dia juga. Berat? Sangat. Kamu sudah kujaga baik-baik, kusimpan erat di lemari tersembunyi itu. Memelukmu di kala hujan tiba atau saat nggak ada seorang pun yang tahu. Sekarang, aku harus pura-pura nggak pernah kenal kamu. Pura-pura menganggap kamu cuma seonggok payung biasa. Ga bernyawa. 

Goodbye dear Yellow! Aku harus rela ngeliat kamu perlahan dikembangkan olehnya. Bukan aku yang ada di bawah sana. 

Hey, tenang aja, nanti kelak kamu juga akan bahagia, warna kuningmu akan cerah kembali. Predikat 'hujan' yang ada pada nama belakangku pun akan lepas perlahan, berganti menjadi tahta seorang nona cantik di pinggir sana. 

Dan ingatan tentangku pun akan menyurut, Kuning, aku yakin itu. 

Goodbye dear, take care!

nb : halo pemilik payung, tolong jaga Payung Kuning baik-baik ya :)

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar