Selasa, 31 Januari 2012

#18 - Halo Musuh Semasa Bocah!

-hari kedelapanbelas-

Dua belas tahun yang lalu ....
Halo, bisa bicara dengan Hafidh? | Iya, dari siapa? | Dari Kanne. | Ini saya sendiri. | Eh.. euuhh, Hafidh, maafin ya kalo selama ini saya punya salah | Oh iya ga apa-apa. | *ceklik* *telepon diputuskan sepihak dan seorang Kanne terdiam.

Hey kamu. Apa kabarnya? Udah jadi dokter ya gosipnya? Masih inget sama saya kah? Nama orang yang dulu pernah duduk di sebelah kamu, yang bahkan kamu nggak mau menoleh sedikit pun ke arah saya, entah kenapa. 

Iya, saya Kanne, Candella Sardjito, teman sekelas kamu di kelas 2 C SMP. Yang nggak pernah mau kamu sapa, ataupun sekedar meminjam penghapus Boxy – yang sebenarnya terletak jelas di meja saya yang bersentuhan dengan mejamu.

Sering banget kisah ini saya tuliskan di diary saya yang jumlahnya nggak terhitung lagi, ya ada nama kamu di dalamnya, rasa penasaran dan sedikit tertekan kali ya? Saya jadi objek "bully" tapi cuma sama kamu aja, aneh deh. 

Kenapa sih lo Fidh? Ada yang salah dari gue? Gue salah apa sampai lo kaya gitu banget sama gue. Gue sehina itu ya sampai lo bahkan ngejek-ngejek gue dari belakang.

Hehe, no hard feeling ya, tapi emang saya senyebelin itu ya sampai-sampai waktu saya minta maaf juga kamu cuekin dan anggap angin lalu? *pertanyaan super-duper serius*

By the way,
aneh juga rasanya karena akhirnya saya menikmati sebuah perasaan ajaib itu. Benci tapi cinta, ahaha, cinta monyet lah pastinya. Musuhan tapi ga jelas kenapa musuhannya, suka tapi ga ngerti juga kenapa sukanya. Kalo kamu ada bawaannya bikin emosi, tapi kalo nggak ada malah dicari-cari. Klasik deh Neu!

Kelas dua berlalu, entah saya harus senang atau sedih. Senang karena akhirnya saya jauh denganmu, dan sedih karena alasan yang serupa. Absurd ya?

Sampai akhirnya, kita pisah kelas, sampai pisah sekolah. Kamu beranjak ke sebuah sekolah negeri favorit dan saya lebih memilih sekolah swasta. Nggak ada sedikit pun kalimat penyelesaian dari apa yang telah terjadi selama itu. Permusuhan yang tak berujung, atau perasaan terpendam yang membuat penasaran.

Ingat kah kamu, saya akhirnya pernah menghubungimu sesekali? Saat itu, kamu tertawa ketika saya bertanya, “Dulu tuh saya punya salah apa sih sama kamu, sampai segitunya?”

Dan kamu hanya berkata, “Udah ah malu, jangan dibahas, masa kecil, masa lalu.”

".......???"

Kocak ya, menggali kenangan di tepian otak kecil saya ini seperti memutar ulang video yang bertuliskan namamu, sebuah cerita (cinta) monyet yang tak pernah berujung karena tak jelas kapan semua itu dimulai. 

Someday, kita pasti ketemu lagi, saya yakin itu. Dan apa yang akan saya katakan ketika kelak bertatap muka kembali? 

"Hay, kamu masih inget teman sebangkumu yang sebenarnya dulu pernah suka tapi dimusuhin habis-habisan sama kamu?" 

No hard feeling, really. :) Take care ya Pak Dokter Hafidh Seno, salah satu tokoh yang masuk ke dalam jajaran kisah cinta teraneh saya semasa bocah. 

#nowplaying New Radical - Someday We'll Know 

-penceritahujan- 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar