Sabtu, 17 September 2011

#2 - Kursi F Gerbong Satu

Kaleidoskop Pagi (taken by me)

Mimpi menyebalkan datang lagi. Rega, gerimis, hujan, taman. Menyebalkan. Rasanya lelah untuk terbangun dalam keadaan mata sembab dan seperti panda. Air mata juga sepertinya bosan terus-terusan berlinang di permukaan pipiku.

"Kami pengen istirahat, Nona Mirabilly, udah dong jangan paksa kami kerja dulu," bisik para tetesan air mata ini ke telingaku.

"KUKURUUUYUUUK! Bangun,bangun,bangun!"

Sial, suara Pinkayam membuatku kaget, lamunan dan spektrum mimpi tentang Rega terhapus sudah. Wajah Pinkayam - sang weker berbentuk ayam merah muda - seakan berkata, "Bangun, Mirabilly, ini kan hari Sabtu!"

Sabtu. Pukul 4 pagi. Mandi air hangat. Rutinitas akhir pekan menantiku. Stasiun bernuansa biru peluh pun telah menungguku dengan sabar. Ya, kesibukan yang tak berarti seakan wanita karir yang hobi wara-wiri ini, dapat membantuku melupakan sang oknum pria gerimis itu.
***

"Argo Parahyangan, gerbong satu di lajur empat, Mbak, lima menit lagi berangkat," sahut pria berkostum hitam-putih ala penjaga keamanan suatu bangunan.

Luar biasa, jarum jamku terdiam membeku tak bergerak barang satu mili pun. Lima menit atau tidak sama sekali. Langkah seribu pun aku ambil, tak pandang area di sekitarku. Semua seakan blur dan samar, seperti menggunakan aperture rendah di kamera SLR. Fokusku hanya diarahkan pada pintu masuk gerbong kereta bertuliskan angka satu.

Walau undakan menuju gerbong kereta nan tinggi itu sudah dilepas, tak ada salahnya memanfaatkan hobiku di masa kecil, memanjat. Semen yang menempel pada tiang-tiang pondasi pun kunaiki. "Masa gini doang gua gabisa," ujarku dalam hati.

Dan...hap! Lompatanku cukup mengguncang gerbong bernuansa eksterior abu-abu. Maaf ya kereta, jangan salahin saya kenapa saya bertambah berat. Salahin mama saya aja gimana yang rajin banget ngasih saya makan sampai saya selebar ini?

Aku pernah mengalami berada di gerbong kedua, ataupun gerbong tiga. Menapaki kaki di gerbong satu kelas eksekutif menuju Jakarta merupakan salah satu pengalaman baru. Aku ingin mencoba satu per satu kursinya, mendudukinya perlahan bahkan ikut berjam-jam mengenalnya.

Sepi. Gerbong ini seakan hanya diisi oleh beberapa penghuni. Luar biasa sempurna. Perfecto! Bukankah ini yang aku dambakan? Sebuah tempat melamun yang hening dan bebas gangguan?

Kursi mana ya, kursi J, kursi I. Hmm.. Oh, kursi F, baiklah. Tempat duduk dan jendela yang raksasa seakan memanggilku dengan manisnya. Aku memang sangat suka menebar dan melambungkan awan-awan lamunanku di spot cantik seperti ini. Kereta Subuh, jendela kaca, embun pagi dan titik-titik gerimis lagi. Baiklah, gerimis lagi, gerimis lagi.

Rega, pagi, dan gerimis. Please Rega please.

Still everyday I think about you
I know for a fact it's not your problem.
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse

~ Adhitya Sofyan - Blue Sky Collapse
***
Spektrum warna-warni, kepingan demi kepingannya melayang ke arahku. Memecah gelap yang menguasai pandanganku. Sekali lagi, cantik sekali, seperti sedang mengintip lubang kaleidoskop.

Di antara soundtrack dunia kaleidoskop "Hoppipolla" yang dilantunkan suara emas Jonsi bersama  Sigur Ros, samar-samar terdengar suara, "Maaf Mbak, tiketnya mana ya?"

Tingtong! Spektrum-spektrum tadi seakan buyar. Kepingan kristal kaleidoskop terhisap memasuki blackhole dalam pikiranku, kemudian berganti menjadi pemandangan seorang pria berkumis lebat berkostum biru tua, dengan bentuk seragam mirip tentara.

Oh! Ternyata dia kepala masinis yang berkeliling untuk mengecek tiket milik penumpang, satu per satu. Dan aku tertidur pulas, selepas kereta berangkat dan headset mencolok telinga.

Langsung saja aku panik. Mencari kemanakah tiketku berada. Di saku, di tas, di dompet, alamakjang! Masa iya hilang? Pucat pasi berkolaborasi dengan kaget mendominasi ekspresi wajahku. Kumis sang masinis seakan mau mengusirku perlahan. Wajahnya tampak galak, mirip dengan salah satu tokoh di serial kartun Crayon Sinchan. Mirip sekali.

"Pak, ini tiketnya Si Mbak yang itu, tadi jatuh di jalan," ada suara cukup berat menyahut di balik kursi depanku. Kemudian Pak Masinis mengambil lembaran kertas keras tersebut, lalu memberikannya padaku. Aku terdiam seketika.

Aku hanya melihat tangannya yang sekilas memakai jam tangan hitam dan jaket berwarna hitam pula. Sudah. Itulah yang aku tangkap dari penyelamatku kali ini.

"Mmm, Mas, makasih ya," ujarku sambil mengintip dari sela-sela kursi kereta. Terlihat sedikit perawakan yang ia miliki. Jaket hitam serta rambut terikat.

"Sama-sama ya Mbak," pemilik suara itu kemudian menoleh melalui sela-sela kursi yang berbatasan dengan kaca. Senyumnya sedikit terlihat. He has a very nice smile, eventhough I don't see it clearly, aku cuma melihat sepertiga wajahnya saja.

Titik-titik gerimis manis menghiasi kaca kereta lagi. Hujan, cantik sekali. Seperti kaleidoskop. Kaleidoskop hujan.

Di antara sela-sela perhimpitan kursi sang pria misterius dan kaca, tiba-tiba tertempel kertas bergambar senyum di tengah-tengah kaca kaleidoskop ini. Si pria yang tampak sepertiga, sekali lagi, menoleh sedikit dan tersenyum ke arahku.

Buru-buru kucari kertas dalam tas, menuliskan sesuatu, dan bubuhkan selotip seadanya.

"THANK YOU" dengan tinta spidol warna merah kutaruh apik di bawah tanda senyum.  Bersama bersanding di balik kaleidoskop yang Tuhan ciptakan dari kaca dan hujan. Halo pria gerbong satu, salam kenal.

#NowPlaying Cranberries - Dreams.

-bersambung-

http://30hariceritacinta.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar