Sabtu, 17 September 2011

#3 Pria Gerbong Satu

Pria gerbong satu. Itu saja julukannya. Aku bingung akan menamainya apalagi. Sepertinya dia semacam Charlie Chaplin atau Mr.Bean yang minim mengeluarkan kata dari mulutnya. Oh maaf, ralat, dia itu seperti patung yang baru belajar menjelma menjadi manusia, hanya sedikit bergerak ataupun berbicara. Kalimat terakhir yang muncul dari mulutnya adalah, "Sama-sama ya Mbak," dan aktivitas terakhir yang ia lakukan adalah menempelkan kertas bergambar senyum di kaleidoskop hujan, kaca kereta gerbong satu.

Kursi dan jendela kaca membentuk jarak, menyerupai semacam lubang intip. Di sana lah aku berusaha mendeteksi seperti apa rupa pria misterius yang telah menolongku tadi pagi. Bayangkan, sudah hampir setengah perjalanan – dari langit gelap, berganti menjadi gradasi biru ke ungu, hingga warna spektrum matahari terbias kabut pagi – aku masih belum sanggup menyapa atau sekedar melihat wajahnya. Hanya sepertiga. Bagian setengah senyuman, setengah batang hidung dan sebelah mata.

Berbagai cara kulakukan untuk mengintip sang superhero tiket yang satu ini, tapi hasilnya, NI – HIL ! Yang kudapatkan hanya pemandangan punggung yang terbalut jaket hitam, kulit tangan yang agak kecoklatan dan rambut panjang ikal terikat rapi. Dalam genggamannya, teronggok manis sebundel majalah berwarna kuning pada covernya. Sebuah majalah ternama, yang tak salah lagi, menjadi salah satu cita-cita tujuan pekerjaanku kelak – seorang travel writer.

So the point is, aku sedang berada dalam sebuah titik tertinggi rasa penasaran nan menggebu-gebu. Namun Sang Penasaran rupanya bertarung sengit dengan Si Gengsi yang terlalu tinggi dalam diri seorang Mirrabilly Shialava. Sial. Sepertinya dalam diriku, kedua pihak ini sedang baku hantam hingga lebam-lebam. Atau juga terjadi pertumpahan darah bak film-film perang seperti 300, Braveheart ataupun Bands of Brother.

Tengtengterengteng! Rasa gengsi mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Sang Penasaran mengalahkannya dengan telak. "Baiklah, ayo Mirabilly, kamu bisa!" ujarku dalam hati, seolah sedang membawa bambu runcing, maju menuju medan perang.

Sontak aku berdiri meninggalkan kursi F dan kaleidoskop hujan raksasaku. Sungguh, jika aku tak bisa menyapa sang misterius ini aku bersumpah akan membuat web atau blognya saat aku pulang nanti. Aku-ingin-menyapa-pria-gerbong-satu-dot-kom.

Kulangkahkan kaki menuju kursinya dan............ OK, baiklah, dia tidur saudara-saudara! Terlelap dengan wajah tertutup jaket, tangan menyilang dan bertumpu kaki. Sial. Mana bisa aku melihat sisa dua per tiga yang terhalang oleh kursi dan jarak-jarak tak menentu ini. Yang bisa kutangkap adalah, pria misterius ini bercelana jeans, so casual, dengan sepatu converse hitam putih semata kaki, sama persis dengan yang sedang kukenakan kali ini. Sisanya, aku hanya melihat tampak depan yang terbalut jaket hitam tebal.

Daripada terlanjur malu karena berdiri mendadak, aku pun berniat mengunjungi toilet yang terdepat di sambungan gerbong satu ke gerbong lainnya. Sial, sekalinya gengsi gue kalah, eh si bocah oknum pembuat peperangan ini malah tidur.

Kubuka pintu toilet perlahan. Baiklah, sebenarnya kan aku tak ingin buang air kecil atau apapun. Aku hanya duduk di atas kloset, dan melamun. Renungan kloset, demikian julukanku. Toilet, kloset dan hal-hal lain yang berbau sanitasi memang spot yang paling cocok untuk melambungkan awan-awan lamunan, atau bahkan keluhan dan air mata. Tak jarang aku menelepon Rega di sana. Atau hanya sekedar mengirim pesan dan berkata "Saya lagi renungan kloset lho". Bahkan kloset pun menyimpan kenangan bersama Rega. Rega is all around.

Sudahlah, 5 menit cukup untuk membuang semua keluhanku dan awan-awan lamunanku tentang Rega. Rega Petrichor, si pria pembuat kutukan gerimis yang hinggap di pori-pori kulitku, menyusup melalui tangkapan cahaya oleh pupil mataku, bahkan ikut masuk melalui gendang telingaku. Kenapa sih saya nggak bisa semudah itu ngelupain kamu, kaya kamu ngelupain saya?

Pintu toilet pun kubuka. Dengan wajah tertunduk dan lesu aku mengambil langkah keluar dari stainless flooring itu. Eh, sepertinya ada orang yang sudah menungguku keluar toilet dari tadi. Aku melihat sosok itu dari bawah ke atas, dalam slow motion style. Converse hitam-putih, jeans, T-Shirt tye-dye bergambar The Beatles, dan..... ya, itu dia. Sang pria misterius yang ingin kuucapkan kata terimakasih, karena telah menjadi penyelamat tiketku. Dia si pria gerbong satu.

Sesaat, waktu pun seakan terhenti. Freeze! Seperti di film-film layar lebar luar negeri. Angle kamera pun berubah-ubah. Diputar perlahan, masih dalam freeze motion. Wajahnya panjang sedikit membentuk persegi panjang. Matanya besar, bulat, namun agak menyipit ke arah pelipis. Menusuk, seperti elang. Rambutnya ikal menuju keriting, terikat konde dengan rapinya. Oh, inilah wajah asli sang pria gerbong satu.

Dia tersenyum. Senyuman yang ia lontarkan dari sela-sela kursi kereta. Bentuk bibirnya bahkan sama persis seperti bentuk smiley face yang ia gambarkan di kertas tadi. Senyuman sepertiga yang kini kulihat bersatu dengan dua per tiga bagian yang samar dari pandangan kursi F tadi. He has a very good way of smiling.
"Eung... mau ke toilet?" Tingtong! Pertanyaan bodoh malah kulontarkan dari mulutku. Bego! Bedon! Benga! Tolol! Jelas-jelas dia menungguku keluar dari toilet, karena dia juga berurusan dengan kloset, wastafel, tissue toilet dan lantai-lantai stainless kereta itu. Mirabilly, kamu suka bego deh.

"Iya..." suara berat itu terlontar lagi. Suara yang telah menolongku hari ini. Apakah dia superhero yang Tuhan kirimkan untukku, ataukah utusan planet hujan yang tak ingin aku mendayu-dayu pada sang pria gerimis?

Kembali ke dunia nyata, aku memasuki gerbong satu kembali. Rasa penasaranku sudah tuntas. Aku sudah melihat wajahnya. Dan mungkin dia sedang bergumul bersama awan-awan lamunan tentang Rega yang baru kutinggalkan di sana. Mungkin akan tetap di sana, atau akan kembali mengejar untuk menghantuiku kembali.

Sudahlah, hari ini, rehat sebentar ya awan-awan kenangan Rega. Aku lelah. Ingin istirahat, barang sehari saja. Ya?

Kembali menduduki kursi F di gerbong satu, kembali lagi menatap kaleidoskop hujan dengan titik-titik air yang mulai mengering, dibawa pergi oleh spektrum cahaya cantik untuk kembali menghadap istana hujan di atas awan. Kembali membenamkan diri dalam playlist gerbong satuku dalam iPod, dan memejamkan mata perlahan.

That my heart has been captured by your funny little smile
Finally I'm happy if only for a while.

#nowplaying Alexander Rybak – Funny Little World.

:)

-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar