Kamis, 01 September 2011

Another Absurdia

Anggap saja nama kamu Kalkun, dan saya Ikan Mas. Kamu hidup di kandang Pak Tani sana, sedangkan saya tinggal di kolam cantik ini. Kamu berkawan dengan rumput, kupu-kupu dan jerami, saya bersahabat dengan batu, pelet ikan, dan larva manis yang mengapung peluh di sini.

Enam tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain. Obrolan kita hanya seputar cacian dan makian. Kenapa kamu berlemak banyak, kenapa pipi saya pipih nggak jelas. Mengapa kamu suka buang kotoran sembarangan dan mengapa ludah saya banyak tertimbun dalam kolam. Dahimu tampak berkerut penuh, sirip saya pun mengembangkan sauh.

Kamu aneh, dan saya rancu. We're perfectly match for each other, right?

Batas dunia memang menghalangi saya untuk bertemu kamu. Saya, hanya bisa melihat kamu, mencela kamu lewat biasan air-air jernih di atas kepala saya. Lebih dari itu, alergi kulit kembali menyerang saya. Matahari nggak pernah bersahabat akrab dengan sisik-sisik di tubuh saya.  Dan kamu pun takut menyentuh air, "Dingin, ngapain sih ke sana!" ujarmu sambil berlalu.

Harga diri tinggi memakan habis nurani. Hanya butuh satu kalimat yang berkata, "Kita itu ambigu, absurd." Tak saling menyentuh peluh layaknya para kalkun pada umumnya, atau bergerumul layaknya ikan-ikan mas yang sedang jatuh hati. Saya hanya melihatmu dari jauh, dan kamu pun begitu. Seakan terpisah oleh kaca lunak yang menakutkan. Mungkin akan membuatmu tenggelam perlahan, atau membuat saya mengiris tipis.

Enam tahun. Kita itu apa?
"Kategori sendiri, ambigu." ungkapmu, sambil mengindahkan wajah saya, tepat di depan matamu.
"Ambigu?"
"Bukan teman, bukan kekasih, bahkan bukan musuh."
"Jadi?"

Ya, ambigu ini, tetap menjadi ambigu.
Saya tetap Ikan Mas di kolam batu, kamu pun tetap menjadi Kalkun menyebalkan, yang dahulu, saya harapkan, "Pergi kamu jauh!"

Dan sekalii lagi, kamu berkata, "Hubungan kita tuh ga jelas ya,"

Saya butuh kamu, dan kamu butuh saya, tapi terpisah kaca tak bernyawa.

Kali ini saya iri dengan para ikan mas yang bercanda mesra dengan para pasangannya. Mereka satu dunia, dan mereka bebas memanggilnya nama kesayangan, "Sayang," ujar mereka pada belahan hatinya. 

Saya? Apakah saya harus meluruhkan harga diri saya? Atau kah saya berubah menjadi putri duyung agar bisa naik ke daratan dan bertatap wajah denganmu? Sudah, cukup.

Saya tak pernah bisa jadi seekor Kalkun, dan kamu pun tak pernah bisa berubah menjadi Ikan Mas. :)

Walau begitu, sekelebat rasa panas dekat insang sedikit mengadakan pro-kontra dalam hati saya.

Dan sekali lagi, timbul pertanyaan, hubungan seperti apa yang kita inginkan?

Jelas.
Tak jelas.

Ambigu, ya, mungkin itu, saya, dan kamu.

#penceritahujan#010911#rumahmini#

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar