Jumat, 13 Agustus 2010

Aku Lilin, Dan Aku Bercerita.

Aku, ya aku adalah sebuah lilin. Aku adalah sebuah lilin dengan bentuk yang entahlah itu sempurna atau tidak. Lilin biasa saja yang berwarna putih dan dapat membantu para-para makhluk lainnya untuk menerangi kegelapan.

Aku yang pada jaman kejayaannya sangat disanjung-sanjung, dipuji, terbiasa dengan panggilan yang indah, sangat berguna bagi kehidupan di dunia ini. Tanpa ada aku, mereka tidak akan bisa hidup.

Namun aku yang masa kini sudah mulai dilupakan, dan sudah tidak pernah bercahaya kembali. Entahlah karena bentukku yang membosankan ataukah rupaku yang putih pucat tak terawat. Mereka lebih berpaling melihat ke arah para lampu yang bersinar lebih manis dan memiliki bentuk yang lebih cantik. Jelas aku kalah oleh mereka. Aku tak pernah dan tak bisa mengharapkan pujian yang lebih. Sama sekali hilang ambisiku untuk mendapatkan semua itu.

Namun, datanglah dia, seorang makhluk aneh yang menyukai diriku, yang mungkin kukira dia menyukaiku apa adanya. Dia bilang dia menyukaiku karena aku sederhana. Karena aku berwarna putih, karena aku memiliki bentuk yang indah dan klasik - menurutnya. Aku yang sudah jatuh, sangat jatuh selama belasan tahun ini menjadi bangkit kembali karena dia. Dia yang selalu memujiku tanpa bosannya.

Rasa kepemilikanku pada sang makhluk aneh ini semakin menjadi-jadi. Aku tidak ingin dia pergi. Aku tidak ingin dia melihat ke arah makhluk lain lagi, ataupun barang lain lagi. Aku sangat percaya kepada ucapannya, dan pujiannya yang tampak tulus serta mata yang berbinar.

Rasa kepemilikanku yang seharusnya tak begini. Mana ada lilin posesif terhadap pemiliknya? Hal ini sungguh jarang terjadi.

Rasa ketakutanku berujung kepada suatu malam, dimana dia mulai memperhatikan sejenisku yang lebih menarik lagi bentuknya. Perlu diketahui, telah banyak lilin yang beredar di sekelilingku, lilin lain yang jauh lebih menarik tentu baginya. Seharusnya diriku yang benar-benar tidak ada apa-apanya ini tidak usah terlalu berharap lebih pada sesosok makhluk aneh yang tiap hari memujiku itu. Yes, because I am nothing at all, nothing to compare.

Kemudian hal yang kutakutkan terjadi, dia memegang dan merasa tertarik dengan lilin lain yang berwarna putih bersih, dengan bentuk yang lebih indah, dan lebih cantik pastinya. Sedangkan hari itu, aku sengaja mengecat diriku agak berwarna dengan alasan untuk mencuri perhatian sang makhluk aneh itu. Dan, dia menarik lilin itu, dan matanya seolah berkata “dia lebih cantik dari kamu, hey lilin yang di seberang sana, aku menyukai lilin yang putih, sedang kamu hari ini tidak sedang berwarna putih”, dan untuk sesaat sang makhluk aneh itu memperhatikan lilin di pertokoan baru di ujung sana, dan aku merasa tercampakkan.

Ah! Aku seperti makhluk bodoh! Aku terlalu sombong karena dia terlalu sering memujaku. Aku terlalu menganggap di matanya akulah lilin yang paling indah, dan paling cantik. Padahal sebenarnya aku bukan apa apa. Sekali lagi, aku hanya lilin bekas tak terpakai yang ia punya. Untuk apa aku berharap lebih, padahal aku bukan apa-apa? Sudah cukup senang aku dengan perasaannya yang menyukaiku pun, tetapi aku malah berharap lebih untuk menjadi yang nomor satu dimatanya.

Dan akupun terbakar, mulai membakar diri. Lebih baik aku meleleh dengan rasa sakit ini. Lebih baik aku mencair, melebur dan biarlah rasa sakit ini tersimpan erat.

.kandela.250710.saatsaatgalau.

*Salam untuk teman lilin-lilin cantik yang lain, yang lebih menarik dariku, dan pastinya salam untuk makhluk sesosok manusia yang telah lama kuharapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar