Minggu, 02 September 2012

Titiran #1

Menahan perasaan itu sungguh enggak asyik. Seperti menahan hasrat buang angin, demi menjaga kesopanan, menjaga agar orang sekeliling tak menghirup bau busuk hasil sekresi tubuh. Setahan apapun, tetap aja menjadi sebuah penyakit. Enggak ada keren-kerennya sama sekali.

Tapi, bukan seorang aku, kalau melakukan aksi defensif saja tidak bisa. Kalimat-kalimat pembenaran meluncur lancar dari bibirku.

"Titiran? Dia baik-baik aja kok, kita lagi jarang main bareng aja, lagi sibuk," ujarku enteng, ketika salah seorang teman bertanya tentang Titiran.

Ya, Titiran adalah sebuah nama yang menetap dalam hatiku selama hampir 6 bulan ke belakang. Nama yang masih membuatku menyesak dalam. Titiran menjadi sebuah diksi bagi rasa tersembunyi. Luka yang disusupi.

Aku melarikan diri dari perasaan itu, dari gelitik kupu-kupu yang bertuliskan nama Titiran di sayapnya. Aku melangkahkan diri sejauh mungkin. Menyimpannya baik-baik dalam sebuah kotak besi bergembok. Dan ingin membiarkannya mati menjamur di dalam sana, bersatu menjadi abu.

Walau sebenarnya, nama Titiran masih mendominasi slideshow mimpiku tadi malam. Wajah Titiran masih menghiasi bola-bola kapas maya di atas kepala. Suara Titiran masih sering mendengung di telinga.

Tidak ada yang tahu akan eksistensi rasa ini, kecuali aku, Titiran, dan Tuhan. Karena norma. Karena menjaga perasaan. Karena aku, terlibat dalam sebuah kasus bernama status hubungan yang telah lama dibina.

Utamanya, karena Titiran, masih belum bisa melihat aku sebagai seorang aku, barang sedetikpun. Dan Titiran takut sakit. Oleh karena itu, tak masalah aku sakit. Tak masalah aku menjadi seorang penipu. Asal bukan Titiran yang sakit. Asal bukan Titiran yang sedih. Sebuah kalimat klise yang harus merundungiku kali ini: ASAL TITIRAN BAHAGIA.

Ketika aku keluar rumah, aku tampak ceria. Aku menggunakan topengku lagi, topeng dengan senyuman maksimal, serupa dengan bulan sabit terang benderang di langit malam. Aku, meninggalkan semua ketidakseimbangan magnet hati di dalam ruangan penuh privasi, yang hanya bisa dimasuki oleh aku dan Tuhan.

Dan bila kelak Titiran ingin meminta kuncinya, membaca hatiku perlahan - sekali lagi - aku akan memberinya tanpa biaya. Cuma-cuma.

Hatiku pun lirih. Lantas, aku menatap wajah Titiran dalam bayangan maya dan berkata, "Titiran? Masihkah kamu mau mampir kemari?"

                                                                  ***

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar