Senin, 08 Oktober 2012

Ekspektasi #1

Jakarta, 8 Oktober 2012,

Aku senang mengumpulkan mimpi yang datang di malam hari. Dia tumbuh perlahan dari bibit harapan yang kutanam tadi siang. Membentuk perdu-perdu meliuk dengan daunnya yang hijau segar. Pemberi unsur hara untuk tanah maya dalam salah satu dimensi brankas memori.

Pohon itu beranjak tinggi menjadi sebuah batang berkambium yang gagah perkasa. Nama spesies pohon itu adalah Ekspektasi. 

Dia sudah berbuah merekah. Mengambil mimpi dari pohonnya, seperti menangkap kunang-kunang yang beterbangan dengan kelap-kelipnya yang manja. Aku memetiknya, lalu kuletakkan dalam sebuah keranjang jerami.

Kukumpulkan hingga dia memenuhi isi keranjang jerami. Satu demi satu, sampai tak terhitung lagi.

Kata orang tua, serakah itu tidak baik. Sesuatu yang berlebih, akan membuat isinya berantakan, berserak acak tak beraturan.

Dan, ya! Buah ekspektasi yang kupetik begitu banyak. Memenuhi kapasitas lemari rahasia dalam sebuah ruang hampa bernama hati. Keranjang jerami tak sanggup menampungnya. Jalinan jala itu robek. Buah-buah ekspektasi itu berjatuhan di tengah jalan, direbut oleh semut hitam yang langsung mengerubunginya dengan agresif. Sialan.

Kini, ekspektasi kembali menjadi sebuah ruang hampa. Kosong, udara-udara negatif mengisinya, mendorong semua mimpi cantik yang kukarang tadi siang.

Dan aku harus terbangun lagi. Memasuki sebuah dimensi bernama dunia nyata, dimana pohon Ekspektasi tak sepenuhnya menunjukkan sebuah eksistensi.

Meskipun begitu, satu yang kutahu. Ekspektasiku terlalu tinggi, dan aku harus menurunkan persentasinya menjadi titik nol kembali. Menanamnya dari sebuah bibit, dan bersabar menantinya tumbuh berkembang, menjadi sebuah peristiwa yang menjadi nyata - bukan hanya maya.

-penceritahujan-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar