Kamis, 31 Januari 2013

Hari ke-30: Semakin Jadi Benang Kusut

Jakarta, penghujung Januari 2013,


Tiga puluh tulisan dalam program 30 Hari Bercerita rampung selama bulan Januari. Antara percaya dan nggak percaya, karena sejak bekerja di sebuah grup media besar, saya seakan tak sempat menghibur diri dengan mengisi-isi blog hingga sebegini rajinnya. Bahkan, di tahun 2012 lalu, saya pernah vakum menulis untuk diri sendiri, selama sekitar 1 bulan. Waw, buat saya hal itu awkward banget, mengingat bagi saya, menulis adalah satu-satunya hiburan yang saya miliki di ibukota.

Sejak awal saya mengikuti program ini, saya ingin menutupnya dengan sejuta ucapan terimakasih pada 30 Hari Bercerita yang membantu saya mengaktifkan jari jemari agar mau bergerak bebas lagi. Menari-nari kembali.

Terdapat beberapa hal menyenangkan yang bisa saya ambil dari program yang menuntut saya menulis rutin - meskipun masih sering bolong-bolong - ini. Blog saya terisi dengan rapi, traffic pengunjung blog pun menjadi sedikit lumayan, dan "buku harian" saya ini mendadak terlihat bernyawa. Setidaknya, otak saya pun dipaksa berputar setiap harinya, mengasah imajinasi saya dalam menyusun kata, dan sebagainya.

Tapi, satu hal paling penting terjadi dalam program 30 Hari Bercerita ini. I've got a lot of new adorable friends. I've got also a lot of new investigation objects for my stalking stuff. Yap! Saya pun memiliki blog-blog baru yang senantiasa saya kunjungi saat sedang lengang.

Dan selain itu, benang "jejaring relasi" saya semakin kusut dari hari ke hari. Bertemu dengan orang-orang tak terduga dalam dunia maya, yang ternyata adalah temannya ini, dan temannya itu.

Pun menulis rutin seperti ini membawa saya untuk menelusuri kembali mesin waktu. Mengintip kembali apa-apa saja yang sudah menjadi memori di masa lalu. Serta menaruh awan-awan pikiran yang kerap menjadi beban dalam bentuk tulisan di dunia maya.

Yang pasti, saya senang karena bola relasi saya semakin besar dan besar, hingga benang jejaring pun bertambah kusut dan sangat kusut.

Membuktikan bahwa, dalam bola bumi yang besarnya luar biasa, terdapat sisi "sempit" yang selalu mengembalikan kita ke hakikat identitas asal: sesempit daun kelor.

That's why, hidup itu seru, karena selalu abu-abu. Nisbi. Tak mutlak. Relatif.

:)

#np Jonsi - Gathering Stories

-penceritahujan-

Hari ke-29: Sjálf Lýsing

Jakarta, 31 Januari 2013,

Dalam kehidupan sehari-hari, saya terbiasa untuk bercerita tentang sosok, benda, ruang, acara, perjalanan, bangunan, makanan, minuman, tetapi sama sekali tak pernah mendeskripsikan diri sendiri. Yes, indeed, memang karena itu lah pekerjaan saya, cara saya mendapatkan sesuap nasi dan sebongkah pengalaman (plus setumpuk tiket konser, beberapa pasang sepatu, berhelai-helai baju serta sekantung camilan, tentunya).

Lantas, siapakah saya? Pemilik blog tak penting yang terkesan gloomy, mendung-mendung menyebalkan dan juga mengaku pecinta hujan ini?

Saya Candella Sardjito. Biasa dipanggil Kanne. Nama yang cukup sederhana untuk seorang sederhana pula. Hanya seorang buruh kata yang bekerja di sebuah perusahaan media yang cukup besar, dan memuat orang-orang menakjubkan di dalamnya.

Sedari kecil, saya gemar berkhayal dan bermimpi, biasanya, saya senang menyusun cerita sesuai angan-angan dan keinginan saya sendiri. Menjadi seorang putri cantik yang bisa berubah seketika menjadi pendekar pembela kebenaran. Menjadi seorang gadis anggun yang pandai menari ballet atau seluncur es. Menjadi titisan di mitologi Yunani, yang seringkali sambung menyambung dengan kisah Hercules The Series yang ada di layar kaca.

Bahkan, sampai detik ini saya masih suka berkhayal. Meskipun akhir-akhir ini jarang menyusun cerita tentang diri sendiri.

Pesimis - tidak percaya diri - insecure - egois - posesif - sensitif - mudah cemburu. Enam padanan kata tersebut merupakan sifat asli seorang saya. Nggak heran, kalau saya gampang dilanda ketidakseimbangan magnet hati. Saya kerap membandingkan diri saya dengan sosok lain, yang pastinya jauh lebih menakjubkan daripada saya, dan langsung berpikiran: I am no one. Nothing. Nihil. Bukan tandingan.

Kini saya, menjadi seorang anak tanpa Mama - yang telah mendahului saya ke dimensiNya setahun lalu - dan manusia perantau di antara peliknya kehidupan ibukota.

Seorang fans berat musik-musik pengusung memoryology, yang mampu membawa saya mengkhayal, menghimpun memori hingga ke batas maksimal dan menyusunnya menjadi pilahan rasa.

Seorang pecandu euforia dalam setiap suasana dan waktu yang tak mungkin berputar sama untuk kedua kalinya.

Seorang pengagum semiotika, pertanda, dan keajaiban percakapan di luar akal sehat manusia, yang diberikan lewat aktivitas di bola dunia.

Seorang sosial yang selalu senang dengan eksistensi keluarga dan teman, meskipun tak perlu cerita, walaupun hanya lewat bercanda dan tawa.

Seorang biasa, yang hanya ingin bahagia.

:)

nb: Sjálf Lýsing = Deskripsi Diri (dalam bahasa Islandia)

-penceritahujan-

Hari ke-28: Relativitas Detik

Kamis, 31 Januari 2013,


Detik itu lucu. Dia bisa menjadi bunglon berbentuk hitungan waktu. Berbeda-beda dalam setiap panca indra manusia. Berganti wujud setiap bertemu manusia berbeda. Pun berubah bentuk bila menjumpai lain waktu lagi. Mungkin, Detik hanya ingin bermain-main. Cuma mau bercanda.

Terkadang, Detik berbadan lebar, membuat manusia harus lelah menunggu untuk mencapai sebuah pergantian angka.

Tapi, terkadang Detik bertubuh langsing, biasanya hal ini terjadi ketika sang manusia enggan beranjak dari waktu yang sama.

Terkadang Detik berjalan lambat seperti kura-kura, tapi ada kalanya, Detik dapat meluncur kencang layaknya pesawat jet.

Terkadang, Detik menyebalkan. Terkadang, Detik menyenangkan.

Terkadang, Detik dinanti-nanti. Tak jarang, Detik dihindari.

Kadang, satu satuan Detik, bisa terasa seperti satu Menit. Pun begitu sebaliknya. Satu Menit, bisa bergerak sekelebat layaknya satu Detik.

Detik menjadi lamban: 
saat harus bertemu narasumber atau klien, tetapi tertahan lampu merah | ketika menanti waktu pulang kantor atau kuliah | di kala menunggu jemputan yang belum tiba, seorang diri | saat melihat sosok mencurigakan yang duduk mendekat di angkutan umum | ketika tengah berlari dan menggerakkan badan dalam genggaman alat-alat gym 

Dan, Detik pun menjadi cepat:
saat sedang mengerjakan deadline pekerjaan dalam waktu hanya satu jam | ketika berbincang dengan teman-teman sejiwa yang sudah lama tak ditemui | di kala hari Minggu hanya dihabiskan dengan nonton DVD dan berleha-leha | saat mengintip sosok mengagumkan di tengah padatnya transportasi publik | ketika menikmati sebuah hobi yang jarang dijamahi lagi.

Meskipun Detik merupakan bagian dari ilmu pasti, tapi nyatanya, angka dan hitungan pun memiliki sudut pandang. Tergantung. Relatif. Tak mutlak. Nisbi.

Pun sama halnya, saat saya bertemu kamu. Detik menjadi lambat, Detik menjadi cepat, sangat relatif dan tidak pasti.

Berarti ini adalah rumus baru:

Relativitas Detik = Saya + Kamu  

Cukup fair bukan?

re·la·tif /rélatif/ a tidak mutlak; nisbi: produksi dl negeri dijual dng harga -- murah (sumber: KBBI)


-penceritahujan-

Rabu, 30 Januari 2013

Hari ke-27: Favoriefilm

Jakarta, 30 Januari 2013,

film n 1 selaput tipis yg dibuat dr seluloid untuk tempat gambar negatif (yg akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yg akan dimainkan dl bioskop): gulungan -- yg disita itu berisi cerita sadisme; 2 lakon (cerita) gambar hidup: malam itu ia hendak menonton sebuah -- komedi; (sumber: KBBI)

Jika ditanya, sejak kapankah saya senang menonton film, maka saya akan menjawab, sejak televisi menayangkan Postman Pat, kisah pak pos baik hati yang dikemas dalam bentuk stop motion dan beredarnya kartun "Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe", yang kini ditayangkan kembali di layar lebar.

Dahulu, ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, saya akan cemberut seharian kalau rekaman film-film tersebut tak tersedia sepulang sekolah. Tipikal anak bungsu banget yah, egois. Hehehe. But anyway, saya sadar sejak saat itu lah saya tergila-gila pada film.

Lantas, hobi - yang juga sejalan dengan membaca dan mendengar musik - ini terbawa hingga saya dewasa. Sampai akhirnya, saya sempat mengikuti sebuah ekstra kulikuler movie maker ketika beranjak SMA. Well, saat itu sih posisi terbaik saya sebagai scriptwriter.

Anyway, sejauh saya menikmati film sejak belia, terdapat beberapa list film yang termasuk ke dalam film-film favorit saya, di mana sampai detik ini, saya nggak pernah bosan menontonnya, walau telah diputar berulang kali. Berikut adalah uraian tentang film-film tersebut. Enjoy!

1. Saint Seiya


Saya memulai film favorit sepanjang masa dengan film kartun bertajuk "Saint Seiya". Jika kebanyakan anak perempuan menghabiskan masa kecilnya dengan menonton "Candy-Candy", maka saya lebih sering mengikuti perjalanan lima orang pelindung titisan Dewi Athena, yang terdiri atas Pegasus Seiya, Dragon Shiryu, Cygnus Hyoga, Andromeda Shun dan Phoenix Ikki. 

Film kartun berseri ini banyak mengadaptasi tokoh-tokoh serta lokasi di Mitologi Yunani dan nama konstelasi bintang di angkasa raya. Tak heran bila kemudian, Yunani menjadi salah satu destinasi vakansi yang saya impikan semenjak masih bocah ingusan. 

FYI,  Hyoga - sang jubah angsa berambut emas - adalah first love yang membuat mata saya tercengang, dan bercokol di memori hingga detik ini. Sedikit absurd sih, cinta pertama saya adalah tokoh kartun! By the way, Saint Seiya ini kartun yang oke sekali, utamanya bagi para pecinta mitologi. 

2. Eternal Sunshine of The Spotless Mind


Adakah yang pernah punya keinginan menghapuskan memori tentang seseorang, sebersih-bersihnya, dari isi kepala? Hingga akhirnya, sosok tersebut seolah-olah hilang dari pojok ingatan. Seakan tidak pernah ada. Jika ada yang merasa senasib, hanya ada dua pesan saya ketika menonton film garapan Michel Gondry ini: siapkan hati dan jauhkan barang-barang tajam dari jangkauan.

Film ini berkisah tentang seorang Joel Barrish (Jim Carey), yang merupakan pria super biasa nan pendiam, yang bertemu dengan Clementine Kruczynski (Kate Winslet). Bermula dari dua orang asing yang tak saling kenal, akhirnya Joel dan Clementine menjadi sepasang kekasih dengan kisah romantis sekaligus tidak biasa.

Namun, suatu ketika, pasangan ini pun bertengkar hebat, hingga Clementine merasa sakit hati. Dan entah kenapa, di keesokan harinya, Clementine bertindak seolah tidak ingat apa-apa tentang Joel. Otomatis, hal ini mendatangkan luka bagi Joel, yang sangat amat into her. Tak seberapa lama, Joel pun menemukan perusahaan bernama Lacuna.Inc, yang melayani jasa menghapus memori. Dari sana lah, kisah nyesek ini dimulai.

Pada permulaan film ini, jangan mengharapkan akting Jim Carrey yang mengundang tawa seperti biasanya. Dia berubah 180derajat menjadi pria kaku dan depresif. Dan, satu pesan lagi ketika menonton film Michel Gondry adalah: perhatikan setiap scene secara mendetil. Jangan cepat menyerah ketika tidak mengerti alurnya. Karena absurd dan pola pikir out of the box merupakan salah satu kelebihan film-film garapan pria Perancis ini.

Saya menyukai setiap pesan yang tersirat dari film ini. Implisit. Bukan tergambar secara langsung. Ya, memori - mau sebaik atau seburuk apapun itu - adalah buku terluar biasa yang dimiliki manusia. So, just don't loose it OK? Don't ever try to erase it.

3. How I Met Your Mother



Menggemari film serial semacam Friends, That's 70 Show dan beberapa sitkom lainnya? Yeoup, selepas tahun 2005, sedikit demi sedikit serial "How I Met Your Mother" ini mulai menggenggam hati para penontonnya, termasuk saya. Meskipun serial yang mengangkat kisah sehari-hari beserta ketololannya yang senantiasa merajai ini belum mencapai tahap rampung, tapi saya tidak bosan menontonnya, bahkan sering pula mengulangnya.

Film ini menceritakan lima orang sahabat yang tinggal di sudut kota New York, yaitu Ted Mosby (Josh Radnor), Marshal Erikssen (Jason Segel), Lily Aldrin (Alyson Hannigan), Robin Scherbatsky (Cobie Smulders) dan Barney Stinson (Neil Patrick Harris) dengan karakter kuat yang membangun isi cerita yang memorable pula. Kisah utamanya berpusat pada pencarian "The One" oleh Ted Mosby, seorang arsitek muda, cerdas dan charming. 

Pesan saya, jika ingin menonton film seri ini antara lain: jangan lupa bawa penganan ringan dan catatan kecil di genggaman. Why oh why? Karena konten film "How I Met Your Mother" ini selalu mengeluarkan quotes sakti yang bisa membuat lidah berkata: "ya ampun, ini sih gue banget!". Nggak cuma dari kehidupan romansa saja, "How I Met Your Mother" juga bisa mengundang sentimentil dari berbagai sisi. Recommended to be watched!

4. Tokyo



Mengaku pecinta film-film absurd penuh filosofi dan tidak cheesy? Coba tonton film yang berlokasi di Tokyo, ibukota di Jepang ini. Tiga sutradara - Michel Gondry, Leos Carax dan Boong Joon-Ho menghadirkan kisahnya masing-masing, dan mengemasnya dalam satu tajuk film yang sama: Tokyo. Di dalamnya, terdapat tiga cerita yang berbeda pula, yaitu Interior Design, Merde dan Shaking Tokyo.

Cuma dua kata yang bisa keluar dari mulut saya ketika menonton film ini: absurd dan super absurd. Yeps, jangan mengharapkan kisah-kisah romansa picisan saat menyaksikan Tokyo, karena yang akan hadir di sana adalah sosok perempuan berubah jadi kursi kayu; pria gila dari bawah tanah yang meneror seisi warga kota; serta lelaki yang tak pernah keluar rumah barang sedikit pun.

Satu cerita favorit saya adalah cerita terakhir, Shaking Tokyo, yang menjadi penutup klimaks dari film ini. Berbeda dengan dua cerita lainnya yang lebih mengusung kesenduan dan teror, Shaking Tokyo memiliki unsur manis yang tersirat dari setiap scene-nya. Tetapi, seperti yang saya bilang tadi, bukan roman standar pada umumnya, tapi mengandung beribu makna implisit di dalamnya.

5. Novel Tanpa Huruf "R"



Baru tertarik menonton film Indonesia sekarang-sekarang? Coba berputar lagi ke tahun-tahun lampau, salah satunya film yang hadir di tahun 2003-2004 lalu. Intip satu judul ini, untuk dijadikan koleksi: Novel Tanpa Huruf R. Ya, film garapan Aria Kusumadewa ini merupakan film yang telah berusia 10 tahun, tapi cukup memiliki tempat dalam pojok memori saya, karena isi ceritanya yang out of the box, kala itu.

Menceritakan tentang Drum (Agastya Kandou), seorang jurnalis kriminal yang selalu dikelilingi oleh kasus kekerasan, pembantaian dan pembunuhan yang mengerikan. Masa lalunya pun begitu keras, meskipun akhirnya dia menjadi seorang wartawan dengan tulisan cheesy yang hanya ingin menarik minat masyarakat saja. Yes, in fact, kekerasan seakan menjadi konsumsi publik sehari-hari. Bahasa brutal laris di pasaran.

Lalu, Drum disadarkan oleh kedatangan Air Sunyi (Lola Amaria), mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengadakan penelitian terhadap karya-karya Drum. Namun, sifat Air Sunyi yang kritis membuatnya disekap dalam rumah Drum yang berada di tepi pantai. Di sana lah, Drum terlibat sebuah konflik diri dan hati, yang dipacu oleh ucapan-ucapan Air Sunyi.

Saya jadi ingat, dahulu film seperti ini susah sekali masuk bioskop mall. Alhasil, saya menontonnya di Gedung AACC (Asia Africa Culture Center) yang kini telah berganti nama jadi New Majestic di Braga, Bandung. Yes, film independen semacam ini memang selalu menghadirkan nyawa baru dalam perfilman tanah air, utamanya kala itu, film semacam ini masih bersifat tabu, karena mengangkat realitas kota.

Pesan saya: lebih baik bawa air mineral atau minuman manis yang dingin untuk menemani waktu menonton kali ini, karena dijamin, bila membawa makanan ringan, kamu bisa mual-mual menonton film ini, mengingat banyak kekerasan terjadi di sana.

--------------------------------------------------

Lima film ini sudah menggenggam peran lebih dalam ingatan saya. Berjajar dalam papan posisi teratas, sebagai film-film favorit saya sepanjang masa.

Lantas, bagaimana dengan kalian? Any recommended movies, then?

-penceritahujan-

Hari ke-26: Post Modern Relationship

Jakarta, 30 Januari 2013,

Bukan malaikat. Bukan penyelamat. Bukan tokoh suci. Bukan orang yang mengada-ada akan setia menemani. Bukan pula wajah yang mengumbar senyum imitasi.

Bukan hiperbola romansa. Bukan drama yang direka-reka. Bukan makan malam manis ditemani temaram cahaya. Bukan kisah pangeran berkuda. Bukan cerita puteri berupa sempurna. Bukan dongeng yang berharap jadi nyata.

Bukan pengejar kuantitas. Bukan pengikat berbekal otoritas. Bukan proteksi berakibat depresi. Bukan pula pengekang berlandaskan status relasi.

Bahkan, bukan pengucap rindu. Bukan ekspositas diksi cinta.

Cuma menghapus air mata. Cuma meretas duka. Cuma mengompres luka. Cuma memberi ceria. Cuma pembuat lupa.

Lantas, entah sejak kapan, tetiba bertransformasi.

Menjadi udara panas yang menyembul. Menjadi sel darah merah yang berkumpul. Menjadi obrolan yang mengundang tawa. Menjadi candaan biasa yang membuat bahagia. Menjadi percakapan acak yang menghuni memori.

Dan, dengan ketidaksengajaan pertemuan jari, berujung rasa tanpa definisi. Yang tak bisa diberi label. Tak bisa dilafalkan. Tak bisa diberi deskripsi.

Ya, itu kita.
Itu saya.
Itu kamu.

Sederhana.

Once upon a time, when the sky was covered with blue,
once upon a time, when the sun was smiling too.
We're just common people with an ordinary look.
We're just common people with an ordinary love.
And once upon a time, when I fell in love with you...

#nowplaying Mocca - Once Upon a Time

:)

-penceritahujan-

Selasa, 29 Januari 2013

Hari ke-25: Pecahan

Jakarta, 29 Januari 2013,

Hari ini pecahan kaca berserakan lagi di lantai, melukai kakiku yang sudah memucat dan membiru. Sudah hari ke-5 sejak benda-benda tajam ini rajin menyentuh kulitku. Dan aku pasrah, hanya meringis perih, lalu berkata, "ya sudahlah". Lalu lama kelamaan, rasa sakit ini sudah terasa biasa. Aku sudah terbiasa. Bebal. Kebal.

Namun, sejak pecahan kaca itu merasuki pori-pori kaki, sekujur badanku dingin. Bibirku kering. Mataku sayu. Air mukaku sendu. Aku bahkan tak tahu darimana pecahan kaca ini berasal. Dia hanya mendatangkan sebuah mimpi buruk, mengundang air mata, dan memukul kencang perutku dari dalam. Aku mual.

Aku tak mengerti. Apakah aku terkena tetanus? Apakah pecahan kaca ini berbakteri? Ataukan penyakit mematikan berbahaya terkandung di dalam sisi tajam kaca tersebut?

Lalu, aku tak bisa mengerti. Kenapa aku masih ada di tempat ini, menyaksikan pecahan kaca yang melukai setiap pagi? Kenapa aku masih tertawa ketika kakiku terhunus dalam? Kenapa senyum masih tercipta saat aku menanam luka?

Aku tak mengerti.
Aku tak bisa mengerti.

Atau...

Aku tak mau mengerti.

Dan, belakangan, aku tahu. Pecahan kaca itu bukan beling jendela. Bukan botol bekas dipakai bertengkar. Bukan juga pecahan piring yang terpeleset dari raknya.

Pecahan kaca itu adalah hatiku, yang tengah pecah-hancur-berantakan-berserakan di mana-mana.


And I hurt so bad that I search my skin
For the entry point, where love went in
And ricochet and bounced around
And left a hole when you walked out
I'm falling through the doors of the emergency room
Can anybody help me with these exit wounds?
I don't know how much more love this heart can lose
And I'm dying, dying from the exit wounds
Wounds, where their leaving, the scars you're keeping
Exit wounds, where their leaving, the scars you're keeping

#nowplaying The Script - Exit Wounds

Dan, pagi ini, hatiku pecah lagi.


-penceritahujan-



Jumat, 25 Januari 2013

Hari ke-24: Konspirasi Memori

Jakarta, masih 25 Januari 2013,

Diksi "konspirasi" memang tengah merebak di dimensi nyata maupun bagi kalangan peselancar dunia maya. Biasanya, kosa kata "konspirasi" dikaitkan dengan kasus kejahatan politik, korupsi, bahkan hingga kekuasaan dunia yang konon sedang digenggam oleh sebuah aliran kepercayaan.

Kesannya berat banget ya?

Tapi, over all, semua itu berasal dari luar diri kita, bukan? Setidaknya, kita belum merasakan efeknya secara langsung, pikiran kita belum tercuci sepenuhnya oleh simbol-simbol segitiga dan mata satu, meskipun konon salah satu musisi kesukaan saya juga merupakan anggota dari organisasi "penguasa" tersebut.

Anyway, saya nggak akan bercerita tentang konspirasi yang berat-berat deh di sini. Saya cuma ingin membahas sebuah padanan kata: konspirasi memori. 

Jangan salah menganggap bahwa konspirasi memori ini selalu bersifat manis, berbunga-bunga, dengan latar warna pastel di belakangnya. Jangan selalu mengira bahwa konspirasi memori senantiasa menghadirkan semiotika terpendam di baliknya.

Konspirasi memori itu jahat, lebih jahat dari ibu kota, yang sebenarnya tak mungkin sejahat itu. Konspirasi memori itu licik, lebih licik dari ibu tiri, pun sebenarnya tak pernah selicik itu.

Lantas, kenapa konspirasi memori itu jahat? Mengapa ia licik?

Ya. Memori dalam otak seperti menebar bisik pada alam sekitar, mengingat ia paling tahu seluruh rahasia yang saya simpan selama ini. Seluruh "buku" yang sengaja saya simpan di tumpukan terbawah pojok ingatan. Ia mengobrak-abriknya lagi, ingin bangkit di etalase teratas, dan memanjat buku-buku itu satu per satu.

Mungkin dia mendendam, kenapa telah diletakkan di tumpukan terbawah. Seakan barang rongsokan. Seakan sampah terbuang.

Bukannya nggak mau, cuma nggak bisa sakit lagi. Nggak bisa terluka lagi, batin saya menggumam.

Tapi, dia tetap tak mendengarnya. Memori berusaha menembus perisai yang berada di gerbang gudang rasa bernama "hati". Ia tetap tak bisa. Saya nggak mau sakit lagi, demikian pesan saya, sebelum menutup pintu gerbang itu perlahan.

Memori tak lantas menyerah. Ia menyeruak keluar lewat telinga, lubang hidung dan mata. Memaksa irama-irama penyentuh kenangan berputar di sekeliling gendang telinga, aroma penghadir cerita berjalan-jalan di sekitar lubang hidung, nama-nama alfabetikal berjalan nakal di depan mata.

Memori memengaruhi panca indra untuk mendukungnya menerobos gerbang gudang rasa tersebut. Otomatis, mereka terbius dengan suksesnya. Terperdaya mentah-mentah.

Ini konspirasi! Jelas-jelas konspirasi!

Saya nggak mau sakit lagi, Memori. Cukup sampai di sini! Cukup sampai di...sini...

Berbekal ribuan pasukan syaraf yang terhubung dari panca indra, Memori berdiri di depan gerbang "hati", berwajah penuh keyakinan bahwa ia akan menang, lantas memukul ringan pintu tersebut hingga akhirnya retak dan pecah berkeping-keping.

Memori... saya cuma nggak mau sakit lagi. 

Dan, memori bertemu hati, adalah bentuk konspirasi terjahat yang pernah ada di muka bumi.


When shadows fall I pass a small cafe where we would dance at night
And I can't help recalling how it felt to kiss and hold you tight.

How can I forget you go
When there is always something there to remind me? 
Always something there to remind me 


#np Sandie Shaw - (There's) Always Something There to Remind Me 


-penceritahujan-

Hari ke-23: Obrolan Bodoh (Lagi)

Jakarta, 25 Januari 2013,

Heran-herannya, cerita kali ini dihiasi oleh istilah klenik macam "jenglot", bahkan saya pun terkesima kala membaca diksi ini ada dalam tulisan saya. Rasanya seperti ingin berkata, "Waw, berani-beraninya gue nulis cerita beginian!".

By the way, apa itu jenglot?

Jenglot atau lebih populer dengan nama Bethara Karang telah lama dikenal sebagian masyarakat yang menggemari koleksi berbagai macam ajimat, pusaka, atau benda-benda keramat bernergi gaib. Bethara Karang (biasa disingkat; BK) wujudnya seperti mummy dengan ukuran panjang 5 cm, ada yang >10 cm.(sumber: http://sabdalangit.wordpress.com)

Tapi, sebenarnya, jenglot yang ingin saya ceritakan bukan lah kisah mistis, ataupun cerita yang akan membuat bulu kuduk merinding.

Cerita ini sebenarnya hanya berkisar tentang sebuah perbincangan bodoh antara saya - dan lagi-lagi - bersama seorang teman bernama Bulky (@bulkydomae). Alkisah, suatu ketika, rekan dunia maya ini menemani saya yang tengah dilanda gundah gulana. Kami ngobrol-ngobrol lucu, seperti biasa, berujung dengan topik random yang tidak memiliki arah dan tujuan.

Tema malam itu, tercetus dari cerita mengenai khayalan saya jika bekerja untuk sebuah media cetak  mistis dan klenik, yang memang telah ada sejak saya masih jadi anak ingusan.

Dan, entah kenapa, kami pun berbincang hebat tentang khayalan inovasi jenglot masa kini, antara lain:

1. Jenglot Jamaican Style, berambut rasta dan hobi mengonsumsi cannabis, entah cannabis atau daun kol. Atau bahkan daun bayam. Lalu sering berkata "Yoooo, maaaan!" sambil memainkan irama petikan gitar khas reggae.

2. Jenglot Money Talks, dengan rambut panjang halus terurai, yang hobinya creambath lucu dan ke salon. Tak lupa ketika menjinjing tas dengan hanya menyantolkannya di tangan, seperti layaknya wanita-wanita tipikal masa kini. Eits, jangan lupa rambut belah tengah dan hotpants! Gaul berat, broh!

3. Jenglot Berponi, rambutnya mengikuti sebuah iklan dengan lagu berlirik: Dia terlalu indah, tuk dilihat setengah-setengah (ada yang ingat kah?). Poninya mengikuti wajah jenglot yang sungguh manis manja. Dengan matanya yang bulat, bukankah jenglotnya akan menjadi sangat...unyu?

4. Jenglot Banci, dengan gender yang tak jelas, setengah pria setengah wanita. Mungkin kalau dalam ilmu biologi, dia disapa dengan hermaphrodit. Senang memukul-mukul manja pundak rekannya, dengan tangan terkepal. Bedak yang digunakan pun berlebihan, antara serupa dengan vampir atau baru dipukuli satu RT. Jangan lupa dengan gincu dan pemerah pipi. Sang Jengci (jenglot banci) pun tampak sangat perfecto~

Overall, obrolan dini hari ini usai karena masing-masing dari kami telah mengantuk, dan sudah (kembali) berjumpa dengan waktu Subuh. Yes, kami begadang hanya untuk membicarakan tiga hal: (sedikit) kegalauan, (agak banyak) konspirasi dan (sangat banyak) inovasi jenglot.

Tapi, seperti biasa, perbincangan hilang arah ini selalu berhasil membuat ketidakseimbangan magnet hati, kembali pulih seperti sedia kala. Kembali tenang. Kembali tertawa. Kembali ceria.

Hahaha~

Tengkyu barbekyu Bulky-bulko, walaupun emang kamu ngehe berat dan menjadi semacam teman tapi horor, kamu selalu berhasil bikin suasana mencair lagi, jauh dari yang glumi-glumi. Dan satu lagi, maaf ya saya selalu merepotkan, kamu memang ditakdirkan untuk direpotkan sama saya, hahaha! Thanks a bunch!

#nowplaying Darwin Deez - Radar Detector

(semacam seonggok lagu yang membuat saya dan Bulky terlibat dalam perbincangan super panjang pertama kalinya, hahaha)

-penceritahujan-

Rabu, 23 Januari 2013

Hari ke-22: Ambiguitas Mimpi

Jakarta, 23 Januari 2013,

Ada yang pernah bermimpi? Bermasalah dengan mimpi? Atau memiliki mimpi? Ya, mimpi yang saya maksud disini bukanlah impian atau angan-angan, tetapi bunga tidur.

Mimpi adalah 1 sesuatu yg terlihat atau dialami dl tidur; 2 ki angan-angan; 
ber·mim·pi v 1 melihat (mengalami) sesuatu dl mimpi: semalam ia - dikejar harimau; berkhayal; berangan yg bukan-bukan;


Saya jadi ingat, akhir-akhir ini saya sering bermimpi aneh, utamanya ketika saya tertidur setelah waktu Subuh. Kata orang sih, mimpi setelah Subuh itu sering "diganggu", atau ada yang menyusupi, percaya nggak percaya. Tapi memang, rata-rata mimpi aneh ini saya alami setelah waktu Subuh melampaui.

Ceritanya sederhana. Dalam mimpi, saya berkenalan dengan sosok wajah familiar yang kerap kali saya temui di kantin kantor saya. Saking seringnya saya sudah hapal betul dengan wajahnya, teman-temannya, dan caranya berbicara, secara tak sengaja. Bahkan, usut punya usut, saya bisa menebak di divisi apakah sang familiar ini bekerja. Dan, voila, entah kenapa tetiba sang wajah familiar ini masuk ke mimpi saya, walau saya sama sekali nggak memikirkannya.

Kenalannya biasa saja sih. Perkenalan standar pada umumnya. Saling berjabat tangan dan menyebut nama. "Halo, gue Kanne," ujar saya dalam situasi bola-bola maya tersebut.

Lantas dia berkata, "Halo, gue Shareeva, panggil aja Vava".

Dan, FYI dia itu kan bergender pria, mungkinkah dia bernama Shareeva? Dan, entah kenapa namanya seperti nama-nama artis muda masa kini, nama yang sulit disebut, mengandung akulturasi antara negara-negara di Timur Tengah serta Indonesia.

But anyway, Shareeva for a guy's name, please? 

Ya, mungkin saja sih, orang nama saya: Candella Sardjito, saja sering disangka sebagai nama lelaki, bahkan sering sekali saya dipanggil "Pak" dalam keseharian saya. Tolong ya Bapak-Ibu-Mas-Mbak, liat ada jenggot, kumis atau jakun kah di muka saya sampai dipanggil Pak? 

Tapi, menyebalkannya, mimpi itu sering bercampur aduk dengan dunia sesungguhnya, terlebih ketika kita memimpikan orang yang eksistensinya nyata.

Dan, lebih-lebih, ketika telah keluar dari dunia mimpi, saya bertemu muka, bahkan sedikit mencuri lirik sang sosok familiar tersebut. Kenapa? Tak habis pikir, karena saya rasanya baru bertemu dengannya dalam dunia mimpi, meskipun hanya terbatas dalam kalimat perkenalan saja.

Rasanya sih mau langsung memanggil namanya dalam mimpi: Shareeva; yang notabene-nya mirip dengan nama-nama tokoh sinetron.

Well, kalau bener sepertinya lucu juga ya.

Tapi, jadi terpaksa berpikir, ada arti apa di balik mimpi tersebut? Apakah hanya sekadar bunga tidur, atau ada ambiguitas yang terkandung di dalamnya? Is this a sign?

Na~ah!

Saya nggak mau memikirkannya, karena kalau terlampau mengendap dalam otak, saya jadi tetiba gugup kalau bertemu Sang Shareeva tersebut di kantin.

Please, Shareeva, is it really your name, mate? 

Adakah yang pernah bernasib sama? Terjebak dalam sebuah ambiguitas mimpi?

-penceritahujan-
Y

Selasa, 22 Januari 2013

Hari ke-21: Questionologi

Jakarta, 21 Januari 2013,


Apa?
Siapa?
Di mana?
Kapan?
Kenapa?
Bagaimana?

Diksi-diksi tanya ini mendasari sifat manusia: penasaran. Padahal Tuhan hanya menganugerahi satu mulut pada satu insan saja, tak lebih dan tak kurang, mungkin, agar manusia bertanya seperlunya, tentang hal-hal yang hanya bisa dipertanyakan, bukan hal-hal yang tak pernah menghasilkan jawaban.

Tapi, manusia pun tak lantas puas begitu saja.

Nafsu - yang bisa menempatkan diri lebih dari hati - memaksa otak untuk berkonspirasi dengan tangan dan mata, untuk menjadi pemuas kalimat tanya yang tak sempat dilafalkan.

Stalking. Investigasi kelas teri. Penyelidikan amatir. Hanya bermodalkan titel peselancar maya. Bukan agen mata-mata tingkat mahir. Bukan James Bond ataupun Ace Ventura. Sekali lagi, cuma peselancar dunia maya biasa.

Lalu, kalimat tanya itu memang berujung jawaban, namun seringkali tidak memuaskan, tak sesuai keinginan, bahkan menuju mengecewakan. Jawaban itu bertajuk: asumsi. Hipotesa sementara.

Terkadang, manusia menyesal dengan tindakannya. Kenapa dia selalu bertanya-tanya, kenapa dia kerap merasakan penasaran, dan kenapa dia harus tak puas hanya dengan jawaban lisan. Nah, kalimat tanya kembali, bukan? 

Lebih baik tak bertanya, bila jawabannya membuat luka.

Ataukah, lebih baik tahu bahwa itu luka, makanya bertanya?

Entahlah, yang manakah isi hati para kaum homosapiens sebenarnya. Yang pasti, meskipun manusia sudah terluka, dan berkata enggan untuk diksi tanya lagi, dia akan mengulanginya kembali. Mengulang kalimat-kalimat berakhir tanda tanya kembali.

Apa?
Siapa?
Di mana?
Kapan?
Kenapa?
Bagaimana?

Sampai akhirnya terluka dan terjatuh lagi. 

-penceritahujan-

Senin, 21 Januari 2013

Hari ke-20: Bertanam Gelitik

Jakarta, 21 Januari 2013,

Sebenarnya, berkebun atau bercocok tanam bukan hobi saya. Bermain tanah, menyirami tanaman, menyembur pupuk, dan mencangkul tanah hingga gembur, hanya biasa saya saksikan dari kaca jendela.

Sampai akhirnya, ada yang memperkenalkan saya dengan tanaman bernama Gelitik. Tanaman absurd, aneh, antinormal, anti-mainstream.

Banyak hal ajaib yang dilakukan oleh tanaman yang tak bisa didefinisikan secara ilmiah ini, antara lain sebagai berikut.

1. Gelitik tidak tumbuh di tanah, melainkan dalam sebuah penyimpan rasa bernama hati, penyimpan debar bernama jantung. Lucunya lagi, dia bisa menjalar sesukanya, tanpa pupuk dan air yang membanjiri. Dia bisa tumbuh dari beragam hal, seperti: memori, dan euforia.

2. Gelitik bisa muncul tiba-tiba, seperti tagline sebuah film horor: datang dijemput pulang tak diantar. Tak ada yang memaksa Gelitik untuk tumbuh, tak ada yang membawa bibit Gelitik untuk mampir. Tiba-tiba saja, Gelitik muncul, menyusupi pojok-pojok indra perasa manusia, lantas mendominasi ruang gerak otak di dalamnya. Tak bisa dikontrol dengan mudahnya.

3. Ketika Gelitik mengembangkan kelopaknya, dia bergerak aktif mengikuti arti namanya: (meng)gelitik. Membuat efek senyum tersipu-sipu, kadang sakit perut menghampiri atau keringat dingin membanjiri.

4. Gelitik bisa bertautan erat dengan ingatan, berkonspirasi membentuk lembaran kenangan, sehingga euforia tersimpan di kepala dengan awetnya. Bahkan sampai sumber Gelitik menghilang, bahkan sampai sumber Gelitik lupa kalau telah meninggalkan bibitnya begitu saja.

5. Gelitik tak bisa dihilangkan dengan cepat dan singkat. Butuh ribuan senjata untuk menebas Gelitik hingga ke akarnya. Bahkan, ada pula Gelitik, yang semakin ditebas, semakin ia bertahan dengan kuat, bahkan menjalar lebat.

Seperti tumbuhan cannabis, Gelitik menciptakan sebuah adiksi, yang membuat saya enggan melepasnya, melupakannya, apalagi membunuhnya.

Hey, apakah kamu tengah bertanam Gelitik juga?

:)

-penceritahujan-

Sabtu, 19 Januari 2013

Hari ke-19: Tiba-tiba Kerontjong

Bandung, 20 Januari 2013,

Jarum jam sudah menunjuk ke arah angka dua. Sudah siang menjelang sore, waktu yang tepat untuk bersantai dan merasakan hembusan angin sepoi-sepoi. Terlebih lagi menikmati suasana rumah yang nggak ada duanya, merupakan salah satu momen favorit saya setiap hari Minggu tiba.  

Otomatis, musik pendamai hati pun dibutuhkan sebagai soundtrack siang ini.

Heran-herannya, tetiba saya memilih sebuah nada yang didominasi instrumen ukulele untuk mengisi waktu istirahat saya. Irama-irama tersebut biasa disebut dengan musik keroncong.

Menjauhi modernitas dan efek globalisasi, memang, mengingat saya kurang menyukai lagu-lagu Top 40 radio, yang banyak didominasi oleh Katy Perry, Lady Gaga ataupun Adelle. Bukan berarti mereka adalah musisi yang buruk. Wanita-wanita tersebut memiliki vokal menakjubkan serta gaya panggung yang sangat khas, tapi, yah, just not my style aja sih. Sederhana.

Virus "Tiba-tiba Kerontjong" ini bermula karena Sang Ayah memperlihatkan video youtube sebuah grup musik bertajuk: Krontjong Toegoe.

Sebenarnya, pada sejarahnya, keroncong Tugu merupakan bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon, yang menghuni Kampung Tugu, Jakarta Utara, lalu berkembang ke arah selatan Kemayoran serta Gambir, lantas berpadu dengan Tanjidor pada tahun 1880-1920. Setelah itu, hingga tahun 1960, set orkes keroncong Tugu berpindah ke Solo, beradaptasi dengan irama lambat khas Jawa.

Nggak salah lagi, musik keroncong memang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, pun asalnya berakar dari musik Fado dari Portugis yang masuk ke Nusantara sejak abad ke-16, lantas berakulturasi dengan irama-irama lokal khas Indonesia.

Pantas saja, saat mendengar komposisi super-adem dari alat musik ukulele, cello, gitar akustik, flute, dan kontrabass ini, saya seperti dibawa pada nuansa lokalitas, penuh dengan tayangan sephia bertajuk masa lalu, serta rindu kampung halaman Ayah, yang berada di pertengahan Pulau Jawa, tepatnya berlokasi dekat dengan Yogyakarta.

Membuat saya menggali lagi ingatan saya akan rumah-rumah khas Jawa, dengan furnitur jengki di sana-sini, serta tegel bermotif yang kerap menghiasi pelosok ruang. Membawa saya ke masa-masa berjalan kaki di antara tenda bakmi Jowo, serta jalanan di Kawasan Indische Yogyakarta yang dipenuhi loji-loji perkasa.

Kesukaan mendadak ini membuktikan bahwa dalam diri saya, mengalir darah Jawa, meskipun logat, bahasa dan gaya bicara lebih mengarah ke tempat saya tinggal selama 20 tahun terakhir ini, yaitu tanah Sunda.

Mendengar irama keroncong, membuat saya selalu ingin pulang ke "rumah". Kampung halaman. Tanah asal.

Masih nggak percaya? Silahkan mendengarnya sendiri.

:)



Ah, gawat! Saya jadi ingin bervakansi ke Solo atau Yogyakarta sekarang juga!

-penceritahujan-

Hari ke-6: Makan yang Bener, Ayah!

Jakarta, 20 Januari 2013,

Dear Mr. Sardjito, Ayah tercinta,

Hal yang lucu setiap Kanne pulang ke rumah, dan mendapati mi instan yang bertebaran di atas meja, mendatangkan komentar dalam hati: Please atuh euy, Ayah, kaya anak kostan gini.

Yes, indeed. Sejak Mama meninggal, tahun lalu, Ayah seperti kembali lagi menjadi anak kuliahan yang merantau jauh dari orangtua dan sanak saudara. Mi instan, nasi dus, minuman-minuman manis, seakan mendominasi pencernaan Ayah. Lebih-lebih, karena Kanne nggak kerja di Bandung lagi. Jarang makan dan menyibukkan diri sama pekerjaan.

Iya sih, Yah, Kanne juga gitu. Menyibukkan diri biar nggak inget-inget lagi, kalau Mama udah pergi, nyaris setahun lamanya. Kalau sepi memang sering menghenyak hati. Kalau lubang sakitnya masih menunjukkan eksistensi.

Tapi ya nggak gitu juga!

Kanne cuma punya Ayah, yang selalu jadi sosok Super Daddy buat seorang Kanne. Ayah serba bisa yang selalu bantu bikinin prakarya anaknya yang cengeng, Ayah serba bisa yang juga galak pas lagi ngajarin Fisika, atau Ayah serba bisa yang juga secara nggak sadar ngajarin anaknya buat jadi angkoters, backpacker, traveller dan rajin hiking sejak kecil, terlebih saat bervakansi.

Bahkan, Kanne baru tahu sekarang kalau Ayah suka The Beatles, suka Rolling Stones, suka pulang malam waktu dulu masih kuliah, dan sebagainya.

Karena itu,

Jangan hujan-hujanan kalau naik motor, pakai mobil kalau hujan deras!
Jangan makan mi tiap hari kalau Kanne lagi di Jakarta!
Jangan kebanyakan nyimpen minuman manis di kulkas!
Jangan sampai kelewatan jam makan!
Jangan tidur larut malam!
Jangan galau melulu, just let it go!

Dan, jangan lupa, kalau Kanne selalu jadi anak Ayah yang sangat sayang sama Ayah!

-penceritahujan yang adalah anak Ayah-

Hari ke-18: Tentang Senja

Jakarta, 18 Januari 2013,

Kalau berbicara tentang senja-sore-petang-burit, terlalu banyak tayangan salindia yang akan bergulir dalam khayalan saya. Menguak-nguak memori lama, apa saja yang sudah terjadi saat langit tengah berpindah warna, dari terang menjadi gelap dan apa yang dikisahkan oleh gradasi jingga pada pupil mata saya.

Saya nyaris dinamai Mirabilis jalapa, yang berarti bunga pukul empat. Kebetulan, Mama saya adalah penggemar berat bunga yang kerap ditemui di pekarangan rumah ini. Cantik, menurutnya kala itu. Tapi, sayangnya, saya tak jadi mengemban nama tersebut, karena menurut beliau pula, nanti saya malah hanya bahagia saat pukul empat sore tiba.

Saya nyaris menjadi seorang yang mekar saat senja.

Walaupun tak jadi memiliki nama "bunga senja" itu, saya selalu suka saat sore tiba. Utamanya, banyak kenangan yang bisa saya dapatkan dalam waktu yang terbilang singkat itu. Hanya berkisar beberapa jam saja.

Pesta gorengan sama temen-temen di balkon kampus | menyisipkan "message in the bottle" di Dreamland, Bali | mengintip sunset di Senggigi | samar-samar menanti warna jingga langit dari balik Istana Ratu Boko | pulang ngantor bertualang dengan angkot tepat jam 6 sore | masih berada di Suniaraja dan membeli kopi Aroma sebagai buah tangan | berada dalam becak murah meriah di Kota Solo yang sangat tertata rapi | lari-lari di halaman rumah lama, sembari membantu Mama menyiram tanaman senja.

Dan satu hal yang sudah lama tak saya lakukan akhir-akhir ini: saya jarang bertatap muka dengan senja.  

Saya lebih banyak menghabiskan pukul 3-6 sore saya di dalam gedung ber-AC, ruangan berinterior indah, kafe bertarif relatif mahal, toko pernak-pernik manis, dan mall berjuta hiburan. Sampai saya tak sadar kalau matahari sudah mau beristirahat. Sampai saya tak sadar kalau langit sudah berubah warna. Sampai saya tak sadar kalau eksistensi bulan sudah mulai tampak.

Yang saya sadari adalah: hari sudah malam lagi dan saya melewatkan senja kembali.

Sunset with friend! How I miss this moment sooo~ much!

Rindu!

#np Float - Tiap Senja

-penceritahujan-

Jumat, 18 Januari 2013

Hari ke-17: Dilema Gerobak

Jakarta, 18 Januari 2013,

Rodanya memang cuma empat. Kalau rodanya satu, jadinya sepeda sirkus. Kalau rodanya sepuluh, jadinya truk tronton. Namanya adalah: Gerobak makanya rodanya empat. Memang ada yang beroda tiga, atau bahkan cuma dua. Tapi Gerobak ini memiliki empat roda.

Baginya, roda tak hanya berfungsi sebagai penggerak. Sebagai kaki. Sebagai alat melangkah dan berpindah. Sebagai penopang badan yang telah berat oleh perangkat barang dagangan. Roda gerobak adalah telinga. Roda Gerobak adalah mata. Apalagi, bagi gerobak-gerobak yang kelak berdiam di satu tempat, bekerja sama dengan tenda jingga ataupun biru muda, yang menjadi payungnya.

Empat mata, empat telinga, sudah lebih dari cukup.

Roda gerobak adalah saksi dengar gunjingan orang-orang. Saksi mata bagi setiap konflik yang terjadi antara satu tetangga dengan tetangga lainnya. Bahkan, jadi saksi dengar dan saksi mata, atas peristiwa yang berganti-ganti, berulang-ulang, dan berkala.

Sampai akhirnya, gerobak bosan, melihat senyum palsu pengunjungnya. Gerobak muak, mendengar kasak-kusuk omongan di belakang, yang tetiba berubah 180 derajat saat bertemu dengan omongan lainnya.

"Manusia nggak bisa dipercaya," ujar Gerobak dalam hati.

Tapi, Gerobak memang serba salah. Dia ingin buta dan ingin tuli, tapi pasti kelak dia tak bisa berjalan. Dia tak bisa melangkah. Tak bisa membantu majikannya untuk mencari sesuap nasi. Lalu, dalam benaknya, sang majikan tercinta akan kelaparan, tak bisa membiayai sekolah putra-putrinya, bahkan akan membiarkan mereka menderita.

Karena, mata dan telinganya, adalah kakinya.

Lalu bagaimana?

Gerobak hanya bisa menjadi gerobak pada umumnya. Berjalan banyak. Mendengar banyak. Melihat banyak. Tanpa berkata, mengeluh atau membantah, barang satu kata pun.

Lantas, Gerobak pura-pura tidak tahu, kalau si A adalah penggunjing, atau si B merupakan hidung belang, atau si C sering bersedih di hadapannya.

Gerobak pun otomatis menjadi apatis

"Manusia nggak bisa dipercaya," batinnya kembali mengeluh. Mengeluh hal yang sama.

Ya, memang. Manusia tak bisa dipercaya, Gerobak!

nb: tulisan ini diciptakan setelah mengunjungi seonggok Gerobak Sate Padang, depan kantor, sembari membicarakan satu dan dua hal bersama seorang kerabat. Maaf ya, Gerobak, menambah-nambah beban hatimu. 

-penceritahujan-

Kamis, 17 Januari 2013

Hari ke-16: Tentang Petir

Jakarta, 17 Januari 2013,

Seorang anak perempuan berlari, menutup sepasang telinganya dengan kedua tangan kecilnya. Suara menggelegar itu bahkan bisa menembus kulit dan tulang belulang sang anak tadi, tetap membandel menembus hingga ke gendang telinga, meskipun terdengar agak samar. "Mama, aku takut!" ujarnya merengek.

Nama si pencipta suara bandel nan berisik ini adalah: Petir.

Karakternya sederhana saja. Petir cuma anak lincah yang senang bernyanyi, meskipun suaranya sumbang bukan main. Bahkan, terkesan parau. Serak-serak basah.

Petir merupakan salah satu anak Keluarga Kumulonimbus, keluarga akumulasi awan dan hujan yang konon lahir dari ketidakstabilan atmosfer. Tak heran, bila terkadang, Petir sering emosional. Bukannya pemarah, sih, tapi Petir hanya sulit mengendalikan diri, ketika bermain ke bumi, ketika tengah bergembira dan saat sedang bernyanyi.

Suaranya kencang nan nyaring, memekakkan telinga manusia.Sering pula, ia adu lari dengan sesamanya. Saking cepatnya, Petir sulit mengerem pergerakannya sendiri, mengeluarkan cahaya, dan bisa membentur bumi dengan hebatnya.

Padahal Petir datang, cuma ingin bersenandung hujan.

Sayangnya, kata "merdu" yang ada di pikirannya, jauh berbeda dengan "merdu" dalam telinga manusia.

Petir pun jadi sosok yang ditakuti, dijauhi, dihindari, disegani. Bahkan, dalam beberapa mitologi, petir seringkali menjadi senjata para dewa tertinggi, seperti Dewa Zeus dalam Mitologi Yunani, Thor dalam kisah Nordik dan Seth pada legenda Mesir.

By the way, seperti apa bentuk tubuh petir yang sebenarnya? Karena selama ini, petir hanya berlindung di balik jubah cahayanya, yang tercipta dari kecepatan adu lari dia ke muka bumi.

Petir itu, ibarat anak mau merantau ke dunia lain, lahir dari pelepasan muatan "pesan" berupa listrik dari Keluarga Kumulonimbus. Seluruh ruas tubuhnya mengandung daya elektrik yang besar. Tak heran bila kastanya pun dianggap tinggi, melebihi hujan ataupun pelangi.

Dan tak heran, bila petir - seperti yang sudah saya bilang - disegani, ditakuti, dihindari.

"Tapi kan saya cuma ingin bermain," ujar Petir sembari lemas.

Lalu, hujan pun mulai menyurut, dan Petir berjalan gontai, tanpa bersenandung satu lirik pun. Petir tengah bersedih. Semua orang menutup telinga saat dia sedang mengadakan konser tunggal di seluruh dunia. Suaranya memang semenakutkan itu. Seberisik itukah? Pikirnya.

Otomatis, Petir kecewa level lima.

Lalu, Petir beranjak pulang ke peraduannya, dijemput oleh Gerimis dan samar-samar matahari hangat yang menyapanya.

Petir masih sangat kecewa. Ya. Level lima.

Jangan sedih, Petir! Kamu masih punya konser Metal yang mau menampung suara serakmu itu. Tetap bernyanyi ya! Itu tandanya, dunia masih ada. Bumi masih bernyawa. Semesta masih menunjukkan eksistensinya. 

:) 

#nowplaying Suara Petir di Lantai Lima

-penceritahujan-

Hari ke-15: Playlist Pelipur Lara

Jakarta, 17 Januari 2013,

Seperti hari-hari sebelumnya, saya terbangun tepat pukul 8 pagi. Jam yang cukup santai, mengingat hari ini saya tak berkutat dengan deadline ataupun pekerjaan baru. Lagipula, tempat kost saya cukup dekat dengan kantor, hanya tinggal salto selama 5 menit (nggak salto juga sih ya). Istilah Sundanya: tinggal ngagorolong.

As usual, layaknya manusia urban masa kini, yang saya cari kali pertama membuka mata adalah handphone. Gunanya, tentu untuk mengecek pesan masuk, serta akun jejaring sosial tercinta.

Banjir menjadi trending topic di mana-mana. Status BBM, update grup, sampai foto-foto di jejaring sosial dan blog, menghampiri mata saya pagi ini. Sedih sih sebenarnya.

Dan alhasil, hujan jadi kambing hitam, yang dipersalahkan.

Mendadak bingung, kenapa hujan harus dipersalahkan? Hujan itu anugerah, asal manusia nggak menutupi tanah dan alamNya dengan sampah, semen, aspal dan jalan raya.

Anyway, ngomongin banjir sih nggak akan ada habisnya. Yang pasti, saya nggak setuju kalau banjir di ibukota disebut sebagai bencana alam. Karena, sebagian besar andil manusia - termasuk di dalamnya, tangan saya - berada di balik semua itu.

Di balik kesedihan, pelipur lara itu selalu ada. Saya ingin berbagi beberapa tajuk lagu, yang siapa tahu bisa menjadi penghibur hati mereka-mereka yang terjebak banjir.

1. Efek Rumah Kaca - Hujan Jangan Marah




Kali pertama kata "banjir" berkumandang di dunia jemaah Twitter, lagu ini langsung terngiang-ngiang di telinga saya, walau konon, filosofi di dalam lagu tersebut bukanlah mengenai banjir, melainkan berkisah tentang musim kemarau berkepanjangan.


Well, Efek Rumah Kaca memang juaranya menyusun rangkaian kata menjadi lirik-lirik lagu berkualitas penuh analogi. Bermakna ambigu. Membuat otak pendengarnya harus berpikir dulu untuk mengerti arti lagu tersebut, sama seperti lirik pintar yang dimiliki oleh SORE, salah satu band tanah air yang sangat saya sukai pula.


Reff lagu ini begitu catchy dan menusuk hati:
Hujan, hujan, jangan marah!

Dalam situasi banjir seperti ini, bukan hujan yang salah. Mungkin, manusia yang kurang bersyukur dengan semua yang ada di alam, sehingga menutupi tanah dengan pembangunan komersil milik makhluk penghuni bumi ini. Mengotorinya dengan sampah-sampah plastik, karena memang dasarnya nggak cinta sama sekali.

Hujan pun jadi makhluk terkutuk.

Tapi, kelak, di saat kemarau tiba, hujan pun menjadi makhluk yang dinanti-nanti. Tapi, apa kabarnya bila hujan terlanjur marah, akibat dihina-hina saat banjir tiba? Selalu jadi kambing hitam. Mungkin, hujan enggan mampir lagi ke bumi.

Jangan marah lagi yah.


2. Coldplay - Don't Panic



Nggak ada yang menyangkal kecanggihan Coldplay dalam bermusik, apalagi mengingat konsernya yang selalu berhasil menggaet tempat dalam memori penontonnya. Grup musik asal Britania Raya ini selalu menyuguhkan nada-nada serta lirik lagu yang mudah ditangkap telinga.

Salah satu lagu menakjubkan berlirik sederhana yang saya sukai, berjudul: Don't Panic. 

Mungkin, hal ini lah yang harus kita lakukan ketika menghadapi bencana banjir seperti ini. Tetap tenang, please don't be panic, dan jangan sampai bersumpah serapah tentang bumi yang sebegini indahnya.


We live in a beautiful world, yeah we do, yeah we do!
We live in a beautiful world.
Oh, all that I know, there's nothing here to run from,
And there, everybody here's got somebody to lean on.

Tetap bersyukur ya, vren!

3. The Beach Boys - Don't Worry Baby


Mungkin, anak zaman sekarang nggak terlalu mengenal nama grup musik favorit saya ini. Nggak heran sih, The Beach Boys memang hype pada masanya, di tahun 1960an, di saat fashion Mods dan model Twiggy sangat booming kala itu. 

The Beach Boys merupakan salah satu grup musik asal Amerika, yang sering disebut-sebut sebagai kompetitor band legendaris dunia, The Beatles. Anyway, meskipun memang kalah tenar, tapi ternyata lagu-lagunya cukup akrab di telinga kita kok. Why oh why? Soalnya, banyak film asing yang menggunakan hasil karya The Beach Boys sebagai original soundtrack. Salah satunya adalah Love Actually dan Lion King

Satu lagu pelipur lara dari The Beach Boys, yang menurut saya wajib didengarkan, berjudul: Don't Worry Baby. 

But she looks in my eyes
And makes me realize

And she says don't worry baby
Don't worry baby
Don't worry baby
Everything will turn out alright!

Adem banget! 

4. Naif - Tersenyumlah


Wohoo! Satu grup band kesukaan saya yang merupakan jebolan Institut Kesenian Jakarta, adalah NAIF. Lagu-lagu bertemakan tahun lawas menjadi konsep musik easy listening yang mereka hadirkan. David, Jarwo, Pepeng dan Emil merupakan salah satu band legendaris yang nggak pernah ada matinya, menurut saya. 

Musik yang enak menjalar di gendang telinga, berpadu dengan lirik-lirik sederhana yang jauh dari kata picisan. Mengingatkan saya, saat saya terakhir menonton mereka di Plaza Festival Kuningan, Jakarta, dalam acara Radioshow, yang kini entah masih ada atau sudah raib. 

Nah, lagu pelipur lara berikut memang selalu berhasil membuat saya tersenyum, dan semoga bisa menjadi penghibur hati bagi teman-teman lainnya juga.

Walau kau bersedih, janganlah menangis, oh sayangku,
Tersenyumlah meski kau terluka,
Kutahu kau sedih, janganlah berlarut, oh sayangku
Tersenyumlah dunia kan bersinar!

Mari tersenyum, yuk! 

5. Swan Dive - For Automatically Sunshine


Lagu penghujung dari playlist pelipur lara ini selalu berhasil mencerahkan hati, entah kenapa. Irama ringan, ceria dan bossanova ala duo musisi asal Benua Amerika ini memang mendatangkan "matahari" dalam keadaan apapun juga. 

Dari pertama saya mendengarnya, lagu ini sudah bersandang apik di memori saya, sebagai lagu pelipur lara yang super-sukses. Semoga nada-nada penerbit "matahari" dari Bill Demain dan Molly Felder ini bisa menghibur hati, utamanya setelah musibah datang bertubi-tubi. 

Opened up my eyes and there in front of me,
much to my surprise and unexpectedly,
I was turning a corner,
when my whole life turned around,
 when I saw you, it was instant,
it was magic, it was automatically sunshine!

Hmmm, semoga "matahari" segera terbit walaupun musibah menghampiri. 

-----------------------

Sekian, beberapa playlist pelipur lara dari saya, semoga bisa menyembuhkan hati bagi setiap yang membacanya, dalam musibah apapun atau kesedihan apapun.

Yang terpenting: semoga selalu bahagia!

Dan, jangan lupa untuk selalu bersyukur. Owk?

;)

-penceritahujan-

Rabu, 16 Januari 2013

Hari ke-14: Tentang Lokalitas

Jakarta, 16 Januari 2013,

Banyak hal menyenangkan yang saya dapat dari profesi saya, yang mungkin terbilang jauh dari jurusan perkuliahan saya. Yap, menjadi jurnalis itu seru! Meskipun rasa lelah memang berganda, tapi kepuasan dan pengalaman selalu menjadi hal-hal baru yang mendominasi kehidupan saya, semenjak tahun 2010. 

Bertemu dengan orang-orang baru, menggali wawasan, dan pastinya, nggak cuma jadi robot yang bergerak atas perintah otak. Dan, lucunya, kejadian-kejadian ini nggak hanya berguna untuk pekerjaan saya saja, banyak cerita dan pesan yang bisa saya dapat dari setiap ajang peliputan. 

Salah satu kisah menyenangkan terjadi hari ini, ketika saya menghadiri acara yang diselenggarakan oleh sebuah produk cat tanah air. Bersama beberapa orang hebat - arsitek, desainer interior, developer dan fotografer - mereka berbincang hangat demi mendapatkan palet-palet warna yang tepat untuk koleksi produk tersebut. 

Sebenarnya sih itu cuma prolog. Yang ingin saya ceritakan di sini, adalah bagaimana seorang arsitek ternama asal Bali, Popo Danes, mengangkat satu tema yang terngiang hingga detik ini: lokalitas. 

"Lokalitas itu penting, karena itu adalah kekayaan bangsa Indonesia," ujar Pak Popo, kala mengisi perbincangan hangat kami. 

Mungkin, obrolan itu sedikit terasa "jleb", karena nyatanya, saya masih menyukai banyak musik asing dibanding nada-nada tradisional. Dan, saya belum sama sekali mengeksplorasi Nusantara, meskipun suatu ketika, ada niatan saya untuk menjelajah sudut-sudut tanah air, dan melihatnya dari sisi lain. Bahkan, saya juga belum mengenal arsitektur Nusantara secara menyeluruh. 

Warga lokal macam apa coba, saya?

But anyway, demi menebus dosa sebagai warga lokal yang nggak baik, saya ingin sedikit mengupas cerita mengenai lokalitas, yang nggak usah jauh-jauh tentang kesukaan bermusik, berbicara ataupun berpakaian. Lokalitas berperilaku saja sudah mulai hilang, khususnya di ibukota seperti Jakarta. 

Hari ini, ada satu hal yang membuat saya mengambil asumsi tersebut. Sepulang dari acara tersebut, saya melewati bilangan Kebayoran Lama, untuk menembus jalan menuju kantor. Di sana, saya melihat seorang pria dengan wajah bersimbah darah, menduduki motornya. Mungkin, dia sehabis mengalami kecelakaan. 

Kecelakaan merupakan salah satu hal yang mungkin terjadi di jalan raya. Nggak terlalu aneh juga, memang. 

Tapi, yang membuat saya bertanya-tanya, adalah ketika terdapat sebuah mobil - bukan mobil yang bermasalah - akan beranjak meninggalkan tempat parkir, yang berada dekat dengan lokasi kejadian, lalu mobil tersebut malah diteriaki dengan kasar, "Buruan woy!"

Seingat saya, bahkan, mobil tersebut dimaki-maki dengan suara serak yang agak mengesalkan. Asa teu kudu jojorowokan oge sih broh, maneh rocker kitu? Demikian batin saya berkata.

Rasa-rasanya, kosa kata budaya yang pernah saya lihat di buku cetak PPKN masa lampau bukanlah budaya teriak-teriak. Para petinggi Indonesia masa lalu sudah merumuskan "sopan santun" sebagai salah satu budaya Nusantara yang harus dibina, di setiap suku bangsa, tak hanya di Pulau Jawa saja. 

Namun, tahu sendiri lah ya, mungkin "sopan santun" sekarang cuma tinggal diksi. Cuma tinggal istilah yang masuk telinga kiri, lalu menguap di telinga kanan. Nggak menyerap ke hati. 

Mungkin cuma mengendap di buku pelajaran. Cuma berkubang di soal ujian. Lalu, kesananya, "sopan santun" memang hanya berbekas nama. 

Menyerobot antrian, berteriak-teriak dengan penuh emosi, dan nggak mau tenggang rasa, menyalahi PPKN banget nggak sih?

Mungkin, ada yang berkata: peraturan ada untuk dilanggar. 

Tapi, bagaimana dengan budaya? Apakah dibuat untuk dilupakan? Dibuat untuk cuma menjadi cerita? Legenda?

Lokalitas sudah nyaris mati, semati nurani orang-orang di jalanan, yang hanya tahu kalimat makian penuh emosi. 

Jakarta itu keras, Bung! 

Yes, agree! Tapi bukan berarti kalau keras, harus meninggalkan identitas juga bukan? 

Rasanya, menghargai lokalitas bisa dimulai dengan cara sederhana: kembali melokalkan perilaku diri sendiri dahulu, deh! 

Dan rasanya, sudah saatnya membaca buku PPKN kembali.

Yuk mari!

-penceritahujan-

Selasa, 15 Januari 2013

Hari ke-13: Kata Orang ini Namanya "..."

Jakarta, 15 Januari 2013,

"Kenapa titiknya ada enam?"

"Soalnya kangennya berlipatganda,"

"Nggak bisa, kalau enam itu berlebihan, dua itu kekurangan. Rindu itu secukupnya aja, sesuai kadarnya, tiga titik, atau tidak sama sekali."

--------------------

Saya pernah mengalami semacam perasaan tak terdefinisi, utamanya akhir-akhir ini. Rasanya seperti apa? Seperti menyantap kuah soto yang telah dicampur beragam racikan lucu-lucuan dengan rasa muntahan. Seperti merasakan adonan asam-manis-asin-pahit dalam sebuah bongkahan kue. Seperti padanan antara ingin buang air, berada di tengah deadline sembari menemukan uang ratusan ribu di lipatan saku.

Random. Acak. Bingung menjelaskannya dalam satu kata.

Ya, itu tadi, tidak terdefinisi.

Lalu, rasa tak terdefinisi tersebut menjejali otak, menjangkiti seluruh pelosok tubuh, semua panca indra. Suara memorabilia dalam gendang telinga, tayangan salindia di depan pupil mata, hingga aroma berbau kenangan.

Layaknya virus, menggerogoti daya tahan tubuh dengan jahat dan tanpa ampun.
Bisa juga diibaratkan dengan gosip. Kasak-kusuk berita rasa ini bisa tersebar dengan cepat nan dahsyat.

Hanya lucunya, rasa tak terdefinisi ini menghasilkan adiksi tersendiri. Nagih. Seperti mushroom yang membuat senyum-senyum. Atau gulali yang membuat malu-malu.

Banyak orang menamainya: RINDU.

Tapi, saya lebih senang menyebutnya dengan kode tertentu: tanda titik tiga kali. Yang artinya: tak terdefinisi.

--------------------

"Lalu, kalau perasaannya menggebu-gebu gimana? Titiknya nggak boleh digandakan menjadi enam buah ya? Kodenya gimana dong?"

"Kalau menggebu-gebu, nggak perlu dilafalkan. Cukup rasakan dengan hati, itu saja..."

"Oke..."

"Oke..."

"..."

"..."

#nowplaying Coldplay - Warning Sign

:)

-penceritahujan-

Hari ke-2: Objek Investigasi Sejak Juli

Prolog:
Tema paling membingungkan sepanjang masa, karena sejujurnya saja, saya nggak pernah punya selebtwit idaman yang ingin saya kirimkan surat cinta. Saya bukan orang yang terlampau senang memantau lajur linimasa sosok-sosok yang banyak disapa selebtwit ini, tanpa saya tahu definisi sesungguhnya apa.

Anyway, kategori selebtwit itu sendiri mungkin sudah menjadi saru. Samar. Abu-abu. Apakah followers-nya harus melebihi 1000? Atau 2000? Atau menembus angka ratusan ribu? Ataukah harus melulu membahas diksi seputar romansa?

Na-ah! Not like that, I think. Nggak sedangkal itu pasti.

Nggak apa-apa kan kalau saya mengirim ke seseorang mengagumkan, yang bergerak di balik layar program menakjubkan kolaborasi antara dunia nyata dan jejaring internet, bertajuk @cardtopost ? Seperti Peter Parker yang berlindung dalam wujud topeng Spiderman. Yippie! Beliau adalah Kiram @terlalurisky.

And here is the letter...

-----------------------------


Jakarta, 15 Januari 2013,


Nggak perlu basa-basi "apakabar" berlebihan lah ya, kita terakhir bertemu muka di sebuah Jumat, sehabis hujan menghampiri Jalan Panjang 8A. Perpisahan Sang Publisher - Ko Hen - dan entah kenapa merupakan perpisahan dengan beberapa orang yang akan beranjak keluar dari grup media tersebut, yang ternyata salah satunya adalah kamu.

Kelahiran calon-jeda tersebut membuat saya mulai mengingat-ingat lagi, kali pertama saya mengintip linimasa @terlalurisky , yang namanya memang sering muncul dalam halaman linimasa Twitter saya. Entah darimana, namanya super familiar.

Yes. Itu kan nama kamu.

Dan, alhasil, saya yang memang berprofesi sebagai penguntit paruh waktu, mulai menyusuri asal muasal nama @terlalurisky yang telah saya saksikan dari setahun lalu. Juli menjadi bulan stalking mendalam saya terhadap blog @terlalurisky ini.

Satu yang membuat saya super tercengang adalah tulisan luar biasa, dengan selalu menggunakan diksi-diksi yang entah kenapa menggerus hati. Salah satunya adalah posting berjudul "Getting Far For Another Reason" dan kamu membagikan mixtape bertajuk sama, pun berhasil mencampur-adukkan rasa hati yang tengah berantakan.

Salah satu rangkaian kalimat yang entah kenapa terekam jelas dalam pojok memori saya:

"Kita baru tahu persis apa arti pulang setelah kita tahu juga artinya pergi"

Jleb. Speechless

Tak heran bila setelah itu, saya menjadi penikmat tulisan-tulisan kamu, mulai dari posting seputar Card To Post, hingga cerita tentang kamu yang sengaja tersasar di entah berantah, jaman dahulu kala. Bahkan, kamu menempati posisi penting dalam pekerjaan saya, karena tulisan-tulisan kamu sering membuka otak saya yang sedang terhimpit kata "deadline". 

Dan, lucunya lagi, Tuhan pernah mempertemukan saya dan kamu dalam persegi berdimensi sebuah kantor media. Bukan sekadar pernah, malah. Satu kali, dua kali, atau bahkan berkali-kali. Ya, kita pernah berpapasan berkali-kali, tanpa saya tahu, bahwa kamu adalah sosok @terlalurisky, yang sering saya intip linimasanya, yang sering saya resapi tulisannya. 

Ternyata, kita selalu berada dalam gedung yang sama. 

Dunia itu sempit, ataukah Tuhan yang selalu baik? Menghubungkan makhlukNya satu sama lain, dalam rangkaian benang kusut yang saling berkaitan. 

Lucu ya?

Anyway, semoga senang berada di kantor baru, tetap menjadi seorang Peter Parker pemalu yang berlindung di balik topeng Spiderman. 

:) 

Thanks for the inspiration, Kiram! 

-penceritahujan-

ps: maaf masih ngutang @30HariBercerita | dan buat pacarnya Kiram, maaf yaa pacarnya dikirim-kirimin surat ;) just for fun, sungguh! 

Senin, 14 Januari 2013

Hari ke-12: Kita itu Aneh

Jakarta, 14 Januari 2013,

Kita itu aneh.

Saya penyuka hujan dan kamu pecinta gerimis, jauh sebelum para pengusung aliran hujan berkoar di muka bumi. Lantas kita berdansa asal suka di bawahnya, menebak-nebak berapa jumlah katak yang mungkin sedang bersenandung bersama. Lalu menikmati secangkir kopi hangat yang dibeli dari kedai setempat. Tanpa menggerutu karena sepatu kebasahan. Tanpa mengeluh akibat flu merasa terundang.

Kita itu aneh.

Saya pecinta tanda dan kamu penyuka semiotika. Atau mungkin, kita ini hanya korban-korban film romansa yang tak mengumbar logika. Pencari jalan angin, lalu mengikuti arahnya sesuai hembusan. Pasrah, mungkin itu namanya.

Kita itu aneh.

Saya penyuka aroma cat semprot, dan kamu pecinta harum ketiak. Sama-sama berbau tak sedap. Mungkin malah merusak paru-paru dan berakibat buruk pada kesehatan. Bisa berakibat fatal. Tapi kita sama-sama tak bisa lepas dari kebiasaan bodoh itu.

Kita itu aneh.

Saya takut dengan kupu-kupu, namun kamu membenci kelinci. Sedangkan kamu pengusung teori butterfly in tummy dan saya pengadaptasi wajah bugs bunny. Tapi anehnya, saya dan kamu bisa bersatu dalam sebuah perbincangan hebat, yang hanya berkisah tentang perjalanan kupu-kupu dan seekor kelinci.

Kita itu aneh.

Atau mungkin, kita hanya menyangka diri kita seaneh itu. Padahal mungkin, kadar keanehan kita tak sedalam itu. Mungkin dangkal, hanya berada dalam tahapan kelas teri. Kelas tempe.

Dan kita berdua adalah makhluk-makhluk bodoh yang ingin berbeda di antara persamaan, dan sama di antara perbedaan.

Hipster? 

Semacam, mungkin.

Saya hanya menyangka diri saya memang seaneh itu, karena hingga detik ini tak mampu menyingkirkan kisah keanehanmu dari kotak pandora bernama memori.

Untuk apa saya masih berdiri di tempat? Untuk semua keanehan yang sudah kamu ciptakan? Atau tanda aneh yang Tuhan berikan? 

Dalam kasus ini, aneh dan bodoh memiliki perbedaan yang tipis. Kurang dari 1 mm, mungkin.

Lantas, ketika saya masih berada di hati yang sama, apakah saya aneh? Ataukah bodoh? Ataukah aneh? Ataukah bodoh?

Ataukah, aneh dan bodoh?

-penceritahujan-

Hari ke-1: Halló Hjarta

Jakarta, 14 Januari 2013,

Halo, Anda. Apakabarnya? 

Saya tahu, Anda tidak sedang baik-baik saja. Karena jawaban "baik-baik saja" adalah sebuah jawaban autotext yang mungkin tampil dalam layar blackberry atau perangkat sok tahu ala Microsoft Word. 

Karena itu, "baik-baik saja" bukan sebuah jawaban.

Saya masih ingat, suatu ketika Anda berkata, "Saya ingin mengisi tubuh saya dengan hal-hal bahagia di 2013 ini". Apakah Anda masih menyimpan memori Anda yang satu itu? 

Karena pada buktinya, Anda masih tetap menjadi seonggok gelas kosong yang terbuat dari bahan plastik. Tidak mudah pecah, memang, tapi mudah goyah. Mudah tertiup angin, bahkan mudah hilang arah. 

Anda masih tetap menjadi PC tanpa antivirus. Mudah ditembus Trojan atau bahkan virus-virus murah yang membuat inti Anda semakin berat. Nggak bisa move on, kalau kata anak zaman sekarang. 

Ataukah, saking hampanya, Anda mudah dirasuki oleh bisikan-bisikan negatif, yang juga membuai Anda untuk mengkhianati diri Anda sendiri. Membohongi diri Anda sendiri, dengan teganya. Dengan jahatnya. 

Jadi, berhenti berkata bahwa Anda baik-baik saja.

Karena saya tahu, Anda tengah cedera. 

Hjarta = "Heart" on Icelandic words.

-penceritahujan-

Sabtu, 12 Januari 2013

Hari ke-11:Telefonapparat

Bandung, 13 Januari 2013,

Telepon, handphone, lalu beranjak menuju smartphone. Mungkin sebentar lagi beranjak menjadi super-smartphone. Seiring perkembangan zaman, teknologi komunikasi memang seakan tak ada batasnya. Pada masa lalu, mendengarkan suara, bahkan muka, dalam jarak yang sangat jauh, menjadi sebuah ketidakmungkinan. Kini, bahkan jarak sejauh bermil-mil pun tak terasa karena adanya skype, webcam dan sebagainya.

Sampai detik ini, smartphone pada umumnya hanya bertugas menyampaikan sesuatu yang bersifat nyata. Kehadiran fisiknya dapat terasa di indera pendengaran dan penglihatan manusia.

Lalu, muncul di benak saya, akankah sebuah super-smartphone lebih dari sekadar smart? Lebih dari penyampai suara dan gambar? Lebih dari penunjang jejaring sosial serta bukti eksistensi diri dalam dunia maya?

Apa kabarnya dengan hati dan perasaan ya? Akankah bisa tersampaikan pula?

Akankah suatu ketika, saking pintarnya, teknologi komunikasi memiliki aplikasi sebagai kurir hati, sesuatu barang maya yang tidak terdefinisi keberadaannya?

Akankah suatu ketika, saking pintarnya, teknologi komunikasi bisa menyampaikan pesan perasaan, yang tak sanggup dikatakan akibat lidah kelu dan tenggorokan seakan tercekat, bahkan jari-jari pengetik serasa terikat?

Ataukah suatu ketika, saking pintarnya, teknologi komunikasi bahkan menjadi teman berbagi, pelampiasan bercerita kala sang rasa tak kunjung sampai ke objek tujuannya?

Akankah khayalan seseorang untuk mengucap kata rindu bisa terkirim, tanpa akhirnya harus berubah lafal karena tak punya nyali, jadi hanya berbuah kalimat:
 "Hai, apakabar? Nggak apa-apa, nelepon aja. Ya sudah ya, bye! Take care!"

Well anyway, itu cuma khayalan saja. Bahkan saya berdoa, semoga manusia tak sepintar, tak secanggih itu, sampai bisa menciptakan perangkat yang bisa menjadi kurir hati.

Lebih baik, sebuah bahasa "abstrak" ini memaksa manusia untuk menerka-nerka, belajar semiotika dan bermain-main interpretasi tanda. Bagi saya, sesuatu yang implisit lebih seru dan menyenangkan dari hal-hal eksplisit.

Karena pada kenyataannya, nggak semua perasaan harus tersampaikan, nggak semua cerita harus terlontarkan, nggak semua rindu harus dilafalkan. 

:)

#np Mocca - This Conversation
 
-penceritahujan-

Hari ke-10: Fjölskylda | Familie | Kulawarga

Bandung, 13 Januari 2013,


ke·lu·ar·ga n 1 ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah: seluruh -- 2 orang seisi rumah yg menjadi tanggungan; batih: 3 (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat:  4 satuan kekerabatan yg sangat mendasar dl masyarakat; (sumber: KBBI)

Bagi manusia, keluarga mungkin berarti sebagai sekelompok orang yang memiliki kandungan darah sama, atau terikat karena hubungan-hubungan tertentu yang diresmikan oleh KUA. Ayah, ibu, anak, sepupu, oom, tante, bibi, paman, eyang, nenek, kakek, cucu, cicit, dan sebagainya.

Namun, seberapa "keluarga" kah sebuah ikatan keluarga, sebenarnya?

Apakah ikatan ini hanya berlaku ketika acara kelahiran, pernikahan, kematian dan pembagian warisan? Apakah label ini penting, saat kenyamanan relasi hanya sebuah wacana? Saat kasak-kusuk gunjingan antar satu sama lain masih kental terasa? Saat eksistensi senyum hanya datang karena terpaksa? Saat 'eh si ini kan gitu', atau 'si itu kan gini', masih mendominasi perbincangan di belakang ranah diksi "keluarga"?

Memang, definisi dibuat hanya berdasarkan teori. Dan teori, akan sekadar menjadi kalimat yang dihapal, dilafalkan, tapi tidak dilakukan. Menguap sia-sia di telinga.

Lantas apa gunanya keluarga kalau malah jadinya memecah belah, seperti kehidupan di sinetron dan opera sabun? Dangkal. Receh. Picisan. Murah. Name would just gonna be a name, that's all.

Semoga kelak, definisi "keluarga" segera diganti dalam kamus pikiran manusia, menjadi:

Keluarga adalah satuan kekerabatan masyarakat yang tak hanya memiliki ikatan darah dan terkait oleh status pernikahan, tetapi juga memiliki hubungan hati

Kenapa?

Karena rasanya, nggak mungkin seorang manusia ingin menyakiti hatinya sendiri bukan?

Harta yang paling berharga, adalah keluarga, demikian penuturan dalam lirik lagu pembuka "Keluarga Cemara" - film seri Indonesia tahun 1990an yang mengusung tema keluarga. Dan, saya yakin, ranah "keluarga" yang dimaksud di sini adalah ikatan yang menggunakan hati, bukan hanya terjadi karena hubungan darah semata. 

Sederhana.

Anyway, I miss my family.
 
 -penceritahujan-

Rabu, 09 Januari 2013

Hari ke-9: Elegi Senyum Persegi

Jakarta, 9 Januari 2013,

Hari ke-8

D...
1...
2...
3...
4...

Tring!

Sudah lantai 5. Kaki terpaksa harus bergerak dari lantai persegi 1x1 meter itu. Senyum tertunda, tertelan bersamaan dengan para saliva yang memasuki ruang kerongkongan, dan oksigen yang merasuki tenggorokan. Apalagi kalimat sapa. Nyalinya cuma wacana.

Senyuman bulan sabit saya dibawa pergi, ke lantai di atas lantai 5. Tentunya. Entah lantai berapa.

Bodoh! 

Hari ke-37

Tring!

Ini lantai 5. Saya ingin turun ke lantai dasar. Kantin, standar lah. Berdesakan orang di dalam sana, dan saya adalah sang "asing" seorang diri. Mereka berbincang dalam ranah pembicaraan yang mereka mengerti, dan seperti biasa, mengundang tanya bagi telinga saya, memaksa mata saya untuk mengintip wajah-wajah para sumber suara.

Ah! Dia! Si pembuat elegi!

5...
4...
3...
2...
1...

Tring!

Dan sang pembuat elegi turun di lantai satu. Bukan lantai dasar. Bukan kantin. Membuahkan pikiran di sudut otak saya: oh dia anak lantai satu. 

Setidaknya, kali ini ketidakhadiran senyuman memiliki satu alibi: susah, banyak orang.

Yayaya, fine! Affirmative!

Hari ke-51

Tring!

Ini lantai 2. Kaki saya seperti lemas untuk melangkah, masuk ke dalam katrol persegi berdimensi itu. Maklum, baru membakar lemak yang sudah tertimbun selama bulanan lamanya.

Malas melihat wajah penghuni lift, dan memilih untuk berbincang dengan para kaki mereka. Mengintip sepatu-sepatu yang digunakan orang-orang ini mengocek rasa senang sendiri, terutama bagi kepalaku yang enggan menonggak tegak.

2...
3...
4...
5...

Tring!

"Misi, Mas..." ujar saya dengan lemah.

"Oh iya."

Dan, pria berkaus hitam di depan saya itu bergeser, memberi ruang bagi saya untuk berjalan. Ternyata, dia adalah Sang Pembuat Elegi, yang selalu membawa pergi senyuman saya, yang selalu memaksa saya menelan kalimat sapa.

Larva dalam perut saya mulai bangkit dari metamorfosisnya. Mengembangkan sayap barunya dan membuat perut terasa panas. Sial, rasanya mau muntah! 

Kembali, senyum bulan sabit terlewatkan lagi. Diksi "halo" tertelan lagi.

Tapi, tetap, senyuman punya alibi untuk tidak mampir kali ini: lagi lemas!

Senyuman bodoh!

Hari ke-88

Ingat persegi bodoh itu membuat hati saya menciut. Menggantungkan harapan pada sebuah katrol penyempit jarak ergonomis memang menyebalkan.

Memaksa saya untuk menunduk, setiap memasuki lift. Menunduk. Menunduk. Menunduk.

Dan, hanya melihat ke arah lantai persegi.

Tring!

5...
4...
3...
2...
1...
D...

Dan, dengan bodohnya, ponsel saya jatuh. Sama seperti harapan saya untuk memunculkan Sang Senyum kembali, sebagai hasil elegi persegi.

Ponsel berbunyi.

Where do we go to draw the line 
I've gotta say I've wasted all your time, honey honey 
Where do I go to fall from grace 
God put a smile upon your face, yeah 


"Suka Coldplay juga?"

Ah!
Ah!
Ah!

Sang Pembuat Elegi!

"Duluan ya!"

Sang Pembuat Elegi beranjak pergi dengan merebut senyuman pertama terlebih dahulu. Saya kalah. Telak. Dengan ternganga, terbisu dan tersipu.

Bodoh! 

Selama ini, ternyata Senyum bukan hilang ditelan awan. Dia hanya tersimpan di permukaan persegi berdimensi, lalu menguap memasuki saat yang tepat dengan soundtrack yang tepat pula.

God put a smile upon your face. 

:)

#nowplaying Coldplay - God Put a Smile Upon Your Face

-penceritahujan-